Sejumlah taman di Kota Surabaya dilaporkan mengalami kerusakan usai gelaran Surabaya Vaganza 2026. Video kerusakan tersebut viral di media sosial, memperlihatkan penonton menginjak area rumput saat acara berlangsung pada Sabtu (16/3/2026) malam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M Fikser membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut terdapat 10 titik taman yang mengalami kerusakan akibat diinjak penonton.
"Ada 10 titik taman ya. Lokasi tersebut memang dilalui jalur Surabaya Vaganza. Tapi taman rusak itu tidak rusak semua, ada sebagian, karena memang antusias masyarakat kan cukup tinggi," jelasnya ketika dikonfirmasi oleh detikJatim pada Minggu (17/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fikser menjelaskan kerusakan pada area rumput taman. Namun pihak DLH telah melakukan pembersihan sejak acara selesai digelar.
"Lalu tadi pagi sampai sore hari ini, alhamdulillah 10 titik lokasi itu sudah diperbaiki semua oleh teman-teman Satgas Taman ya," tambahnya
Adapun taman yang mengalami kerusakan paling parah berada di area dekat Alun-alun Surabaya. Fikser menyebut lokasi tersebut menjadi titik finish acara sehingga dipadati penonton.
Fikser mengatakan tingginya antusias penonton membuat banyak warga ingin menonton dari dekat. Padahal dari pihak DLH sendiri telah memasang tali pembatas di sejumlah area taman tersebut.
Meskipun demikian, kerusakan taman disebut tidak sepenuhnya parah. Beberapa titik taman juga memang sudah waktunya dilakukan pembenahan.
"Jadi ini kami tadi benahi semua, jadi kita sudah tanaman dengan jenis tanaman yang baru, yang bagus. Sekalian kita tata beberapa taman kita juga," jawabnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, DLH akan lebih menggencarkan sosialisasi terkait pentingnya menjaga taman kota. Selain itu, DLH juga akan mengevaluasi penggunaan pembatas taman agar tetap aman tanpa mengganggu mobilitas warga saat acara berlangsung
Fikser juga mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas publik karena merupakan milik bersama dan digunakan secara bersama-sama.
"Karena kalau semua diharapkan pemerintah untuk yang tegur, melarang, kita kan juga ada keterbatasan ya. Terus kalau kita memasang barrier yang lebih kuat, nanti juga justru di bawah itu warga ketika bergerak bisa saling kejepit," pungkasnya.
