BETA UFO Indonesia, komunitas yang fokus mengamati, mendokumentasikan, menginvestigasi, hingga meneliti fenomena Unidentified Flying Object (UFO), menyebut ada sejumlah hal penting yang harus diperhatikan dalam menganalisis kemunculan benda asing di langit. Hal itu diperlukan untuk membedakan apakah objek yang terlihat merupakan drone, satelit, atau benar-benar UFO.
Ketua BETA UFO Indonesia Mohammad Reza Wardhana mengatakan laporan dugaan kemunculan UFO di kawasan Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya pada 2 Mei 2026 masih minim informasi. Menurutnya, analisis tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan video singkat tanpa detail tambahan.
"Kita tidak dapat laporan apakah cahaya itu berbelok atau bagaimana," ujar Reza saat dihubungi detikJatim, Rabu (13/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reza menjelaskan bahwa benda bercahaya itu adalah satelit maka gerakannya cenderung lurus dan dapat dilacak menggunakan aplikasi Stellarium. Sementara jika itu drone, biasanya terdengar suara baling-baling.
"Kalau yang di-share ini kan (dugaan kemunculan UFO di Genteng) enggak kedengaran suara baling-baling ya? Berarti bukan drone. Nah, problemnya adalah apakah saat itu ada satelit Starlink atau bukan, perlu dicari tahu juga. Tetapi kalau Starlink itu biasanya (gerakannya) lurus saja," beber Reza.
Ia menjelaskan, istilah UFO merujuk pada kendaraan terbang yang teknologinya berbeda dari teknologi penerbangan buatan manusia pada umumnya. Menurutnya, UFO umumnya memiliki kemampuan bermanuver dan bentuk yang tidak lazim.
"Jadi kalau menurut kata pencetusnya yang asli, J. Ruppelt penggagas asal kata UFO, seorang tentara tahun 50-an, UFO itu memang kendaraan terbang yang memang teknologinya itu tidak sama seperti teknologi penerbangan ciptaan manusia pada umumnya. Karena dia bisa bermanuver, bentuknya juga aneh gitu," terang Reza.
Berdasarkan laporan yang diterima BETA UFO, kemunculan benda terbang aneh biasanya terjadi saat dini hari atau malam hari.
"Biasanya kalau UFO itu pagi hari, seperti di jam-jam subuh atau di malam hari," tuturnya.
Reza menambahkan, bentuk UFO yang paling sering dilaporkan adalah cakram dan segitiga. Pada malam hari, objek tersebut juga kerap memunculkan kilatan cahaya.
"Biasanya itu paling sering itu yang berbentuk cakram, sama segitiga rata-rata. Kalau dia di malam hari kadang dia menimbulkan kilatan cahaya," imbuhnya.
Selain laporan dari kawasan Genteng, Surabaya, BETA UFO juga menerima laporan kemunculan benda bercahaya lain di kawasan Ketintang pada 12 Mei 2026 sekitar pukul 04.30 WIB.
"Kalau dari yang BETA UFO dapat itu kemarin ada satu juga melintas di Samsat Ketintang jam 04.30 WIB pagi itu, kemarin 12 Mei 2026. Terus kalau dari yang ngerekam katanya itu gerak dulu kiri kanan, zig zag gitu terus terbang lurus, terus ke atas," ungkap Reza.
Meski begitu, Reza menegaskan objek tersebut belum bisa langsung disimpulkan sebagai UFO. Menurutnya, kemungkinan lain masih terbuka dan perlu dianalisis secara ilmiah.
"Nah, problemnya itu gini, apakah itu itu drone atau bukan tergantung dari sedekat apa si perekam ini dengan cahayanya. Kemungkinannya itu masih terbuka lebar. Karena yang 12 Mei itu orangnya enggak dengar suara baling-baling dari drone gitu," jelasnya.
Ia menambahkan, laporan kemunculan UFO di Surabaya dan Malang sebenarnya sudah beberapa kali muncul dalam era modern. Namun proses identifikasi harus dilakukan secara hati-hati dengan melibatkan pendekatan sains.
"Karena bagaimanapun juga sains itu diperlukan dalam menganalisa UFO," tegas Reza.
Menurut Reza, salah satu laporan yang paling mendekati karakteristik UFO dalam beberapa tahun terakhir adalah rekaman yang dilaporkan Fatur Java Jive di Bandung pada Januari 2022.
"Itu objeknya terbang kemudian menghilang, kemudian muncul lagi, menghilang lagi. Nah ini kan enggak ada tuh teknologi manusia seperti itu gitu. Jadi teknologinya tidak bisa disejajarkan dengan teknologi manusia. Kalau asalnya kita masih belum tahu itu dari mana," pungkasnya.
(ihc/dpe)











































