Kenapa Gunung Semeru Erupsi Setiap Hari?

Kenapa Gunung Semeru Erupsi Setiap Hari?

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 15 Apr 2026 05:00 WIB
Aktivitas vulkanis Gunung Semeru.
Aktivitas vulkanis Gunung Semeru. Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Malang -

Sepanjang April 2026, Gunung Semeru tercatat mengalami erupsi hampir setiap hari dengan intensitas dalam berbagai skala. Pola letusan yang berulang ini memunculkan pertanyaan, apa penyebab Semeru terus erupsi?

Menurut PVMBG, hal ini berkaitan dengan karakter unik sistem vulkanik Gunung Semeru yang membedakannya dari banyak gunung api lain di Indonesia. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Karakter Erupsi Gunung Semeru

Untuk memahami kenapa Gunung Semeru erupsi hampir setiap hari, penting melihat karakter aktivitas vulkaniknya. Berdasarkan informasi PVMBG, secara umum, gunung api aktif memiliki dua jenis erupsi, yakni efusif dan eksplosif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Erupsi efusif terjadi saat magma keluar perlahan tanpa ledakan besar, membentuk aliran lava, kubah lava, atau lidah lava di sekitar puncak. Sementara itu, erupsi eksplosif ditandai dengan letusan yang melontarkan material vulkanik ke udara.

Pada Gunung Semeru, aktivitas erupsinya didominasi tipe strombolian dan vulkanian, yang dapat terjadi dengan frekuensi tinggi, bahkan mencapai 3-4 kali dalam satu jam.

ADVERTISEMENT

Letusan vulkanian bersifat eksplosif dan mampu menghancurkan kubah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara itu, letusan strombolian cenderung membentuk kubah lava baru disertai lontaran material pijar.

Kenapa Gunung Semeru Erupsi Setiap Hari?

Dilansir dari jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta, pola erupsi yang berulang dalam waktu singkat menunjukkan bahwa energi dari dalam bumi dilepaskan secara terus-menerus dalam skala kecil hingga menengah.

Hal ini berkaitan dengan sistem saluran magma Semeru yang relatif terbuka (open conduit), sehingga tekanan gas tidak menumpuk lama. Akibatnya, energi tidak terkumpul menjadi letusan besar, melainkan dilepaskan sedikit demi sedikit dalam bentuk erupsi kecil namun sering.

Dilansir dari jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta, kondisi ini berkaitan dengan sistem saluran magma Gunung Semeru yang relatif terbuka (open conduit), sehingga tekanan gas di dalam perut bumi tidak tersimpan terlalu lama, dan justru dilepaskan sedikit demi sedikit.

Inilah yang membuat Semerubisa erupsi hampir setiap hari, bahkan dalam interval singkat antara menit hingga jam. Sebagai perbandingan, gunung api dengan sistem tertutup cenderung menahan tekanan lebih lama, sehingga letusannya bisa jauh lebih besar dan destruktif.

Dampak Aktivitas Erupsi Gunung Semeru

Letusan Semeru umumnya berupa semburan abu vulkanik, lontaran material pijar, hingga guguran lava dari ujung lidah lava. Dalam kondisi tertentu, aktivitas ini dapat berkembang menjadi runtuhan kubah lava yang memicu aliran piroklastik.

Material panas dari erupsi Gunung Semeru bahkan mampu meluncur sejauh 5-12 kilometer ke arah selatan, seperti Besuk Kembar dan Besuk Bang, maupun ke tenggara menuju Besuk Kobokan.

Status Aktivitas Gunung Semeru Saat Ini

Gunung Semeru saat ini berada pada status Level III atau Siaga berdasarkan pemantauan PVMBG. Status ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, baik dari sisi kegempaan maupun aktivitas erupsi yang masih terus terjadi.

Status gunung berapi Level III atau Siaga berarti aktivitas vulkanik mengalami peningkatan yang nyata berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental. Pada tahap ini, gunung api menunjukkan peningkatan seismik yang disertai perubahan aktivitas kawah maupun kondisi visual di sekitar puncak.

Berdasarkan analisis pemantauan, kondisi ini dapat mengarah pada erupsi yang lebih besar jika peningkatan aktivitas terus berlanjut dalam periode tertentu, meskipun waktu pastinya tidak dapat dipastikan secara tepat.

