Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mencatat respons time petugas saat menangani kebakaran kini mencapai 6,5 menit. Capaian itu melampaui standar nasional yang menetapkan waktu tanggap maksimal 15 menit.
Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani mengatakan capaian, tersebut merupakan target baru yang mulai diterapkan pada 2026. Sebelumnya, rata-rata waktu tanggap Damkar Surabaya berada di angka 7 menit.
"6,5 menit itu sesuai dengan pimpinan kita mulai tahun 2026. Kalau sebelumnya kan 7 menit kan mbak. Jadi kemarin bapak pimpinan kami, Bapak Wali Kota bilang, 'Ayo tak target 6,5 menit harus bisa'. Alhamdulillah, usaha tercapai bersama teman-teman," ujar Rini kepada detikJatim, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capaian tersebut jauh di bawah ambang batas nasional. Dalam aturan nasional, respons time damkar ditetapkan maksimal 15 menit, sementara Surabaya mampu memangkasnya hingga kurang dari separuh batas tersebut.
"Sedangkan kalau Surabaya, itu kan di bawahnya standar. Kan kalau nasional sesuai dengan aturan kan 15 menit. Tapi Surabaya bisa mencapai 6,5 menit," katanya.
Rini menjelaskan, cepatnya waktu tanggap Damkar Surabaya ditopang keberadaan pos dan rayon yang tersebar di berbagai titik kota. Saat ini, DPKP Surabaya memiliki 22 titik layanan yang terdiri atas 17 pos dan 5 rayon.
Sebaran pos dan rayon itu disebut menjadi kunci percepatan penanganan karena jarak antar titik hanya sekitar 2,5 hingga 3 kilometer. Dengan pola tersebut, petugas bisa menjangkau lokasi kebakaran lebih cepat.
Meski begitu, Rini mengaku masih ada sejumlah kendala di lapangan yang kerap memperlambat akses petugas. Salah satunya kendaraan warga yang parkir di badan jalan, terutama saat kejadian kebakaran berlangsung pada malam hari.
"Yang menjadi kendala itu biasanya kendalanya itu kalau warga itu di rumahnya itu parkir di luar. Apabila ada kejadiannya pada malam hari, paling enggak dia (warga) harus segera memindahkan armadanya," tuturnya.
Untuk mengantisipasi hambatan tersebut, petugas biasanya langsung menggelar selang sambil menunggu akses jalan dibuka. Strategi itu dilakukan agar proses pemadaman tetap bisa dimulai tanpa harus menunggu armada masuk penuh ke titik kebakaran.
Selain itu, DPKP Surabaya juga mengandalkan armada roda dua untuk menjangkau kawasan padat penduduk dengan akses jalan sempit. Armada motor damkar Surabaya dikenal dengan nama Walang Kadung dan Walang Kekek.
Dua kendaraan tersebut biasanya diberangkatkan lebih dulu untuk mengatasi pemadaman sementara serta membaca situasi di lokasi. Saat armada utama tiba, petugas sudah mengetahui kondisi lapangan dan bisa langsung menentukan jalur serta panjang selang yang dibutuhkan.
Rini menambahkan, capaian tersebut juga didukung Pemkot Surabaya melalui pemenuhan peralatan, perawatan armada, hingga peningkatan kapasitas SDM petugas. DPKP Surabaya juga telah menyesuaikan pengadaan peralatan dengan perkembangan teknologi digital.
Tak hanya itu, capaian respons time Damkar Surabaya juga telah mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Surabaya sebelumnya pernah mendapat penghargaan saat mampu mencatat waktu tanggap 7 menit, yang saat itu sudah dinilai melampaui standar nasional.
"Jadi dulu (Damkar Surabaya) pernah mendapatkan penghargaan (dari pemerintah pusat) dengan adanya respon time 7 menit. Yang roti 7 lapis itu mbak, kalau dulu ya istilahnya. Jadi response time-nya 7 menit, pelayanan gratis. Itu di bawahnya standar nasional," lanjutnya.
Meski kini sudah menyentuh 6,5 menit, Rini menegaskan capaian tersebut masih terus dievaluasi. Sebab, waktu tanggap di lapangan tidak selalu sama pada setiap kejadian.
"Jadi kalau sekarang 6,5 menit masih kita evaluasi, mbak. Karena tidak selalu 6,5 menit juga. Mungkin ada yang agak mbereset. Kadang kurang dari 6 menit pun juga ada," jelasnya.
Ke depan, DPKP Surabaya masih membidik waktu tanggap yang lebih cepat lagi. Rini menyebut target berikutnya ialah mendekati standar internasional, yakni di bawah 6 menit.
"Pengennya kita mengikuti standar internasional yang di bawah 6 menit, mbak. Tapi sejauh ini Surabaya ini sudah luar biasa juga," pungkasnya.
(hil/hil)
