Jembatan Cangar ternyata menyimpan jejak sejarah panjang yang tak banyak diketahui. Akses vital yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto dengan Kota Batu ini awalnya hanyalah jalan setapak yang dibuka pada masa pendudukan Jepang sekitar 1940-an.
Seiring waktu, jalur tersebut berkembang dan menjadi bagian penting dalam mobilitas warga hingga kepentingan militer, termasuk saat Agresi Militer Belanda I. Lalu, bagaimana sebenarnya awal mula jalur dan jembatan di Cangar ini terbentuk hingga menjadi penghubung penting seperti sekarang?
Geografis Jembatan Cangar
Jembatan Cangar berada di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL). Sungai yang berada di bawah jembatan memiliki arus deras yang melewati air terjun Watu Lumpang, air terjun Watu Ondo, serta Coban Cangar yang berada di kawasan Gunung Welirang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jembatan yang memiliki tinggi kurang lebih 5 meter dan lebar 8 meter ini membentang di wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Suryo untuk menghubungkan kota Batu dengan Kabupaten Mojokerto.
Awal Mula Berdirinya Jembatan Cangar di Masa Jepang dan Belanda
Jembatan Cangar awalnya bukan dibangun untuk jalan raya seperti sekarang. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), jalur ini hanya berupa jalan pintas di tengah hutan untuk memangkas rute. Sebab, jika melewati jalur utama, mereka harus memutar jauh melewati Sidoarjo.
Saat itu, akses yang ada masih sangat sederhana. Jembatan Cangar belum ada wujudnya. Para tentara Jepang membuat jalan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan gerobak.
Merangkum dari berbagai sumber, kala itu, masyarakat pribumi "difungsikan" sebagai porter atau pesuruh pembawa barang bawaan untuk membawa beragam kebutuhan para serdadu.
Selain untuk mobilisasi pasukan, jalur ini juga dimanfaatkan sebagai akses menuju titik pemantauan di Gunung Arjuno, sekaligus menjadi bagian dari sistem logistik perang. Hal itu diperkuat dengan adanya gua-gua di kawasan Cangar.
Di sekitar jalur tersebut memang terdapat gua-gua yang dibangun pada masa Jepang. Lagi-lagi, tenaga pribumi digunakan untuk pembangunan gua-gua ini.
Mereka menyebut gua tersebut hendak digunakan sebagai tempat perlindungan warga dari serangan udara. Namun, ternyata digunakan untuk menyimpan perbekalan hingga harta rampasan perang.
Tak hanya berhenti di masa pendudukan Jepang. Perbudakan pribumi masih berlanjut saat Agresi Militer Belanda 1 tahun 1947. Tidak banyak sistem yang berubah.
Warga pribumi masih "bertugas" sebagai porter. Kadangkala mereka juga menjadi penunjuk jalan menuju Batu. Sebab, Belanda bertujuan menyerang daerah Malang melalui Batu.
Beberapa sumber menyebut, kondisi jalur Cangar hingga masa penjajahan Belanda masih sangat asri. Belum terlihat ada jembatan yang menjulang.
Kapan Pertama Kali Jembatan Cangar Dibangun?
Ada dua versi berbeda mengenai kapan pertama kali jalur setapak peninggalan Jepang tersebut berubah menjadi Jembatan Cangar yang dikenal hingga saat ini. Versi pertama menyebut, jembatan di kawasan ini sudah mulai dibangun secara permanen pada kisaran 1970 hingga 1980-an.
Sebelum dibangun permanen sudah terdapat konstruksi kayu yang sudah ada sejak kependudukan Jepang. Namun, versi lain yang disampaikan warga Sumberbrantas menjelaskan bahwa kala itu kondisi awal kawasan ini tidak memungkinkan adanya jembatan kayu karena berupa jurang dalam.
Warga zaman dulu justru melewati jalur ekstrem bernama "Watu Ondo", yakni tebing batu yang menyerupai tangga alami untuk turun naik menuju Pacet. Jalur ini bahkan masih digunakan hingga sekitar 1980-an sebelum proses pembukaan jalan besar baru dimulai sekitar 1988.
Adapun jalur penghubung Mojokerto-Batu ini baru selesai diaspal pada tahun 1994 hingga 1995, sehingga mulai banyak dimanfaatkan oleh pemudik maupun wisatawan.
Meski sekarang menjadi akses penting, medan yang melintasi Gunung Welirang dan Gunung Arjuno ini dikenal curam serta rawan longsor, sehingga pengendara tetap perlu berhati-hati saat melintas.
Itulah informasi seputar Jembatan Cangar. Keindahan alam di sekitarnya memang patut diacungi jempol. Namun tetap ingat selalu untuk berhati-hati saat melewatinya, mengingat Jembatan Cangar merupakan kawasan rawan longsor dan memiliki medan curam.
(irb/hil)











