Pada status Siaga, PVMBG juga meningkatkan intensitas pemantauan dan penyuluhan kepada masyarakat, terutama di kawasan rawan bencana. Masyarakat di sekitar wilayah terdampak diimbau untuk tetap waspada dan siap mengikuti arahan evakuasi jika diperlukan.

Kenali Kawasan Rawan Bencana (KRB)

Melansir laman BPBD Jogja, masyarakat perlu memahami bahwa terdapat titik-titik rawan bahaya yang tidak boleh digunakan untuk aktivitas, seperti sungai, lereng curam, ruang terbuka, hingga daerah aliran lahar dan longsoran. Lebih jelasnya, kawasan rawan tersebut dibagi berdasarkan tingkat potensi bahaya erupsi berikut.

1. KRB III

Kawasan yang sangat berpotensi dilanda awan panas, aliran lava, guguran lava, lontaran baju (pijar), dan/atau gas beracun. Kawasan ini meliputi daerah puncak dan sekitarnya.

2. KRB II

Kawasan ini berpotensi dilanda awan panas, aliran larva, lontaran baju (pijar) dan/atau guguran gas beracun.

KRB II terbagi menjadi dua, yaitu kawasan rawan terhadap awan panas, aliran lava, guguran lava, aliran lahar, dan gas beracun terutama daerah huli.

Sedangkan, kategori kedua adalah kawasan rawan terhadap hujan abu lebat, lontaran batu (pijar), dan/atau hujan lumpur panas.

3. KRB I

Kawasan ini adalah yang berpotensi terlanda lahar, tertimpa material jatuhan berupa hujan abu, dan/atau air dengan tingkat keasaman tinggi. Apabila letusan membesar, kawasan ini berpotensi terlanda perluasan awan panas dan tertimpa material jatuhan berupa hujan abu lebat, serta lontaran batu (pijar).

Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu kawasan rawan terhadap lahar di mana terletak di sepanjang lembah dan bantaran sungai, terutama yang berhulu di daerah puncak. Kedua, kawasan rawan terhadap hujan abu tanpa memperhitungkan area tiupan angin.

Rekomendasi untuk Masyarakat Sekitar Gunung Semeru

Magma ESDM melalui laman resminya memberikan sejumlah rekomendasi yang bisa dilakukan masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Semeru. Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Juga diingatkan untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Mitigasi Bencana Erupsi Pra-Bencana hingga Pasca-Bencana

Terdapat hal-hal yang harus diperhatikan terutama bagi masyarakat yang bermukim di sekitar gunung berapi. Berikut cara menghadapi letusan gunung berapi baik pra-bencana, saat bencana, dan pasca bencana.

1. Pra-Bencana

  • Memperhatikan arahan PVMBG terkait dengan perkembangan aktivitas gunung api.
  • Siapkan masker dan kacamata pelindung untuk mengantisipasi debu vulkanik.
  • Mengetahui jalur evakuasi dan shelter yang telah disiapkan oleh pihak berwenang.
  • Menyiapkan skenario evakuasi lain apabila dampak letusan meluas di luar prediksi ahli.
  • Siapkan dukungan logistik seperti makanan siap saji dan minuman, lampu senter dan baterai cadangan, uang tunai secukupnya, dan obat-obatan khusus.

2. Saat Bencana

  • Pastikan sudah berada di shelter atau tempat lain yang aman dari dampak letusan.
  • Gunakan masker dan kacamata pelindung.
  • Selalu perhatikan arahan dari pihak berwenang selama berada di shelter.

3. Pasca Bencana

  • Jika anda dan keluarga harus tinggal lebih dalam di shelter, pastikan kebutuhan dasar terpenuhi dan pendampingan khusus bagi anak-anak dan remaja diberikan. Pendampingan anak dan remaja melalui dukungan orang tua yang bekerja sama dengan organisasi kemanusiaan sangat penting untuk mengurangi tingkat stres dan ketertekanan selama di shelter.
  • Tetap gunakan masker dan kacamata pelindung ketika berada di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
  • Perhatikan perkembangan informasi dari pihak berwenang melalui radio atau pengumuman dari pihak berwenang.
  • Tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya kedua atau secondary hazard berupa banjir lahar dingin. Bencana tersebut dipicu curah hujan tinggi dan menghanyutkan material vulkanik maupun reruntuhan kayu ataupun sepanjang sungai dari hulu ke hilir. Perhatikan juga bentangan kiri dan kanan dari titik sungai mengantisipasi luapan banjir lahar dingin.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads