Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Surabaya masih menghadapi kerawanan kasus percobaan bunuh diri. Layanan darurat 112 mencatat, sejumlah kejadian baru terungkap saat korban telah berada dalam titik ekstrem dan membutuhkan penanganan segera.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kota Surabaya, Linda Novanti menyebut, pendataan kasus percobaan bunuh diri masih sangat terbatas dan hanya berdasarkan laporan yang masuk saat kejadian berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, pihaknya hanya dapat mendeteksi kasus ketika seseorang secara langsung menghubungi layanan 112 dalam kondisi krisis.
"Kalau percobaan itu kami tahunya dari laporan masuk. Misalnya orang telepon atau WhatsApp ke 112, menyampaikan sedang stres, depresi, dan ingin bunuh diri. Dari situ kami langsung respons," ujarnya.
Dalam situasi tersebut, petugas call taker akan berupaya menenangkan pelapor sambil menggali informasi lokasi. Secara bersamaan, tim lapangan segera dikerahkan untuk melakukan penanganan.
"Petugas kami akan terus mengajak bicara, merayu agar tidak melakukan tindakan tersebut sambil tim lapangan bergerak ke lokasi," jelas Linda.
Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki data pasti terkait jumlah kasus bunuh diri yang berujung kematian karena hal tersebut bukan menjadi ranah utama dari layanan darurat 112.
Akan tetapi, pihaknya akan tetap terbuka untuk laporan serupa seperti percobaan bunuh diri baik dilakukan secara mandiri oleh korban maupun saksi di lokasi mengingat kondisi yang perlu penanganan dengan cepat.
Sepanjang tahun lalu hingga tahun ini, Linda mengatakan bahwa hanya tercatat beberapa kasus percobaan yang terdeteksi melalui laporan langsung, baik dari individu yang bersangkutan maupun warga sekitar.
"Kalau ada warga melihat kondisi mencurigakan, misalnya seseorang berada di ketinggian dengan kondisi tidak stabil, bisa langsung hubungi 112," katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pencegahan utama bukan berada pada layanan darurat, melainkan pada penanganan kesehatan mental sejak dini.
"Kalau pencegahan, bukan ke 112. Itu harus ke keluarga, psikolog, psikiater, tokoh agama, atau orang yang dipercaya. Karena sebelum sampai ke titik itu, pasti ada proses panjang berupa stres dan tekanan," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa individu yang memiliki keinginan bunuh diri pada dasarnya membutuhkan ruang untuk didengar dan dipahami.
"Sebetulnya mereka butuh teman bicara. Bukan benar-benar ingin mati, tapi sedang berada di titik sangat berat," ujarnya.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar serta tidak mengabaikan kesehatan mental, baik diri sendiri maupun orang lain.
"Kalau merasa tidak kuat, segera cari bantuan. Jangan dipendam sendiri," pungkasnya.
(auh/hil)











































