Warga kawasan Manukan, Tandes, Surabaya mengeluhkan proyek galian Perusahaan Gas Negara (PGN) yang dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain menyebabkan kemacetan lalu lintas, sejumlah warga menyoroti bekas galian yang dibiarkan terbuka dan dinilai membahayakan pengguna jalan.
Dari pantauan di lokasi, proyek itu tidak hanya di satu titik tetapi membentang di sejumlah ruas jalan. Di antaranya Jalan Manukan Lor, Manukan Tama, Manukan Dalam, Bumi Indah, Darmo Indah Sari I, Darmo Indah Barat, Darmo Indah Timur, Jalan Raya Satelit Utara, Jalan Raya Satelit Indah, hingga persimpangan menuju Kejaksaan Negeri Surabaya.
Salah satu warga Manukan Lor, Risqi Firmansyah (30) mengatakan proyek itu sudah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Namun hingga Senin (27/4/2026) pagi bekas galian itu disebut belum mendapat penanganan lanjutan dan masih dibiarkan terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah ada dari sebulan lalu. Tapi kok nggak segera ditutup, nggak tahu mandek atau bagaimana. Yang pasti merugikan kita semua. Kalau toko saya sendiri, jadi susah buat bongkar muat, apalagi malam ada PKL," ujar Risqi, Selasa (28/4/2026).
Ia juga mengaku bingung dengan arah proyek tersebut karena sebelumnya jaringan PGN sudah tersedia di kawasan itu.
"Di sini dulu sudah ada PGN, toko saya sudah terpasang. Di rumah saya yang di Bringin katanya bakal ada pemasangan, masih proses. Cuma kita nggak tahu ini nanti alurnya ke mana. Tahu-tahu digali sampai Darmo Indah, itu kan bikin macet," tambahnya.
Risqi juga menyoroti kondisi bekas galian yang menurutnya membahayakan. Lubang sedalam sekitar setengah meter disebut dibiarkan terbuka tanpa pengaman memadai.
Proyek galian pipa PGN di kawasan Manukan, Surabaya yang mangkrak dan dikeluhkan warga. (Foto: Jihan Navira/detikJatim) |
"Harusnya ada papan penanda atau penutup sementara yang aman. Ini nggak ada sama sekali. Kalau dari sisi pengendara nggak tahu keliatan apa nggak, apalagi malam hari, bahaya sekali," katanya.
Gangguan aktivitas warga disebut tidak hanya terjadi di kawasan Manukan tetapi juga di sepanjang Darmo Indah hingga Jalan Raya Satelit. Sejumlah titik galian masih terbuka, sementara sebagian lainnya sudah ditutup namun dinilai tidak sesuai standar.
Kondisi di kawasan Darmo Indah dinilai lebih parah karena lebar jalan lebih sempit daripada di Manukan. Selain itu, sebelumnya banyak penutup drainase yang tidak rata dengan permukaan jalan. Akibatnya, selain pengendara harus bermanuver menghindari drainase, kini ditambah jalur yang menyempit karena adanya galian di sisi kanan dan kiri jalan.
Pada Senin pagi (27/4/2026), aktivitas pengerjaan proyek PGN terlihat di Jalan Darmo Indah Sari I menuju Jalan Bumi Indah. Salah satu pekerja proyek yang enggan disebut namanya mengatakan jam kerja di lapangan tidak menentu.
"Jam kerjanya nggak pasti, kadang mulai jam 8 atau 9 pagi. Kami sistem borongan, jadi nggak tahu detailnya, pokoknya ngerjain saja. Kalau di sini selesai ya pindah titik lain. Setiap hari bisa tanam 3 sampai 4 batang pipa, dikerjakan 12 orang. Borongan tiap titik juga beda," ujarnya.
Mengenai galian pipa diduga proyek PGN ini, Kepala Bidang (Kabid) Pengadaan Tanah dan Pemanfaatan Infrastruktur (PPI) Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Wienda Novita Sari membenarkan.
Dia menyebutkan bahwa pihaknya sebenarnya sudah melayangkan surat peringatan kepada PGN sejak Maret 2026. Bahkan, peringatan kembali dilayangkan pada 16 April 2026 untuk meminta rekondisi galian jaringan gas di sejumlah titik.
"Kami sebenarnya sudah berkoordinasi juga dengan PGN, kemudian kami juga sudah mengirimkan surat-surat peringatan untuk melakukan rekondisi," ujar Wienda dikonfirmasi detikJatim.
(auh/dpe)












































