Psikolog: Pelecehan Seksual Digital Bisa Picu Trauma hingga Depresi

Psikolog: Pelecehan Seksual Digital Bisa Picu Trauma hingga Depresi

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Senin, 20 Apr 2026 23:45 WIB
Ilustrasi Pelecehan dan Penelantaran Anak
Ilustrasi pelecehan (Foto: iStock)
Surabaya -

Kasus dugaan pelecehan seksual verbal di lingkungan kampus yang terjadi melalui grup percakapan kembali menjadi sorotan. Meski tidak melibatkan kontak fisik, tindakan berupa komentar tentang tubuh atau pembicaraan bernuansa seksual di ruang digital tetap tergolong sebagai pelecehan yang berdampak serius bagi korban.

Pakar psikologi dari Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana Mc MPSi menyebut bahwa pelecehan pada dasarnya dapat merusak rasa aman dan harga diri para korban. Dalam konteks digital, dampaknya bisa lebih berat karena korban tidak memiliki kontrol atas situasi yang terjadi.

"Ketika pelecehan dilakukan di grup digital, di mana korban tidak berada di dalamnya, maka luka bisa semakin intens dirasakan karena korban tidak punya kontrol atau tidak punya kuasa membela diri, merasa dipermalukan secara publik, dan kekhawatiran jejak digital yang bisa berdampak panjang," jelasnya kepada detikJatim pada Senin (20/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi dampak, korban pelecehan seksual digital dapat mengalami berbagai gangguan psikologis. Mulai dari stres akut hingga depresi akibat perasaan malu dan tidak berdaya, gangguan kecemasan karena kekhawatiran berlebih, hingga trauma berat seperti post-traumatic stress disorder.

ADVERTISEMENT

Viralnya kasus di media sosial juga menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, perhatian publik dapat membantu pemulihan korban jika fokus pemberitaan menyoroti dampak yang dialami korban serta mendorong penegakan sanksi terhadap pelaku.

Namun di sisi lain, penyebaran luas konten pelecehan justru berpotensi memperparah kondisi korban ketika fokus pemberitaan justru isi dari konten pelecehan.

"Tanpa viral pun, korban sudah merasa dilecehkan oleh banyak orang (anggota grup), apalagi ketika konten menjadi semakin tersebar luas. Korban bisa jadi merasa dilecehkan di muka publik," terangnya.

Secara teori, pelecehan dipicu dorongan pelaku untuk mendominasi, mengontrol, atau menunjukkan kuasa, termasuk karena ketidakmampuan mengendalikan dorongan seksual. Faktor lain seperti trauma hingga paparan konten pornografi juga dapat memengaruhi perilaku tersebut.

Dalam konteks kelompok, individu kerap kehilangan kesadaran diri karena merasa menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar. Kondisi ini membuat seseorang cenderung mengikuti norma mayoritas, termasuk saat percakapan mengarah pada hal-hal seksual.

"Ketika percakapan terjadi di grup digital, seseorang bisa jadi berpikir bahwa identitas mereka aman, percakapan tidak akan bocor keluar grup, sehingga semakin mendorong mereka untuk melepas kontrol diri dan menyampaikan opini sebebas mungkin. Apalagi ketika mendapatkan reward (pujian/perhatian, komen, like) dari anggota grup lain," jelasnya.

Untuk pemulihan, penanganan terhadap korban perlu difokuskan pada stabilisasi emosi, pengurangan gejala trauma, serta pemulihan kesehatan mental melalui bantuan profesional. Dukungan dari lingkungan terdekat juga menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.

"Korban membutuhkan validasi emosi agar dapat memaknai pengalaman ini secara obyektif dan tidak melakukan self-blaming yang bisa meningkatkan risiko," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads