Warung nasi goreng (nasgor) bernama UGD+ di kawasan Ketintang, Surabaya, viral di media sosial. Nama yang kerap disalahartikan sebagai istilah medis itu ternyata memiliki makna unik dan berasal dari kisah perjuangan sang pemilik yang merupakan mantan chef hotel berbintang.
UGD+ merupakan singkatan dari "Usaha Golek Duit Tambahan". Warung ini dirintis oleh Bowo (41), yang telah berpengalaman di dapur restoran sejak 2008 sebelum beralih ke hotel.
Usai sempat membuka cabang di Gubeng yang kini tutup, Bowo memusatkan usahanya di Jalan Ketintang Baru 2A Nomor 6. Ia melayani pelanggan secara langsung maupun melalui pesanan online mulai pukul 17.00 WIB hingga dini hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dapurnya yang sederhana, terlihat meja racik dengan berbagai bumbu yang tersusun rapi. Bowo tampak lihai mengolah nasi goreng menggunakan wajan besar, dengan teknik memasak ala dapur profesional.
"Tentang nama, banyak yang mengira macam-macam. Dikira Unit Gawat Darurat karena pedasnya, atau habis orang sakit ke sini terus sembuh. 100 persen enggak pernah ada yang menebak pas. UGD itu Usaha Golek Duit, plus-nya itu tambahan," beber Bowo kepada detikJatim, Jumat (1/5).
Sebelumnya, Bowo dikenal sebagai spesialis dimsum, sementara rekannya Mustakim fokus pada masakan internasional. Saat memutuskan berwirausaha mandiri, ia memilih nasi goreng karena dinilai sebagai makanan yang digemari berbagai kalangan.
Ia juga melakukan penyederhanaan menu dengan menghapus sejumlah resep. "Pas sendirian, banyak resep yang tak hapus. Nasi goreng kangkung, Yang Chow juga tapi isiannya tak ganti ayam bukan babi," jelasnya.
Usaha ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2018 sebagai pekerjaan sampingan. Namun, ujian berat datang dua minggu setelah Bowo memutuskan resign dari pekerjaannya. Warungnya ludes terbakar akibat korsleting listrik.
"Mulai nol lagi. Tapi kan pelanggan enggak mulai dari nol. Wong sebelum munggah kan pasti jongkok sek (Orang sebelum naik kan pasti di bawah dulu), jadi perjuangannya memang berdarah-darah," tuturnya.
Berlokasi dekat dengan kampus Unesa Ketintang dan Telkom, warung ini mematok harga mulai dari Rp13.000 (Nasgor Ayam Sosis, Nasgor Jawa, Nasgor Ikan Asin, Nasgor Kare Ayam), Rp 14.000 (Nasgor Hongkong, Kwetiaw), hingga Capjay seharga Rp 20.000.
"Ada yang pernah masukin tiktok, antre ne sampe kono (antrenya sampai jauh). Aku malah bingung," terangnya.
Menu paling laris adalah Nasgor Ayam Sosis, kemudian Nasgor Kare Ayam, yang ia sebut sebagai perpaduan rasa paling umum sekaligus unik.
Aroma kari berwarna kuning keemasan yang khas, taburan bawang goreng yang royal, irisan mentimun segar, kerupuk udang yang renyah, serta suwiran ayam, berpadu sempurna menciptakan rasa mewah ala kaki lima.
