Tak semua orang yang ingin dibacakan tarot bertanya tentang masa depan. Sebagian justru datang saat hidup terasa buntu dan kepala penuh kebisingan. Hal itulah yang ditemui Lisa Woon, seorang pembaca kartu tarot dan konsultan di Surabaya.
Ruang belakang di rumahnya jadi tempat para tamu datang silih berganti. Lisa mendengar curhatan semuanya satu per satu. Kartu tarot hanya pembuka. Selebihnya, ia membantu mengurai benang kepala pasien yang sedang kusut.
Sebelum dikenal sebagai tarot reader, Lisa adalah perempuan karier. Ia pernah bekerja di perusahaan future trading, hidupnya akrab dengan target, angka, dan ambisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, kariernya berjalan baik, penghasilannya terbilang cukup. Kesempatan naik jabatan pun sempat menyapanya. Namun, Lisa merasa ada ruang hampa yang tidak bisa diisi oleh pencapaian semata.
Keadaannya semakin buruk seiring masalah datang dan pergi. Salah satunya terkena penipuan di usia 33 tahun. Lisa memutuskan pergi ke Bali akhirnya. Bukan untuk mencari uang, namun kebahagiaan.
"Aku merantau ke Bali. Sudah ndak nyari duit waktu itu, aku cuma nyari gimana caranya bahagia," ujar Lisa kepada detikJatim, Senin (27/4/2026).
Semua pahit getir yang dialami, ditumpahkan Lisa di pulau dewata. Ia sendirian tanpa pegangan. Tidak punya banyak kenalan dan harus memulai semuanya dari awal. Lisa mengaku pernah kesulitan makan dan menangis sendirian.
"Aku bersihkan kamar ae gak bisa, nangis-nangis. Aku nggak bisa makan, aku dikasih makan anak pantai, aku sempat makan mi instan sebulan," kenangnya.
"Aku kepingin tahu gimana caranya tukang becak nangis di becaknya itu ya apa caranya? Tapi mereka ternyata lebih bahagia daripada aku yang naik di atas mobil," imbuh Lisa.
Di Bali, Lisa mulai rajin sembahyang. Pura sudah bak 'rumah' baginya. Kegelisahannya menemukan jawab ketika ia sadar bahwa Tuhan hanya sejauh doa yang dipanjatkan. Ia menuangkan segala sedih susahnya saat sembahyang dan seketika menemukan ketenangan. Lisa pun akhirnya menjadi seorang Hindu Kejawen.
Seorang teman kemudian memberinya kartu tarot. Lisa mengaku tak tahu cara menggunakannya, namun kartu tersebut selalu dibawa saat sembahyang. Lama-kelamaan, ia mulai bisa 'membaca' seseorang lewat gambaran-gambaran yang datang begitu saja.
"Tiap hari sembahyang, aku tidak pernah berpikir jadi spiritual, aku tidak pernah berpikir jadi paranormal, aku tidak pernah berpikir jadi tarot reader. Cuman (tarotnya) sering tak bawa sembahyang. Jadi aku tuh kayak meramal orang tuh dari hasil bisikan sama film hitam putih (seperti gambaran saat melamun)," jelas perempuan usia 45 tahun itu.
Bagi Lisa, tarot bukan sekadar alat untuk membaca masa depan. Ia melihat kartu-kartu itu sebagai medium untuk membantu orang memahami dirinya sendiri. Karena itu, Lisa tak pernah ingin orang datang hanya untuk mendengar ramalan, lalu pulang tanpa mengubah apa pun. Ia mengaku lebih senang jika orang yang datang justru pulang dengan pola pikir yang lebih jernih dan arah hidup yang lebih jelas.
Menurut Lisa, tarot hanya pembuka. Selebihnya, hidup tetap harus dijalani dengan logika. Ia selalu menekankan bahwa hasil pembacaan spiritual tak seharusnya ditelan mentah-mentah. Apa pun yang disampaikan tetap harus bisa dipahami secara masuk akal dan menjadi bahan refleksi, bukan ketergantungan.
"Semua hasil dari paranormal harus bisa dilogikakan," ujarnya.
Selama 11 tahun menjadi tarot reader, Lisa mengaku tak pernah mematok harga. Ia juga tidak pernah memasang promosi khusus. Orang-orang yang datang mengenalnya dari mulut ke mulut, lalu kembali lagi karena merasa menemukan ruang untuk didengar.
Dalam sehari, Lisa biasanya menerima tiga hingga tujuh orang. Jumlah itu sengaja dibatasi agar setiap tamu punya cukup ruang untuk bercerita. Karena itu, konsultasi hanya dilayani lewat janji temu. Orang yang ingin berkonsultasi dapat menghubunginya lebih dulu melalui Instagram @Lisawoon09 untuk menentukan jadwal. Selain tatap muka, ibu dua anak itu juga melayani sesi daring lewat video call.
Dalam setahun, ia mengaku hanya libur sekitar dua minggu. Selebihnya, hampir setiap hari selalu ada orang datang dengan persoalannya masing-masing. Tak hanya dari Surabaya, beberapa kliennya juga berasal dari luar negeri seperti Amerika, Belanda, hingga Australia.
Dari sekian banyak orang yang datang, Lisa melihat sebagian besar sejatinya hanya butuh tempat untuk bercerita. Mereka datang bukan semata ingin tahu masa depan, tetapi sedang kehilangan arah dan butuh seseorang untuk membantu mengurai isi kepala mereka.
Ada banyak kisah yang membekas selama ia membuka ruang konsultasi. Lisa pernah menemui orang yang datang dalam kondisi nyaris mengakhiri hidup, lalu urung melakukannya setelah sesi konsultasi. Ada pula seseorang yang datang dalam keadaan hancur, kehilangan arah, dan keluarganya berantakan, lalu beberapa waktu kemudian berhasil bangkit hingga menjadi dokter. Pengalaman-pengalaman semacam itu, bagi Lisa, jauh lebih berharga daripada materi.
"Ada orang mau bunuh diri akhirnya ndak jadi bunuh diri, ketemu jalannya. Nah itu buat aku lebih dari duit," ungkapnya.
Bagi Lisa, nilai terbesar dari pekerjaannya bukan terletak pada uang atau seberapa banyak orang datang, melainkan saat seseorang pulang dengan kepala lebih tenang dan hidup yang terasa lebih utuh. 'Life to the fullest', prinsip itu pula yang ia pegang selama bertahun-tahun menjalani hidup.
(auh/hil)











































