Kenapa 2 Mei Hari Pendidikan Nasional? Ini Sejarah dan Faktanya

Kenapa 2 Mei Hari Pendidikan Nasional? Ini Sejarah dan Faktanya

Anastasia Trifena - detikJatim
Kamis, 30 Apr 2026 13:00 WIB
ILUSTRASI. Peringatan Hari Pendidikan Nasional.
ILUSTRASI. Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Masyarakat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei. Peringatan ini menjadi momen penting untuk mengingat peran pendidikan dalam kehidupan, serta perkembangan bangsa dari masa ke masa.

Hardiknas juga identik dengan sosok Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor pendidikan nasional. Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan hari kelahirannya, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan pendidikan bagi rakyat Indonesia.

Meski bukan hari libur nasional, peringatan Hardiknas biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, seperti upacara bendera dan acara bertema pendidikan di sekolah maupun instansi terkait. Tahun ini, Hardiknas jatuh pada hari Sabtu 2 Mei 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Pendidikan di Indonesia

Pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh masa kolonial Hindia Belanda yang kala itu membangun sistem pendidikan secara terstruktur. Melansir buku "Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya", pada masa itu, pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pemerintahan kolonial.

Sekolah-sekolah didirikan untuk mencetak tenaga kerja terdidik seperti pegawai, guru, hingga tenaga medis yang mendukung jalannya kekuasaan Belanda. Akses pendidikan pun terbatas dan cenderung diskriminatif, sehingga hanya kalangan tertentu yang dapat menikmatinya.

ADVERTISEMENT

Namun, dari sistem tersebut justru lahir kelompok elite terdidik dari kalangan pribumi yang mulai menyadari adanya ketimpangan sosial. Kesadaran ini mendorong munculnya semangat emansipasi dan keinginan untuk memperjuangkan perubahan.

Para elite baru ini kemudian menjadi bagian dari berbagai organisasi pergerakan, seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam, yang berperan dalam membangun kesadaran nasional. Selain itu, muncul kelompok yang lebih tegas dalam perjuangan politik, seperti Indische Partij yang didirikan Ki Hajar Dewantara bersama rekan-rekannya.

Organisasi ini membawa gagasan persatuan lintas golongan dan memperjuangkan kemerdekaan dari kolonialisme. Pergerakan yang awalnya bersifat sosial dan ekonomi pun berkembang menjadi gerakan politik yang lebih terarah.

Akhirnya seiring waktu perjuangan kembali meluas jalurnya. Tidak hanya dilakukan melalui jalur politik, tetapi juga lewat pendidikan.

Pendidikan dipandang sebagai sarana penting untuk membangun kesadaran masyarakat dan menanamkan nilai kebangsaan. Dari sinilah muncul pemikiran bahwa kemerdekaan tidak hanya dicapai melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan pola pikir bangsa.

Profil Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

Satu nama yang dikenang sebagai tokoh di balik pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara alias Bapak Pendidikan Nasional. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Lingkungannya merupakan bangsawan Keraton Yogyakarta, sehingga ia memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di masa kolonial Belanda. Soewardi sempat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk kalangan Eropa dan pribumi elite.

Setelah itu, ia melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran untuk pribumi di Batavia. Sayangnya, pendidikannya di STOVIA tidak diselesaikan karena kondisi kesehatan.

Meski demikian, pengalaman belajar di lingkungan pendidikan tersebut membentuk cara berpikir kritis dan membuka wawasannya terhadap ketimpangan sosial yang terjadi pada masa itu.

Sejak muda, Soewardi dikenal aktif dalam dunia jurnalistik. Ia menyalurkan gagasan dan kritiknya terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan-tulisan tajam di berbagai surat kabar.

Salah satu tulisannya yang paling terkenal berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), yang berisi kritik keras terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Tulisan ini membuatnya diasingkan ke Belanda, bersama dua rekannya dalam kelompok Tiga Serangkai.

Selama masa pengasingan di Belanda, ia justru semakin mendalami dunia pendidikan. Ia mengikuti berbagai kursus pendidikan dan terlibat dalam diskusi mengenai sistem pendidikan modern.

Pemikirannya banyak dipengaruhi tokoh-tokoh pendidikan dunia, seperti Montessori, Frobel, dan Tagore yang menekankan kebebasan belajar serta perkembangan potensi anak. Dari sinilah muncul keyakinannya bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk memerdekakan bangsa.

Peran Ki Hajar Dewantara dalam Dunia Pendidikan

Sepulang dari pengasingan, Soewardi kembali aktif dalam pergerakan. Namun kemudian, ia memilih jalur pendidikan sebagai bentuk perjuangan. Pada 1922, ia mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang ditujukan bagi rakyat pribumi.

Melalui Taman Siswa, ia memperjuangkan pendidikan yang merdeka, berakar pada budaya bangsa, dan dapat diakses semua kalangan. Pada 1928, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara sebagai bentuk pelepasan identitas kebangsawanan agar lebih dekat dengan rakyat.

Nama tersebut kemudian melekat sebagai simbol perjuangan di bidang pendidikan. Ia juga dikenal dengan semboyan pendidikan "Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" yang hingga kini menjadi dasar dalam dunia pendidikan Indonesia.

Adapun arti dari tiga semboyan pendidikan tersebut yakni:

  • Ing Ngarsa Sung Tulada: di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik.
  • Ing Madya Mangun Karsa: di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan ide atau memberi bimbingan.
  • Tut Wuri Handayani: dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan.

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara dipercaya menjadi Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan pertama. Ia berperan besar dalam meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, pemerintah menetapkan tanggal kelahirannya, 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional melalui Keppres RI Nomor 316 Tahun 1959.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads