Berdiri Sejak 1933, Toko Wan Cu Sidoarjo Bertahan di Tengah Ritel Modern

Berdiri Sejak 1933, Toko Wan Cu Sidoarjo Bertahan di Tengah Ritel Modern

Suparno - detikJatim
Sabtu, 25 Apr 2026 18:00 WIB
Toko Redjo yang berada di Jalan Gajah Mada Sidoarjo berdiri pada tahun 1933
Toko Redjo yang berada di Jalan Gajah Mada Sidoarjo berdiri pada tahun 1933 (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Di Jalan Gajah Mada, pusat Kota Sidoarjo, berdiri sebuah toko tua yang masih bertahan lintas zaman. Toko itu bernama Toko Rejo, namun lebih dikenal masyarakat sebagai Toko Wan Cu.

Didirikan pada 1933, toko ini menjadi salah satu saksi sejarah perdagangan di Sidoarjo sejak masa kolonial.

Usaha tersebut dirintis oleh The Thwan Tjioe, seorang kepala keluarga keturunan Tionghoa yang juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan perjuangan pada masanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini, bangunan toko masih mempertahankan bentuk aslinya. Pintu-pintu kayu yang terpasang sejak awal berdiri tetap digunakan dan dirawat, memberikan nuansa klasik yang kental di tengah perkembangan kota.

Pewaris generasi ketiga, Effendy Tedjokusumo, mengatakan dirinya mulai terlibat mengelola toko sejak 2008, mendampingi sang ayah, The Hwei Kwan, yang sebelumnya meneruskan usaha keluarga sejak 1965.

ADVERTISEMENT

"Setelah papa meninggal pada 2016, saya melanjutkan untuk menjaga dan melestarikan toko ini," ujar Effendy kepada detikJatim di tokonya, Jumat, (24/4/2026).

Toko Redjo yang berada di Jalan Gajah Mada Sidoarjo berdiri pada tahun 1933Toko Redjo yang berada di Jalan Gajah Mada Sidoarjo berdiri pada tahun 1933 Foto: Suparno/detikJatim

Menurut dia, nama 'Wan Cu' berasal dari pelafalan masyarakat terhadap nama sang kakek, The Thwan Tjioe. Seiring waktu, nama tersebut justru lebih melekat dibanding nama resminya, Toko Rejo.

Sejak awal berdiri, Toko Wan Cu dikenal menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari perlengkapan rumah tangga, alat usaha kecil, hingga barang-barang khas yang kini tergolong langka.

Beberapa produk yang masih dipertahankan antara lain timbangan duduk, lampu tempel (teplok), lampu petromaks, hingga perlengkapan sembahyang seperti hio atau dupa. Selain itu, toko ini juga menjual aneka permen jadul seperti permen jahe, permen minyak kayu putih, hingga manisan khas.

"Barang-barang lama itu tetap kami pertahankan karena masih ada yang mencari. Ada nilai sejarah sekaligus nostalgia di situ," kata Effendy.

Ia mengakui, perubahan pola belanja masyarakat menjadi tantangan tersendiri. Kehadiran ritel modern dan toko daring membuat sejumlah produk lama tak lagi diminati.

"Dulu kami jual kue kaleng dan kurma saat Lebaran, sekarang sudah tidak lagi karena orang lebih memilih belanja di minimarket. Jadi kami menyesuaikan dengan kebutuhan yang masih dicari," ujarnya.

Meski demikian, Effendy tetap optimistis usaha keluarga ini dapat terus bertahan. Ia berupaya menyeimbangkan antara menjaga nilai historis toko dan mengikuti perkembangan zaman.

"Yang penting kami tetap melayani masyarakat. Sambil mempertahankan sejarah, kami juga terus beradaptasi agar tetap relevan," kata dia.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads