Setelah kenaikan-Nya, pertanyaan yang kerap muncul adalah apa yang seharusnya dilakukan umat sekarang? Tidak berhenti pada penantian, sebagai umat seharusnya menjalankan panggilan untuk hidup sebagai perpanjangan karya-Nya di dunia.
Peristiwa Kenaikan Yesus Kristus tertuang dalam Markus 16:14-20 (TB), diawali ketika Ia menampakkan diri kepada kepada 11 murid-Nya saat mereka sedang makan.
Dalam perjumpaan itu, Yesus menegur ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, sebab mereka tidak percaya kepada kesaksian orang-orang yang telah melihat-Nya setelah kebangkitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian Yesus memberikan perintah kepada mereka agar pergi ke seluruh dunia, dan memberitakan Injil kepada semua makhluk. Ia menegaskan bahwa siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Jadi, apa yang harus dilakukan umat setelah Kenaikan Yesus Kristus? Simak artikel ini sampai habis ya, detikers!
Apa yang Yesus Lakukan Sekarang Setelah Dia Naik ke Surga?
Dilansir dari laman Transformasi, disebutkan bahwa dalam Injil Ibrani pasal 10 ayat 10-14, setelah Yesus mempersembahkan diri sebagai kurban karena dosa umat-Nya, Dia duduk di sebelah kanan Allah.
Namun, perlu diketahui, meskipun Putra bersama Bapa di surga, Ia juga bersemayam di dalam diri setiap orang percaya dalam pribadi Roh Kudus, yang diutus-Nya untuk tinggal di dalam dan bersama orang percaya.
Selain itu, Yesus hidup sebagai perantara bagi mereka yang percaya kepada-Nya, di mana Yesus mengajukan permohonan atas nama kita dan membawa doa kita ke hadapan Allah Bapa.
Melalui 1 Yohanes pasal 2 ayat 1-2 disebut bahwa Yesus adalah Pembela bagi umat-Nya yang berdosa. Yesus juga tengah mempersiapkan tempat bagi umat di surga, serta mengatur semua peristiwa yang diperlukan untuk kedatangan-Nya kembali.
Apa yang Harus Umat Lakukan Setelah Yesus Naik ke Surga?
Merujuk pada firman Tuhan dalam 2 Korintus 3:2-3 (TB), umat digambarkan sebagai "surat Kristus" yang hidup, di mana ditulis bukan dengan tinta melainkan dengan Roh Allah yang hidup dalam hati manusia, yang dapat dikenal dan dibaca oleh semua orang.
Artinya, setiap tindakan, perkataan, dan sikap hidup menjadi pesan yang dapat dibaca orang lain, bahwa mereka yang menjalankan misi Tuhan tampak dan menampakkan dirinya sebagai Anak Yesus.
Hal tersebut dikarenakan Iman kini tidak lagi sekadar pengakuan pribadi, tetapi hadir secara nyata dalam keseharian dan menjadi kesaksian yang terlihat dan dirasakan. Panggilan ini kemudian dipertegas dalam Matius 5:13-16 yang berbunyi,
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Baca juga: Apa Beda Wafat dan Kenaikan Yesus Kristus? |
Umat disebut sebagai garam dan terang dunia. Sebagai garam, kehadiran umat diharapkan memberi rasa, menjaga nilai, dan membawa kebaikan di tengah kehidupan.
Namun, apabila garam itu menjadi tawar, maka ia kehilangan maknanya. Demikian dengan terang, umat sebagai terang dipanggil untuk bersinar dan bukan menyembunyikan iman, melainkan memancarkan kebaikan yang mengarahkan orang lain kepada kemuliaan Tuhan.
Di tengah kehidupan modern saat ini, panggilan menjadi garam dan terang dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam keseharian. Mulai dari menjaga kejujuran, menolong sesama, menggunakan perkataan yang baik, hingga menghadirkan damai di lingkungan sekitar.
Dengan demikian, peringatan Kenaikan Yesus Kristus bukan hanya menjadi momen untuk dikenang, tetapi juga pengingat agar umat terus hidup dalam kasih, kebaikan, dan menjadi saksi nyata bagi sesama.
(irb/hil)











































