Sebuah aksi heroik seorang ibu-ibu (emak-emak) di Magetan mendadak viral di media sosial. Dengan gagah berani, wanita tersebut menghadang bus Sugeng Rahayu yang diduga hendak menerobos lampu merah di simpang tiga Pabrik Gula (PG) Poerwodadi, Glodok, Magetan.
Dalam rekaman video berdurasi 42 detik yang beredar luas, tampak seorang ibu pengendara motor matik berwarna merah berhenti tepat di depan bus karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Meski diklakson secara terus-menerus oleh pengemudi bus, ibu tersebut tetap bergeming dan tidak mau memberi jalan.
Kesal karena ditekan dengan bunyi klakson, ia kemudian menegur pengemudi bus dengan lantang dari atas motornya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Stop...!" serunya sambil mengacungkan tangan, mengingatkan sang sopir bahwa lampu masih berwarna merah.
Aksi ini mendapat simpati dari pengendara lain yang merekam kejadian tersebut. Sang perekam bahkan sengaja menyorot nomor polisi bus, yakni W 7061 UP, saat bus tersebut akhirnya melaju setelah lampu berganti hijau.
Dari penelusuran detikJatim, sosok wanita pemberani tersebut adalah Sri Wahyuni (53), warga Desa Malang, Kecamatan Maospati, Magetan. Sri mengonfirmasi bahwa sosok dalam video tersebut memang dirinya.
Sri menceritakan bahwa peristiwa itu sebenarnya terjadi pada 12 Februari 2026 sekitar pukul 14.00 WIB, saat ia baru saja pulang dari acara Pondok Ramadhan di sekolah tempatnya mengajar.
Bukan tanpa alasan Sri berani menghadapi bus besar yang dikenal memiliki reputasi kecepatan tinggi tersebut. Sebagai seorang tenaga pendidik Sekolah Luar Biasa (SLB), Sri merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan contoh yang baik.
"Saya selalu ingin menanamkan rasa disiplin. Sebagai guru, saya harus jadi contoh. Saya merasa miris kalau melihat pengendara melanggar rambu lalu lintas, apalagi di lokasi ini memang sering terjadi pelanggaran," tegas Sri kepada detikJatim, Senin (4/5/2026).
Aksi Sri Wahyuni menjadi pengingat bagi para pengguna jalan, terutama kendaraan umum, bahwa aturan lalu lintas berlaku untuk siapa saja tanpa terkecuali. Keberaniannya membuktikan bahwa integritas seorang guru tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi juga dipraktikkan langsung di jalan raya.
