Dosen Unair Ungkap Alasan Anak Muda Rentan Bunuh Diri

Dosen Unair Ungkap Alasan Anak Muda Rentan Bunuh Diri

Aprilia Devi - detikJatim
Senin, 04 Mei 2026 17:00 WIB
ilustrasi bunuh diri
ilustrasi bunuh diri/Foto: berbuatbaik.id
Surabaya -

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Margaretha, PhD mengungkap alasan mengapa orang muda menjadi paling rentan dalam kasus bunuh diri. Fenomena ini disebut bukan hanya persoalan kesehatan mental, tetapi juga masalah sosial yang kompleks.

"Mungkin keprihatinan kita bahwa kita menghadapi persoalan global. Jadi bahwa tiga besar penyebab kematian orang usia produktif yang dari penyakit non-communicable atau penyakit tidak menular, tiga besarnya itu salah satunya memang persoalan kesehatan mental terkait bunuh diri," ujar Margaretha, Senin (4/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, bunuh diri menjadi salah satu penyebab kematian pada usia produktif, baik secara global maupun nasional.

"Jadi penyebab kematian orang muda di usia produktif yang disebabkan oleh penyakit tidak menular itu salah satunya adalah bunuh diri. Dan ini juga tergambar di data global maupun nasional, Indonesia," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan, diri sendiri ini bukan cuman persoalan gangguan mental atau persoalan kesehatan mental.

"Karena penanganannya bukan hanya persoalan psikologis sebenarnya. Jadi menurut saya terlalu sempit melihat persoalan bunuh diri hanya karena kurangnya misalkan dukungan kesehatan mental," tegasnya.

Menurutnya, pendekatan penanganan tidak cukup hanya melalui layanan psikolog atau psikiater, melainkan harus melibatkan banyak sektor.

"Karena penanganannya tidak cukup hanya berada di ruang konsultasi psikiater, ke psikolog gitu atau tenaga kesehatan mental. Tapi faktor-faktor yang harus dibantu untuk bisa menanggulangi persoalan bunuh diri ini multisektoral. Bukan hanya masalah kesehatan ya," ungkapnya.

Margaretha memaparkan, salah satu penyebab utama orang muda menjadi kelompok rentan dalam hal ini berasal dari kondisi psikologis seperti depresi yang berkepanjangan hingga membuat seseorang merasa tidak berdaya.

"Mengapa ini terjadi? Yang pertama, memang ini adalah persoalan mental ya, persoalan psikologis di mana orang dengan rasa sedih yang berlebih berlebih-lebih ya dan cukup panjang atau kita sebut sebagai depresi mengakibatkan rasa tidak berdaya dan sia tidak mampu menyelesaikan persoalannya, itu yang membuat dia menjadi mengambil keputusan yang singkat tidak dipikirkan jangka panjangnya," paparnya.

Namun, ia menekankan ada faktor lain yang membuat anak muda lebih rentan, yakni keterbatasan pengalaman hidup.

"Jadi walaupun sudah masuk usia 20, 30 tahun, tapi ini kan masih bisa tergolong orang muda ya kita bilang ya. Sama seperti anak dan remaja. Jadi ada satu kerentanan orang muda. Jadi baik anak, remaja sampai dengan orang muda, orang dewasa muda yaitu mungkin adalah kerentanan karena terbatasnya pengalaman hidup," bebernya.

Kondisi ini membuat mereka belum memiliki banyak strategi dalam menyelesaikan masalah.

"Jadi alih-alih punya banyak cara berpikir atau strategi penyelesaian masalah, mungkin pemikiran yang terbatas karena pengalaman yang masih terbatas membuat mereka belum bisa melihat dari lebih banyak cara pandang atau mungkin strategi penyelesaian," kata Margaretha.

Di sisi lain, lingkungan yang tidak suportif juga memperparah kondisi tersebut. Ia menyebut, banyak kasus tidak tertangani karena kurangnya dukungan dari sekitar.

"Bahkan ada beberapa yang kita tahu riset, orang-orang yang cenderung depresi dan tidak terselesaikan ya, depresi yang berkepanjangan tidak terselesaikan karena lingkungannya itu abai secara emosional," ungkapnya.

Ia pun menegaskan, bunuh diri merupakan persoalan yang membutuhkan pendekatan sosial yang lebih luas.

"Jadi, sekali lagi bunuh diri memang adalah persoalan kesehatan mental, tapi tidak hanya menuntut pendekatan psikologis, tapi juga adalah perubahan proses kehidupan bagaimana kita berinteraksi," tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kasus bunuh diri, terutama pada tingkat keberhasilan.

"Jadi kalau suicidal ideation mungkin laki-laki sama perempuan bisa sama-sama banyak mungkin ya. Tapi memang yang berhasil bunuh diri laki-laki. Kenapa? Karena laki-laki ketika planning bunuh diri itu tuh lebih niat," ungkapnya.

Menurutnya, laki-laki cenderung memilih metode yang lebih menimbulkan dampak.

"Karena mereka akan mencari alat-alat yang lebih letal, yang memang mengakibatkan kematian dibanding perempuan yang cenderung mungkin lebih sebenarnya cry for help suicidal attempt-nya," terang Margaretha.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pola bunuh diri juga dipengaruhi oleh lingkungan dan akses terhadap metode tertentu. Seperti di Indonesia dengan melompat dari gedung tinggi, gantung diri, dan sebagainya.

"Kalau bicara tentang cara bunuh diri ini juga tergantung dengan ketersediaan lingkungan sebenarnya," imbuhnya.

Karena itu, pengawasan di titik-titik rawan dinilai penting sebagai langkah pencegahan.

"Nah, di Indonesia kemungkinan daerah daerah-daerah tertentu yang berisiko itu kurang pengawasan, sehingga itu menjadi area yang bisa diakses kalau ingin melakukan usaha bunuh diri yang letal," sarannya.

Ia menegaskan, upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan terapi, tetapi perlu gerakan sosial yang lebih luas.

"Itu sebabnya ini kan enggak cukup cuman konseling dan psikoterapi. Tapi ini suatu proses sosial gitu gerakan sosial kalau kita memang berusaha untuk mencegah bunuh diri," tegasnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mencegah bunuh diri pada anak muda.

"Intinya ada lebih dari satu sistem yang bekerja untuk mengidentifikasi dan membantu anak-anak dan orang muda dengan risiko bunuh diri," pungkas Margaretha.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads