Ngalam Mbois: Kisah Verra Tinggalkan Motor dan Pilih Gowes Setiap Hari

Ngalam Mbois: Kisah Verra Tinggalkan Motor dan Pilih Gowes Setiap Hari

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 27 Apr 2026 11:15 WIB
Verra memilih tinggalkan motor untuk bersepeda
Verra memilih tinggalkan motor untuk bersepeda/Foto: Dokumen pribadi Verra
Malang -

Di tengah hiruk pikuk kemacetan dan deru mesin kendaraan bermotor di Kota Malang, muncul sosok Verra Kusuma yang memilih jalan berbeda. Warga Kota Malang ini mengambil keputusan berani dengan bersepeda.

Terhitung sejak dua tahun lalu, Verra bersama suami telah menanggalkan sepeda motornya dan beralih sepenuhnya ke sepeda angin untuk menjalani rutinitas sehari-hari.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan bermula dari sebuah keresahan sederhana namun mendalam mengenai efisiensi waktu dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Verra menceritakan, titik baliknya bermula saat ia merasa jenuh harus menghabiskan waktu berharga hanya untuk mengantri di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Baginya, waktu yang terbuang saat mengantri bahan bakar bisa dialihkan untuk hal yang lebih bermanfaat.

ADVERTISEMENT

Ketidaksukaannya terhadap antrean tersebut memicu pertanyaan dalam dirinya mengenai alternatif transportasi yang tidak merepotkan, yang kemudian membawanya kembali pada kemudi sepeda.

"Ada keresahan pas mengantre buat beli bahan bakar. Karena aku ngerasa kayak, kenapa aku harus ngehabisin waktu buat ngantre bahan bakar? Akhirnya ya sudah kepikiran sepeda itu," ungkap Verra kepada detikJatim, Senin (27/4/2026).

Keputusan ini tidak hanya dijalani Verra seorang diri, melainkan juga didukung penuh oleh sang suami yang turut berkomitmen menggunakan sepeda. Pasangan ini bahkan memutuskan untuk tidak lagi memiliki sepeda motor di rumah mereka.

Verra memilih tinggalkan motor untuk bersepedaVerra memilih tinggalkan motor untuk bersepeda Foto: Dokumen pribadi Verra

Kendaraan bermotor yang sebelumnya mereka miliki kini telah dipindahkan ke rumah orang tua karena mereka merasa sudah tidak lagi membutuhkannya dalam aktivitas harian.

Jika memang dihadapkan pada situasi mendesak seperti faktor cuaca ekstrem atau barang bawaan yang terlalu banyak, Verra lebih memilih memanfaatkan layanan transportasi online sebagai solusi cadangan.

Meski terlihat menyenangkan, Verra mengakui bahwa adaptasi dari motor ke sepeda membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Tantangan terbesarnya adalah kedisiplinan waktu. Sebab, kecepatan sepeda tidak sebanding dengan motor, ia harus memiliki perhitungan yang matang agar tetap tepat waktu saat menghadiri janji atau bekerja.

Verra menyebut, ia harus menyiapkan waktu luang setidaknya 30 menit lebih awal agar bisa sampai di tujuan tanpa terlihat kelelahan atau berkeringat berlebihan, mengingat iklim tropis Indonesia yang cukup menyengat.

Namun, di balik tantangan tersebut, ia menemukan sisi lain dari Kota Malang yang tidak pernah ia sadari saat masih menggunakan kendaraan bermotor.

"Seminggu pertama memang berat, tapi masuk minggu kedua kayak kok enak ya. Kita jadi tahu ternyata ada bunga yang mekar itu bagus, kita jadi lebih sadar dengan sekitar yang nggak bisa dinikmati saat pakai kendaraan cepat," tuturnya.

Dengan bersepeda, Verra merasakan dampak langsung pada kesehatan fisiknya, di mana bersepeda membantunya menjaga kebugaran tubuh secara alami.

Di sisi lain, Verra mengaku dengan bersepeda, dirinya banyak dapat berhemat biaya pengeluaran. Jika dihitung, dalam setahun untuk kebutuhan BBM hampir sebesar Rp 2,3 juta. Belum lagi biaya servis motor Rp 900 ribu, penggantian ban Rp 628 ribu, servis Rp 900 ribu.

"Untuk biaya harian, parkir misalnya bisa sampai Rp 1 juta per tahun. Jadi dengan bersepeda kita bisa berhemat," tegasnya.

Sebagai seorang perempuan pesepeda, Verra tidak menampik adanya tantangan sosial di jalanan, termasuk isu keamanan dan tindakan tidak menyenangkan seperti catcalling.

Ia pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan saat melewati area persawahan, namun ia memilih untuk bersikap tegas dan berani menegur pelaku demi menjaga harga dirinya sebagai pengguna jalan.

"Jadi mau nggak mau kalau memang ada kejadian di jalan seperti itu ya kita berani, minimal menegur," ucapnya.

Selain faktor sosial, ia juga menyoroti infrastruktur di Indonesia, termasuk Malang, yang dinilainya masih kurang ramah terhadap pesepeda dan pejalan kaki karena jalur khusus yang masih sangat terbatas.

Walaupun harus sering mengalah dengan kendaraan besar dan menghadapi keterbatasan fasilitas jalan, semangat Verra untuk terus mengayuh pedal tidak surut.

"Kita sudah minggir, tapi tetap kadang harus turun dari aspal," tuturnya.

Baginya, bersepeda dapat memberikan kontribusi kecil untuk menjaga bumi. Selain ketenangan pikiran yang jauh lebih berharga daripada kenyamanan sesaat di atas kendaraan bermotor.

"Dengan bersepeda kita bisa menjaga bumi, selain merasakan kebebasan," pungkasnya.

Ngalam Mbois adalah rubrik spesial detikJatim yang mengupas seputar seluk-beluk, capaian, prestasi, dan kelokalan khas yang ada di Malang Raya. Ngalam Mbois tayang setiap hari Senin.



(mua/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads