Berawal dari keresahan terhadap maraknya kriminalitas di lingkungan permukiman, seorang warga RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri mengembangkan sistem keamanan digital berbasis swadaya. Sistem ini kini telah digunakan warga dalam aktivitas sehari-hari untuk meningkatkan kewaspadaan lingkungan.
Penggagas sekaligus pengembang aplikasi, Topan Kristianata, mengatakan ide tersebut muncul dari kekhawatirannya melihat dinamika keamanan, baik di Kediri maupun secara nasional.
"Maraknya aksi kriminalitas yang menyasar wilayah pemukiman membuat saya berpikir bahwa warga membutuhkan sistem peringatan dini yang nyata," kata Topan kepada detikjatim, Selasa (28/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Topan yang memiliki latar belakang di bidang pengamanan pada salah satu perusahaan di Kota Kediri menilai perlu adanya modernisasi sistem keamanan lingkungan. Menurutnya, konsep ronda dan kentongan yang selama ini digunakan masyarakat dapat dikembangkan dengan teknologi digital.
"Kalau dulu leluhur kita menggunakan kentongan, maka di era digital ini saya memodernisasi konsep tersebut melalui aplikasi Panic Button 'Siaga Warga' yang terintegrasi dengan pengeras suara toa," katanya.
Melalui aplikasi tersebut, warga cukup menekan tombol darurat di telepon genggam saat terjadi situasi mencurigakan atau kondisi darurat. Sistem akan secara otomatis membunyikan peringatan melalui toa lingkungan dan mengirim notifikasi kepada pengurus RT lengkap dengan titik lokasi kejadian secara real time.
Tak hanya fokus pada keamanan lingkungan, Topan juga mengembangkan aplikasi "Seismik Gayam Siaga" dan "Siaga Cuaca Mojoroto" yang terhubung langsung dengan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Ia menjelaskan, sistem tersebut menggunakan API resmi BMKG sehingga informasi gempa bumi, tsunami, maupun cuaca ekstrem dapat diterima secara otomatis dan langsung disiarkan melalui jaringan toa lingkungan.
"Dengan mengambil data langsung dari sumber resmi BMKG, informasi yang diterima warga menjadi akurat dan menghindari kepanikan akibat hoaks," jelasnya.
Selain itu, ia juga mengembangkan aplikasi "Si RT" atau Sistem Informasi Rukun Tetangga untuk mendukung transparansi dan pelayanan administrasi warga berbasis digital.
Topan mengakui proses pembuatan sistem tersebut tidak berjalan mulus. Ia harus melalui berbagai kegagalan teknis sebelum sistem benar-benar stabil digunakan.
"Tentu tidak langsung berhasil. Banyak trial and error, mulai dari sistem tidak responsif, kendala integrasi perangkat keras, hingga sinkronisasi data yang belum stabil," ungkapnya.
Namun, keberhasilan sistem ini tidak lepas dari dukungan pengurus RT dan warga sekitar. Bahkan, salah satu warga menyediakan tempat untuk server sekaligus menanggung biaya listrik dan jaringan internet agar sistem dapat beroperasi selama 24 jam.
Untuk memperkenalkan teknologi tersebut, Topan memilih mendatangi warga dari rumah ke rumah sambil membawa perangkat demo serta rencana anggaran biaya.
"Saya memilih pendekatan door to door supaya warga paham dan merasa memiliki sistem ini," katanya.
Ia menambahkan, pengembangan perangkat lunak dilakukan secara gratis sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sementara itu, pengadaan perangkat keras seperti komputer, amplifier, mixer, kabel, toa, dan perangkat pendukung lainnya menelan biaya sekitar Rp5 juta yang berasal dari kas swadaya warga.
Topan menyebut sistem tersebut mulai diimplementasikan secara penuh sejak pertengahan Maret 2026 dan mendapat dukungan besar dari masyarakat setempat. Meski belum mendapat respons resmi dari Pemerintah Kota Kediri maupun Kepolisian Resor Kediri Kota, ia berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan lain dalam membangun sistem keamanan berbasis teknologi.
"Fokus utama saya saat ini memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan warga terlebih dahulu," pungkasnya.
