RSUD dr Soetomo Buka Suara soal Hidran Tak Optimal Saat Kebakaran PPJT

RSUD dr Soetomo Buka Suara soal Hidran Tak Optimal Saat Kebakaran PPJT

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 15 Mei 2026 11:12 WIB
Kondisi kebakaran di RS Dr Soetomo Surabaya
Hidran yang dinilai petugas PMK tak optimal (Foto: Esti Widiyana/ detikjatim)
Surabaya -

RSUD dr Soetomo Surabaya buka suara terkait sorotan sistem hidran yang disebut tidak berfungsi optimal saat penanganan kebakaran di Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT), Jumat (15/5/2026).

Pihak rumah sakit memastikan, sistem penanganan kebakaran atau Code Red selama ini telah rutin disimulasikan sesuai standar akreditasi nasional maupun internasional.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD dr Soetomo, Prof Dr Ahmad Suryawan mengatakan, rumah sakit memiliki program hospital disaster terkait penanganan kebakaran dan kondisi darurat lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi, ada beberapa standar di akreditasi nasional maupun JCI ya, mengenai Code Red, Code White, Code Pink. Salah satu ini Code Red. Code Red itu adalah beberapa kejadian yang menyangkut api, dan itu harus tersimulasikan secara reguler, dalam skala yang kecil, modelit, dan besar seperti apa," kata Prof Wawan, sapaan akrabnya saat ditemui di RSUD dr Soetomo, Jumat (15/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, simulasi penanganan kebakaran tersebut telah dilakukan secara rutin oleh tim rumah sakit. Seluruh proses simulasi dan pengecekan fasilitas keselamatan juga disebut tercatat dalam logbook di masing-masing area.

"Kita punya satu hospital disaster program, mengenai Code Red ini. Jadi, simulasi itu sudah kita lakukan secara reguler. Nanti ada beberapa video-video simulasi yang mungkin bisa ketahui, nanti ada tim K3RS-nya yang (melakukan) pengecekan terakhir dan sebagainya," ujarnya.

"Di setiap wilayah-wilayah itu harus ada logbook-nya, harus ada tercatat," sambungnya.

Terkait pernyataan petugas pemadam kebakaran yang menyebut tekanan air hidran kurang optimal saat proses pemadaman, Prof Wawan mengakui hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi pihak rumah sakit.

"Mengenai hidran yang saya terima informasi ada di indoor maupun outdoor yang dijelaskan oleh Pak Duwika tadi, kemungkinan besar untuk tekanan bisa jadi (kurang). Tapi fungsi pasti akan masih berjalan," jelasnya.

Ia menegaskan, sistem hidran rumah sakit masih berfungsi, meski tekanan air yang diharapkan petugas pemadam kemungkinan belum maksimal untuk menjangkau lantai atas gedung.

"Kalau tekanan yang diharapkan oleh Damkar kurang, ini yang akan menjadi evaluasi bagi kami ke depan. Jadi, ini sesuatu yang bisa merekonstruksi daripada standar-standar kita, terutama di area-area. Kami akan ngecek di area-area yang lain, apakah sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak Damkar," tandasnya.

Sebelumnya, sebanyak 13 unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran di Gedung PPJT RSUD dr Soetomo. Petugas sempat mencoba menggunakan sistem hidran internal rumah sakit, namun tekanan air disebut tidak mencukupi untuk menjangkau area lantai atas.

"Kami tadi mencoba menggunakan hidran rumah sakit, tapi ternyata tekanan airnya tidak mencukupi untuk menjangkau lantai atas. Jadi kami menggunakan air dari 13 unit yang kami kerahkan," kata Ketua Tim Kerja Operasional Damkar Surabaya, Trianjaya.

Kebakaran di lantai 5 gedung PPJT tersebut menyebabkan puluhan pasien dievakuasi dari gedung PPJT. Ada dua orang menjadi korban, satu di antaranya dilaporkan meninggal dunia dan satu korban masih kritis di ICU.




(abq/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads