Cegah Kekerasan Seksual Anak, Mahasiswi Ubaya Bikin Boneka 'Jangan Sentuh!'

Cegah Kekerasan Seksual Anak, Mahasiswi Ubaya Bikin Boneka 'Jangan Sentuh!'

Anastasia Trifena - detikJatim
Selasa, 03 Mar 2026 23:40 WIB
Mahasiswi Ubaya Ciptakan Boneka Sensor Jangan Sentuh! untuk Edukasi Seksual Anak Usia Dini
Sentasi, Boneka Edukatif Bersensor Sentuh Karya Mahasiswi Ubaya (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Mahasiswi Program Studi Desain dan Manajemen Produk, Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan boneka edukatif yang bisa berbunyi "Jangan Sentuh!". Boneka ini dirancang untuk membantu edukasi seksual anak usia 3-6 tahun dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Boneka tersebut akan mengeluarkan suara "Jangan Sentuh!" ketika bagian tubuh tertentu dipegang. Fitur ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran tentang sentuhan aman dan tidak aman sejak usia dini.

Karya ini diberi nama Sentasi, singkatan dari Sentuhan Aman dan Tidak Aman. Sentasi dirancang oleh Amelia Margaretha Suprapto. Terdapat dua jenis boneka yang disesuaikan dengan jenis kelamin, yakni karakter perempuan bernama Luna dan karakter laki-laki bernama Luca. Keduanya memiliki tinggi sekitar 50 sentimeter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Boneka dilengkapi sensor sentuh di beberapa area tubuh, seperti wajah, dada, alat kelamin, dan pantat. Saat bagian tersebut ditekan, boneka akan langsung bersuara "Jangan Sentuh!" sebagai bentuk peringatan.

Tak hanya dilengkapi sensor suara, Luna dan Luca juga memiliki tiga ekspresi wajah yang dapat dilepas pasang, yaitu senang, sedih, dan marah. Fitur ini mendukung metode pembelajaran melalui bermain peran (role play).

ADVERTISEMENT

Ketika bagian tubuh terlarang disentuh, ekspresi boneka bisa diganti menjadi marah atau sedih sebagai simbol penolakan. Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar memahami respons emosi yang tepat saat mengalami sentuhan tidak aman.

Pakaian boneka juga dapat dilepas pasang menggunakan velcro. Boneka dilengkapi atasan dan pakaian dalam untuk membantu menjelaskan bagian tubuh yang tidak boleh dipegang orang lain secara lebih jelas.

Di bagian belakang boneka terdapat saklar on-off serta port pengisian daya tipe C. Sistemnya menggunakan baterai isi ulang (rechargeable) sehingga lebih praktis digunakan.

Ide pembuatan Sentasi muncul dari keresahan Amel, mahasiswi ubaya, melihat maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak. Ia kemudian melakukan riset dan wawancara dengan psikolog anak, guru TK, serta orang tua. Dari hasil penelitian tersebut, Amel menemukan bahwa edukasi seksual sebaiknya dikenalkan sejak usia 3-6 tahun, dimulai dari materi sentuhan aman dan tidak aman.

"Edukasi seksual untuk pertama kali banget diperkenalkan (kepada anak) itu tentang materi sentuhan aman dan tidak aman. Makanya itu saya bikin boneka ini," ujar Amel kepada detikJatim, Senin (2/3/2026).

Proses penciptaan Boneka Sentasi memakan waktu sekitar satu tahun. Dimulai dari pencarian ide di semester 5 hingga pengumpulan sebagai tugas akhir pada semester 7. Untuk pembuatan fisik boneka, Amel mengerjakan hampir seluruh prosesnya sendiri, mulai dari menjahit hingga merakit rangkaian elektronik.

"Jadi ini bonekanya saya jahit tangan sendiri. Dua-duanya semuanya, baju-bajunya juga (saya jahit sendiri)," tuturnya.

Karya tersebut juga dipresentasikan dalam kegiatan sosialisasi edukasi seksual bagi anak-anak di Kelompok Belajar Sanggar Kreativitas Ubaya pada Rabu (21/1/2026).

Mahasiswi Ubaya Ciptakan Boneka Sensor Mahasiswi Ubaya Ciptakan Boneka Sensor "Jangan Sentuh!" untuk Edukasi Seksual Anak Usia Dini Foto: Istimewa

Boneka Sentasi mendapat respons positif, baik dari anak-anak maupun orang tua. Salah satu orang tua, Bunga Lia, mengapresiasi inovasi tersebut.

"Pendidikan seksual sejak dini memang sangat penting diberikan kepada anak-anak, apalagi di zaman sekarang. Lebih menarik lagi karena dilakukan sambil bermain, jadi anak kecil memahaminya lebih mudah," ucap Bunga.

Melalui Sentasi, Amel berharap orang dewasa memiliki media yang lebih mudah dan tidak canggung dalam menyampaikan edukasi seksual kepada anak. Menurutnya, penting bagi anak-anak untuk mengenali batasan tubuhnya sendiri agar mampu melindungi diri dari kekerasan seksual yang saat ini masih marak terjadi.

Inovasi ini menjadi contoh bagaimana kreativitas mahasiswa dapat berkontribusi pada solusi edukatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak sejak usia dini.




(ihc/ihc)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads