Aksi protes komunitas seni terhadap Pemerintah Kota Surabaya memanas. Massa yang terdiri dari seniman dan berbagai elemen masyarakat menghujani Gedung DPRD Surabaya dengan kotoran ayam, Senin (11/5/2026), sebagai bentuk kekecewaan atas pengosongan ruang seni Balai Pemuda.
Aksi berlangsung di kawasan Jalan Yos Sudarso sekitar pukul 13.00 WIB. Massa lebih dulu menyebarkan kotoran ayam di sekitar gedung dewan, lalu bergerak menuju gerbang Balai Pemuda untuk menyampaikan orasi.
Aksi ini merupakan buntut pengosongan sejumlah ruang kesenian, yakni Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sanggar Merah Putih, dan Bengkel Muda di Balai Pemuda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perwakilan elemen Promeg, Endang, menilai langkah Pemkot Surabaya yang mengambil alat musik dari lokasi tersebut berdampak serius terhadap keberlangsungan seni dan regenerasi pelaku seni. Massa mendesak Pemkot segera mengembalikan gamelan dan alat-alat seni yang disita.
"Kesenian kita mau ditaruh di mana lagi? Turis saja mau belajar ke sini, kenapa fasilitas yang ada malah diobrak-abrik?" ujar Endang kepada detikJatim, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, pengosongan ini berdampak langsung pada anak-anak sekolah yang selama ini belajar kesenian di Balai Pemuda. Protes ini bahkan diikuti oleh para pedagang di pasar unggas yang juga terkena penggusuran.
Di sisi lain, Ketua DKS, Chrisman, menegaskan pihaknya menolak bernegosiasi jika Pemkot hanya mengundang perwakilan terbatas dari kalangan seniman.
"Gerakan ini didukung banyak kalangan. Ada Promex, ASB, pedagang pasar, dan lainnya. Kalau mau ketemu Pak Walikota, harus perwakilan satu paket. Ini bukti bahwa Balai Pemuda bukan hanya milik seniman, tapi milik seluruh warga Surabaya," tegas Chrisman.
Sebagai langkah strategis ke depan, massa sepakat tidak akan berhenti di aksi hari ini. Chrisman menginstruksikan seluruh elemen untuk mengirimkan perwakilan dalam rapat konsolidasi yang akan digelar pada Rabu, 13 Mei 2026, pukul 19.00 WIB di Kantor LBH Surabaya untuk menyatukan suara seluruh elemen yang terdampak.
Sementara itu, seniman senior Meimura turut menyayangkan pengosongan tersebut. Ia menilai langkah itu berpotensi merusak ekosistem kebudayaan di Surabaya.
"Polanya sama seperti pengosongan THR dulu. Saya menyesalkan ini karena gamelan adalah produk budaya spektakuler, tapi malah diambil paksa dan menghentikan proses mencerdaskan bangsa," ujar Meimura.
Ia juga menambahkan bahwa pengusiran ini melukai sejarah panjang Surabaya.
"Bahkan lukisan maestro tak ternilai hampir ikut dicopot. Pemerintah tidak amanah dengan ajaran Bung Karno. Catat ini, jangan sekali-sekali melupakan sejarah," pungkasnya.
(auh/dpe)











































