Perjuangan Uut Hidupi 3 Anak dari Memotret di Depan KBS

Perjuangan Uut Hidupi 3 Anak dari Memotret di Depan KBS

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 21 Apr 2026 18:15 WIB
Uut, fotografer perempuan di Kebun Binatang Surabaya.
Uut, fotografer perempuan di Kebun Binatang Surabaya/Foto: Aprilia Devi/detikJatim
Surabaya -

Di tengah ramainya pengunjung kawasan ikonik Kebun Binatang Surabaya (KBS), Uut (44) setia berdiri di balik kameranya sejak pagi hingga sore. Dari jasa foto mulai harga Rp 10 ribu, perempuan asal Sidoarjo ini menghidupi tiga anaknya seorang diri.

Sudah tiga tahun terakhir Uut menekuni profesi sebagai fotografer di kawasan KBS. Namun, kecintaannya pada dunia fotografi sebenarnya sudah tumbuh sejak lama.

"Kalau fotografer (di KBS) masih 3 tahun. Cuma berkecimpung di dunia fotografi sudah lama," ujarnya, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan hidupnya tidak langsung mengarah ke dunia fotografi. Ia pernah berpindah-pindah pekerjaan demi bertahan hidup. "Awalnya di marketing dulu. Sampai gimana caranya bisa kerja gitu," kenangnya.

ADVERTISEMENT

Inspirasi menjadi fotografer datang dari hal sederhana. Setiap kali melewati lokasi tempat para fotografer bekerja, Uut merasa tertantang.

"Kok orang-orang bisa ya gitu (jadi fotografer). Berarti aku juga harus bisa," katanya.

Tanpa pendidikan formal, Uut belajar secara otodidak. Ia mengasah kemampuan dengan memotret sendiri, lalu meminta masukan dari teman.

"Kalau menurut kita kurang bagus nanti ditunjukin ke teman. Gimana ini kurang apa," ungkapnya.

Namun, di balik proses belajar itu, kehidupan pribadi Uut tak mudah. Ia harus menghadapi kenyataan berpisah dari suami saat anak-anaknya masih kecil. Kondisi itu memaksanya mencari berbagai cara untuk tetap bertahan.

Sebelum menjadi fotografer, Uut sempat berjualan di kawasan Unesa Wiyung. Namun pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Kebijakan lockdown membuat penghasilannya terhenti. Dari situ, ia mulai mencari jalan lain.

"Terus selama-kelamaan di sana kan waktu Corona itu kena lockdown. Jadi gimana caranya saya bertahan hidup sama anak-anak tuh. Ya, cari inspirasi kerjaan lain. Kok akhirnya cocok sampai sekarang gitu," tuturnya.

Kini, ia bisa bekerja hingga sore, bahkan pukul 16.00 atau 17.00 WIB. Selain di KBS, ia juga mengambil pekerjaan di berbagai acara kampus seperti wisuda. Pendapatannya pun tidak menentu. Saat libur panjang, pelanggan bisa ramai dan penghasilan meningkat. Namun di hari biasa, ia harus berjuang keras.

"Kalau libur panjang sih ramai-ramai saja ya. Cuman pas kalau hari-hari biasa ya kembali setelan awal," katanya.

Meski begitu, Uut tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik. Baginya, menjadi fotografer bukan sekadar memotret, tetapi juga membangun interaksi.

"Ya kita harus bisa bicara bagus sama customer, bisa murah senyum lah, bisa menghibur," tuturnya.

Ia menawarkan tarif yang terjangkau, mulai Rp 10.000 hingga Rp 20.000 tergantung ukuran cetakan. Pelanggan juga mendapatkan file foto. Uut memberi kebebasan kepada pelanggan untuk memilih hasil terbaik tanpa paksaan.

"Kita foto berulang kali itu cuma buat pilihan saja. Jadi seandainya kakaknya pengin ngambil satu ya boleh, terserah mana yang disuka. Kita enggak pernah maksa," jelasnya.

Soal jumlah pelanggan, ia tak pernah bisa memprediksi. Semua bergantung pada kondisi hari itu dan rezeki yang datang.

"Enggak menentukan saya kalau masalah customer, dapatnya itu enggak bisa diprediksi," pungkasnya.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads