Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menjenguk siswa yang diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di RSUD SLG, Selasa (28/4/2026). Dari enam siswa yang sempat dirawat, lima masih menjalani perawatan karena diduga mengalami infeksi.
Mas Dhito, sapaan akrabnya, mengatakan kondisi lima siswa tersebut belum sepenuhnya pulih karena kadar leukosit dalam darah masih tinggi.
"Yang lima karena leukositnya masih tinggi, artinya ada infeksi. Tapi insyaAllah mungkin satu sampai dua hari sudah pulang," kata Mas Dhito di sela kunjungannya kepada detikJatim, Selasa (28/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sambil menunggu kepulangan para siswa, Pemkab Kediri sudah mengirim sampel makanan ke laboratorium untuk membedah penyebab pasti insiden ini. Sementara hasil lab belum keluar, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia makanan tersebut resmi disuspend dan dilarang beroperasi sampai ada kejelasan.
"Kalau dari hasil lab ternyata masih ada kandungan yang tidak baik, maka SPPG belum boleh beroperasi," tegasnya.
Tak berhenti di situ, Mas Dhito juga menyoroti celah dalam prosedur distribusi makanan yang selama ini berjalan. Ia menekankan bahwa guru punya peran krusial sebagai 'palang pintu' terakhir sebelum makanan sampai ke tangan siswa.
"Guru harus memahami SOP. Kalau ada makanan datang, dicium dulu, kalau perlu dicipi dulu sebelum dibagikan," jelas Mas Dhito.
Dalam insiden ini, guru disebut sempat mencicipi makanan namun sebagian porsi sudah terlanjur terdistribusi ke siswa sebelum ada tindakan pencegahan.
Pemkab Kediri juga akan menggandeng Kementerian Agama untuk evaluasi menyeluruh, mengingat sekolah terdampak berada di bawah naungan Kemenag. Adapun pengawasan terhadap seluruh SPPG bakal diperketat. Jika terbukti melanggar standar sanitasi, sertifikat laik higiene tak segan-segan dicabut.
"Kalau SPPG tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan, ya kita cabut sertifikatnya. Harapannya ini jadi kasus pertama dan terakhir di Kabupaten Kediri," pungkas Mas Dhito.
(auh/abq)
