CATATAN: Depresi dan keinginan bunuh diri adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau layanan darurat Healing 119. Anda tidak sendirian.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, Jembatan Cangar di Kota Batu dua kali menjadi lokasi tragedi bunuh diri dengan pola kejadian yang nyaris serupa. Dua pemuda dari daerah berbeda ditemukan tewas di dasar jurang, setelah sebelumnya sama-sama terlihat seorang diri di atas jembatan dan meninggalkan jejak yang hampir identik.
Kesamaan pola dua kasus ini membuat Jembatan Cangar kembali menjadi sorotan. Mulai rekaman momen terakhir korban, temuan sepeda motor dan sandal di bibir jembatan, hingga munculnya pembahasan fenomena Werther Effect.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah kasus MMA (24) warga Mojokerto yang bunuh diri pada akhir Maret lalu, tragedi serupa kembali terjadi saat DPW (24) warga Lumajang ditemukan meninggal di dasar jurang bawah Jembatan Cangar 1, Kamis (23/4/2026).
Kesamaan dua kasus ini terlihat sejak momen sebelum tragedi terjadi. Pada kasus DPW, dua rekaman video pemotor yang viral memperlihatkan korban seorang diri di atas jembatan.
Dalam satu video, korban tampak jongkok sambil melamun menghadap sepeda motor Vixion miliknya yang terparkir di tepi jembatan. Dalam video lain, korban terlihat berdiri di dekat pembatas jembatan, bahkan sempat ditanya pemotor yang melintas, "Mas ngapain?" sambil kendaraan terus berjalan.
Pola serupa juga pernah muncul pada kasus MMA. Sebelum ditemukan meninggal, korban sempat viral terekam melamun di lokasi yang sama. Kesamaan momen sebelum kejadian ini memperkuat sorotan bahwa dua tragedi di Cangar tidak hanya terjadi di lokasi yang sama, namun juga memperlihatkan pola perilaku yang mirip.
Kesaksian petugas Tahura Raden Soerjo menambah gambaran detik-detik sebelum tragedi DPW terjadi. Robi mengaku sempat melihat korban duduk di atas motor sambil merokok sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu, ia tidak menaruh curiga karena mengira korban hanya beristirahat.
"Emang korban awalnya duduk di atas motornya sambil ngerokok dan lihat-lihat pohon-pohon. Kemudian saya turun (dari arah Cangar menuju Pacet). Terus (saya) kembali lagi itu posisi masih sama (korban duduk di atas motor)," terang Robi.
"(Saya gak nyamperin korban) karena saya kira di situ cuman istirahat, soalnya waktu itu kan pas jam kerja," imbuhnya.
Kemiripan juga terlihat dari barang bukti yang ditemukan di dua kasus tersebut. Pada kasus DPW, polisi mendapati sepeda motor terparkir di tepi jembatan dan sepasang sandal di bibir jembatan. Dalam kasus MMA sebelumnya, pola temuan barang bukti juga disebut serupa.
Kasat Reskrim Polres Batu AKP Joko Suprianto mengatakan, laporan awal justru bermula dari kecurigaan warga yang melihat kendaraan dan sandal di lokasi. Warga yang mengingat pernah ada kasus serupa di titik itu, lalu memeriksa ke dasar jurang dan menemukan korban.
"Kami awalnya mendapatkan laporan dari warga. Warga itu mendapati ada sepeda motor yang terparkir di pinggir jembatan, kemudian adanya sepasang sandal yang ada di bibir jembatan," terang Joko.
"Kemudian warga tersebut menghampiri lokasi sandal, mengingat sebelumnya ada kasus bunuh diri. Warga yang curiga kemudian melihat ke dasar sungai dan melihat korban meninggal dunia di dasar sungai," sambungnya.
Dari olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan barang bukti berupa sepeda motor Vixion, dompet milik korban, serta sandal hitam putih di bibir jembatan. Polisi hingga kini masih mendalami motif dan penyebab pasti kematian korban.
"Barang bukti yang kami temukan berupa satu unit sepeda motor merk Vixion yang diduga milik korban, satu dompet warna hitam di saku korban dan kami juga menemukan sepasang sandal warna hitam putih di bibir jembatan," terangnya.
"Dari olah TKP ini kami masih terus melakukan pendalaman-pendalaman karena segala kemungkinan bisa terjadi. Untuk itu kami mohon waktu karena proses penyelidikan masih kami lakukan," imbuhnya.
Berulangnya dua tragedi dalam waktu berdekatan di lokasi yang sama membuat Jembatan Cangar kembali dipandang sebagai titik rawan. Tak hanya soal aspek keamanan fisik jembatan, kejadian ini juga memunculkan pembahasan lebih luas mengenai fenomena Werther Effect, yakni kecenderungan tindakan bunuh diri yang dapat ditiru setelah seseorang terpapar kasus serupa.
Fenomena ini menjadi sorotan karena dua peristiwa di Cangar menunjukkan kemiripan yang mencolok, mulai dari korban yang datang seorang diri, momen melamun sebelum kejadian, barang bukti yang ditinggalkan, hingga dugaan metode yang sama.
Dalam psikologi, paparan terhadap peristiwa serupa pada individu rentan dapat memunculkan risiko peniruan, sehingga penanganan kasus bunuh diri dinilai tak cukup hanya melalui penyelidikan hukum, tetapi juga pendekatan pencegahan kesehatan mental.
Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto mengatakan, Pemkot Batu telah mempersiapkan langkah-langkah yang akan dilakukan sebagai langkah antisipasi maupun pencegahan agar kejadian bunuh diri tidak terjadi lagi, utamanya di wilayah Kota Batu.
"Kami akan segera mengirimkan surat resmi dan duduk bersama Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur. Tujuannya untuk mengusulkan pemasangan pagar pengaman atau jaringan pengaman lain di titik-titik rawan yang sering disalahgunakan," ungkapnya.
Tak hanya itu, Heli berkomitmen untuk memastikan penerangan di sekitar jembatan berfungsi dengan baik. Agar area tersebut tidak menjadi titik sunyi yang pada akhirnya akan disalahgunakan salah satunya untuk bunuh diri.
Ia menambahkan, Pemkot Batu juga akan melakukan peningkatan pengawasan dengan beberapa cara yang tengah dibahas untuk mencegah kasua bunuh diri terulang di Jembatab Cangar. Salah satunya dengan mengintegrasikan CCTV di area jembatan ke dalam Command Center Kota Batu.
(auh/hil)











































