Keren! Mahasiswa Ubaya Bikin Tas dari Serabut Kelapa

Keren! Mahasiswa Ubaya Bikin Tas dari Serabut Kelapa

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Kamis, 16 Apr 2026 02:00 WIB
Mahasiswa Ubaya Bikin Tas Serabut Kelapa
Mahasiswa Ubaya Bikin Tas Serabut Kelapa (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Empat mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) menciptakan tas ramah lingkungan berbahan serabut kelapa. Inovasi ini menarik perhatian karena tas tersebut dapat terurai secara alami saat sudah tidak digunakan.

Mahasiswa tersebut adalah Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar. Produk ini merupakan hasil tugas kelompok dalam mata kuliah Sustainability Concept yang dibimbing oleh Dr. Christabel Annora Paramita Parung.

Ide pembuatan tas ini berangkat dari keresahan terhadap dampak industri fesyen yang dinilai menyumbang limbah cukup besar. Tim kemudian mencari alternatif bahan pengganti kulit yang lebih ramah lingkungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami akhirnya sepakat untuk menggunakan serabut kelapa. Selain karena Indonesia merupakan salah satu negara penghasil serabut kelapa terbesar di dunia, harganya juga sangat murah dan bahannya kuat. Motif dan teksturnya juga sangat unik," ujar Johan pada Selasa (14/4/2026).

Dalam prosesnya, mereka melakukan eksplorasi pengolahan serabut kelapa guna memperoleh tekstur dan daya tahan yang sesuai. Setelah melalui beberapa tahap uji coba, mereka akhirnya memilih menggunakan campuran tepung tapioka dan air yang dimasak secara perlahan sebagai perekat, dengan tambahan gliserin untuk meningkatkan fleksibilitas lembaran yang dihasilkan.

ADVERTISEMENT

Untuk memperkuat nilai estetika sekaligus memberikan sentuhan unik, produk tersebut kemudian dilengkapi dengan aksesoris berisi bibit bunga seperti bunga matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby's breath.

"Selain bahan baku, kami memastikan bahan perekatnya juga tetap ramah lingkungan. Ketika tas ini sudah rusak dan tidak dapat digunakan, tas dapat ditanam dan diuraikan secara natural oleh alam. Kemudian, bibit-bibit bunganya dapat tumbuh," lanjutnya.

Proses pembuatan tas dilakukan dengan mengoleskan perekat pada serabut kelapa yang telah disemprot air, kemudian dikeringkan hingga membentuk lembaran. Lembaran tersebut selanjutnya dijahit secara manual menjadi tas.

Namun, proses produksi tidak lepas dari tantangan, terutama pada tahap pengeringan yang masih bergantung pada sinar matahari.

"Ketika kami mengerjakan tas ini, kebetulan sedang musim hujan. Jadi, proses pengeringannya menjadi jauh lebih lama. Tidak hanya itu, proses menjahit lembaran menjadi tas juga sangat sulit karena masih dilakukan manual dengan jahit tangan," jelasnya.

Selain itu, hambatan juga muncul pada proses perekatannya. Hal ini karena seluruh bagian tas menggunakan lem, setiap komponen harus menunggu hingga cukup kering sebelum disambungkan dengan bagian lainnya, sehingga membuat proses produksi menjadi lebih memakan waktu.

Meski belum diproduksi secara massal, Johan dan tim berharap inovasi ini dapat mendorong pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif fesyen ramah lingkungan di Indonesia.

"Kita di Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan fesyen yang ramah lingkungan sebenarnya. Tinggal inisiatif dan berani untuk melakukan eksperimen dalam pemanfaatannya," terangnya.

Adapun target pasar inovasi ini menyasar masyarakat yang menyukai bahan alami serta memiliki kepedulian tinggi terhadap isu berkelanjutan.

"Bisa dibilang juga bagi orang yang sadar lingkungan, mengutamakan kualitas daripada kuantitas, menyukai kesederhanaan, menghargai proses alami dan keaslian," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads