Jaman Semono, Pameran Nostalgia di Surabaya

Jaman Semono, Pameran Nostalgia di Surabaya

Anastasia Trifena - detikJatim
Kamis, 07 Mei 2026 08:47 WIB
Pameran Jaman Semono di Surabaya
Pameran Jaman Semono di Surabaya (Foto: Anastasia Trifena/detikJatim)
Surabaya -

Pameran seni rupa bertajuk 'Jaman Semono' digelar di Galeri Prabangkara lantai dua, Surabaya, pada 3-10 Mei 2026. Sebanyak 15 seniman dari kelompok perupa 'Yang Ada' menampilkan sekitar 25 karya yang mengangkat tema nostalgia, kritik sosial, hingga refleksi diri.

Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi secara gratis setiap hari pukul 11.00 WIB sampai 17.00 WIB.

Tema 'Jaman Semono' dipilih sebagai wadah untuk mengangkat ingatan masa lalu sekaligus menjadi ajang silaturahmi para perupa yang merupakan alumni Seni Rupa Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu seniman, Nyoman Putra menyebut, pameran ini menjadi ruang bebas bagi para perupa untuk mengekspresikan gagasan mereka.

"Ini yang kami sajikan adalah kebersamaan, karena setiap tahun kami selalu kumpul bikin pameran. Ini sudah 9 tahun kalau nggak salah kami kumpul ini," ujar Nyoman kepada detikJatim, Rabu (6/5/2026).

ADVERTISEMENT

Seniman lainnya, Agung Budi menambahkan, tema yang diangkat juga menjadi sarana mengenang masa kuliah.

"Temanya untuk mengenang kembali, flashback teman-teman dulu waktu kuliah, sekaligus untuk menjaga silaturahmi sesama alumni seni rupa," tuturnya.

Beragam karya ditampilkan dalam pameran tersebut dengan gaya dan pesan yang berbeda. Salah satunya karya Agung berjudul 'Do Not Cross Police Line' yang menggambarkan tumpukan sampah kaleng dengan garis polisi sebagai simbol.

"Sampah itu kan banyak, ini bahasa simbol aja. Kita harus perhatian tentang sampah, tentang kelanjutan bumi kita," jelasnya.

Karya tersebut juga memunculkan beragam tafsir dari pengunjung. Yoni, mahasiswi Seni Rupa PGRI Adi Buana, menilai karya itu memiliki makna mendalam.

"Yang Do Not Cross Police Line ini deep sih maknanya. Di dalam hidup ini memang selalu ada sampah, tidak hanya sampah makanan tapi juga pikiran. Makanya kita harus menyaring supaya nggak banyak sampah," bebernya.

Karya perupa lain, Nyoman lebih menyoroti tentang bagaimana ia merasakan ketulusan di dalam kehidupannya. Ada empat kanvas berbeda yang dicorat-coret Nyoman menjadi suatu refleksi diri tentang emosi yang bebas dan pengendalian diri. Tidak bisa jika dilihat sekilas, perlu diamati dengan sungguh karena setiap coretan yang ditorehkan punya makna.

"Warna merah, oranye, kuning itu kan warna panas, emosional dan sebagainya. Tetapi saya tidak ingin emosi saya ini meletup-letup. Jadi saya akan membelenggu dia, saya kendalikan dengan ikatan-ikatan ini. Warna abu-abu melambangkan ketenangan," urai Nyoman.

Selama pameran berlangsung, pengunjung datang silih berganti di ruang Galeri Prabangkara. Tak hanya dari kalangan seniman dan mahasiswa seni, sejumlah pelajar hingga masyarakat umum juga tampak singgah untuk menikmati karya-karya yang dipamerkan.

Pameran ini disebut juga sempat menarik perhatian pengunjung mancanegara. Sepasang wisatawan asal Australia yang tengah berkunjung ke kawasan UPT Taman Budaya Jawa Timur turut mampir dan menikmati karya-karya yang dipamerkan pada Senin (4/6/2026).

Bagi para perupa, antusiasme pengunjung menjadi ruang pertemuan yang penting antara karya dan penikmatnya. Sebab, tiap lukisan tak hanya berhenti sebagai medium ekspresi, tetapi juga membuka kemungkinan tafsir yang berbeda dari setiap orang yang datang melihat.

Pameran 'Jaman Semono' juga menjadi bagian dari rangkaian Pekan Seni Rupa 2026 yang digelar sepanjang Mei di Surabaya. Kehadirannya ikut meramaikan agenda tahunan seni rupa di Jawa Timur.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads