Jawa Timur dikenal sebagai kawasan industrial terbesar kedua di Indonesia setelah wilayah Jabodetabek. Beberapa kabupaten atau kota yang merupakan sentra industri yaitu Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, dan Jombang. Daerah-daerah tersebut ditetapkan sebagai jantung penghasilan bagi Jawa Timur karena memiliki akses yang mudah ke Surabaya sebagai ibu kota provinsi.
Banyaknya wilayah industri di Jawa Timur menandakan bahwa masalah perburuhan yang ditemui pun sama banyaknya. Pemogokan buruh sering terjadi, silih berganti antar generasi. Lalu bagaimana sejarah pergerakkan buruh di Jawa Timur? Berikut rangkumannya.
Kompleks Perindustrian di Jawa Timur
Sebelum mengenang sejarah pergerakan buruh di Jawa Timur, detikJatim ingin mengajak detikers untuk mengetahui lebih dahulu tersebar di mana saja kompleks perindustriannya. Terdapat sedikitnya tiga kawasan industri di Jawa Timur, yakni sebagai berikut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut)
- PIER (Pasuruan Industrial Estate Rungkut)
- NIP (Ngoro Industrial Persada)
Diantara ketiganya, SIER lebih tak asing didengar. Sebab di daerah ini terdapat beberapa pabrik besar seperti Sampoerna, Indofood, Toshiba, dan merk-merk ternama lainnya.
Permasalahan awal yang terjadi di sana disebabkan karena daerah industri yang terpencil dan jauh dari akses-akses keramaian. Karena itu tingkat mobilitas dan persentuhan buruh dengan dunia luar sangat kurang, sementara buruh bekerja dan bermobilitas dengan sangat tinggi. Tingkat stres pun meningkat.
Sejarah Pergerakan Buruh Jawa Timur
Melansir buku Gerakan Buruh Indonesia karya Yudhi Rachman, perkembangan gerakan buruh di Jawa Timur mengalami peningkatan signifikan sejak pertengahan 1990-an. Periode ini ditandai dengan melonjaknya aksi pemogokan sekaligus tumbuhnya kesadaran kolektif buruh terhadap hak-hak mereka.
Pada tahun 1994 tercatat 314 aksi pemogokan, meningkat menjadi 428 aksi pada 1995, lalu 559 aksi pada 1996. Jumlah ini terus bertambah menjadi 607 aksi pada 1997 dan mencapai puncaknya pada 1998 dengan 788 aksi pemogokan.
Sekitar 60 persen aksi tersebut dipicu persoalan Upah Minimum Regional (UMR). Berikut sudah ditata ulang jadi alur sejarah yang lebih rapi dan enak dibaca. Dibagi subjudul supaya alurnya jelas dari data, fase kebangkitan, sampai dinamika aksi.
Masa Keemasan Gerakan Buruh di Jawa Timur
Gerakan buruh di Jawa Timur mulai memasuki fase yang sering disebut sebagai masa keemasan sejak tahun 1996. Momentum ini tidak lepas dari keterlibatan kelompok mahasiswa, khususnya Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang aktif melakukan advokasi terhadap buruh.
Aksi-aksi advokasi banyak dipusatkan di kawasan industri seperti Tanjungsari, Waru, Margomulyo, hingga Driyorejo di Gresik. Para aktivis SMID yang mayoritas mahasiswa berani menentang rezim otoriter saat itu, meskipun berisiko mengalami penangkapan dan pemenjaraan.
Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Dita Indah Sari bersama rekan-rekannya. Melalui advokasi tersebut, kesadaran buruh mulai tumbuh, meski masih pada tahap awal. Tuntutan yang diusung pun berkembang, tidak hanya soal kesejahteraan, tetapi juga menyentuh ranah politik seperti pembubaran dwifungsi ABRI dan pencabutan paket undang-undang politik.
Aksi-aksi Besar dan Mobilisasi Massa
Salah satu aksi yang cukup menonjol terjadi dalam demonstrasi buruh PT Maspion. Ratusan buruh melakukan aksi konvoi menggunakan sepeda motor dan truk menuju Surabaya. Aksi tersebut sempat dihadang di kawasan Bundaran Waru, yang mengakibatkan kemacetan total di pintu masuk kota dari arah selatan.
Memasuki awal 2000-an, gerakan buruh di Jawa Timur semakin berkembang dengan membawa isu-isu yang lebih luas, termasuk penolakan terhadap privatisasi dan dampak globalisasi.
Pada 7 Januari 2002, sekitar 3.000 buruh PT Perkebunan Nusantara XII melakukan demonstrasi di gedung DPRD Jember. Aksi ini dipicu oleh rencana perubahan status perusahaan menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setelah berakhirnya Hak Guna Usaha (HGU).
Sehari setelahnya, ribuan buruh PT Semen Gresik dari Gresik dan Tuban menggelar aksi mogok kerja. Mereka menolak rencana penjualan perusahaan kepada Cemex. Gelombang aksi juga melibatkan petani tebu dan pekerja perkebunan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Mereka menuntut pemerintah membatasi impor gula yang dianggap merugikan produksi dalam negeri. Salah satu slogan yang mencerminkan keresahan tersebut adalah, "Gula Nasional Hancur Karena Raw Sugar Dikonsumsi!"
Secara umum, gerakan buruh di Jawa Timur menunjukkan perkembangan dari yang semula berfokus pada tuntutan ekonomi menuju gerakan yang lebih politis dan struktural. Kesadaran kolektif ini tidak hanya dipicu oleh kondisi kerja, tetapi juga oleh dampak kebijakan negara dan arus globalisasi.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an turut memperkuat dinamika ini, di mana rakyat termasuk buruh sering kali menjadi pihak yang harus menanggung beban paling besar.
Dari situ, gerakan buruh berkembang menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih luas dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan yang sebagian besar diantaranya berhasil dirasakan hingga saat ini.
(ihc/irb)











































