Tersangka kasus pelecehan dan pornografi, Imam Muslimin atau Yai Mim meninggal dunia pada Senin (13/4/2026), saat hendak menjalani pemeriksaan di Polresta Malang Kota. Hasil visum di RSSA Kota Malang menyebutkan bahwa penyebab kematiannya mengarah pada asfiksia.
Kondisi ini pun memicu pertanyaan publik. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan asfiksia, dan bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi hingga berujung pada kematian? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Asfiksia?
Dilansir dari laman kesehatan, asfiksia adalah kondisi ketika tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Kekurangan oksigen ini bisa berdampak serius, mulai dari pingsan hingga kematian jika tidak segera ditangani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara normal, oksigen masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, lalu melewati saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Dari sana, oksigen diserap ke dalam darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Asfiksia terjadi jika proses tersebut terganggu, sehingga tubuh tidak memperoleh oksigen.
Penyebab Asfiksia
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami asfiksia. Kondisi ini umumnya terjadi ketika aliran oksigen ke dalam tubuh terhambat, baik karena gangguan pada saluran pernapasan maupun faktor eksternal lainnya. Berikut beberapa penyebab asfiksia yang perlu diketahui.
1. Tenggelam
Ketika seseorang tenggelam, air yang masuk ke paru-paru dapat menghambat proses pernapasan. Paru-paru yang terisi air tidak mampu mengalirkan oksigen ke dalam darah secara optimal, sehingga jaringan dan organ tubuh mengalami kekurangan oksigen.
2. Paparan Zat Kimia
Asfiksia juga dapat terjadi akibat menghirup zat tertentu yang mengganggu pasokan oksigen dalam tubuh. Zat-zat ini dapat menggantikan oksigen di dalam paru-paru atau menghambat proses distribusinya ke seluruh jaringan tubuh.
Beberapa zat berbahaya yang dapat memicu kondisi ini, antara lain karbon monoksida, sianida, hidrogen sulfida, serta bahan kimia yang terkandung dalam produk pembersih rumah tangga.
3. Anafilaksis
Anafilaksis merupakan reaksi alergi berat yang dapat dipicu obat-obatan, makanan, maupun gigitan hewan tertentu. Saat kondisi ini terjadi, sistem kekebalan tubuh melepaskan zat kimia seperti histamin yang dapat menyebabkan pembengkakan di berbagai bagian tubuh, termasuk saluran pernapasan.
Pembengkakan tersebut dapat menyumbat saluran napas dan menghambat aliran oksigen ke paru-paru. Akibatnya, tubuh mengalami kekurangan oksigen yang dapat berujung pada asfiksia jika tidak segera ditangani.
4. Asma
Asma adalah kondisi kronis yang menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan. Penyakit ini dapat dipicu berbagai faktor, seperti alergen, paparan zat kimia atau polusi udara, infeksi saluran pernapasan, hingga stres.
Saat terjadi serangan asma yang parah, saluran pernapasan akan membengkak dan menyempit. Kondisi ini dapat menghambat aliran oksigen ke dalam tubuh, hingga berisiko menyebabkan asfiksia.
5. Tersedak
Tersedak terjadi ketika benda asing menyumbat saluran pernapasan, sehingga seseorang kesulitan menghirup oksigen. Kondisi ini dapat menghambat aliran udara ke paru-paru dan berisiko menyebabkan asfiksia.
Selain itu, tersedak juga bisa terjadi akibat konsumsi alkohol berlebihan. Dalam kondisi ini, refleks tubuh seperti batuk atau muntah dapat menurun, sehingga meningkatkan risiko seseorang tersedak muntahannya sendiri.
6. Tercekik
Asfiksia dapat terjadi ketika leher seseorang tercekik, misal oleh tangan atau tali, sehingga jalan masuk oksigen menjadi tersendat dan asupan oksigen ke paru-paru berkurang atau berhenti sama sekali.
7. Posisi tubuh yang salah
Asfiksia juga dapat terjadi akibat posisi tubuh tertentu yang menekan saluran pernapasan dan menghambat aliran oksigen ke paru-paru. Jika hanya berlangsung sementara, kondisi ini umumnya tidak berbahaya. Namun, bila posisi tersebut bertahan dalam waktu lama, risiko asfiksia bisa meningkat.
Kondisi ini biasanya terjadi pada individu yang tidak dapat mengubah posisi tubuhnya sendiri, seperti bayi atau pasien dengan kelumpuhan. Pada bayi, situasi ini bahkan dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai sudden infant death syndrome (SIDS).
8. Kejang
Ketika seseorang mengalami kejang, napas akan terhenti sementara sehingga mengganggu masuknya oksigen ke dalam paru-paru. Gerak menyentak berulang selama kejang juga bisa menyebabkan benda tertentu menghalangi atau menutup saluran pernapasan.
9. Overdosis Obat
Kemampuan otak dalam mengatur pernapasan dapat terganggu akibat overdosis obat tertentu, terutama golongan opioid. Kondisi ini dapat menyebabkan napas menjadi lebih lambat, sehingga kadar oksigen dalam tubuh menurun dan kadar karbon dioksida meningkat.
Asfiksia akibat overdosis obat berisiko terjadi pada orang yang menggunakan obat pereda nyeri opioid untuk mengatasi nyeri kronis, seperti pada penderita kanker atau rheumatoid arthritis, serta pada kasus penyalahgunaan NAPZA.
10. Terhimpit
Ketika tubuh terhimpit suatu tekanan, terutama pada bagian dada, seseorang akan mengalami kesulitan bernapas. Dalam hal ini, asfiksia terjadi jika himpitan terjadi dalam waktu yang lama, dan rawan terjadi pada orang yang berada di dalam kerumunan kacau, misalnya di konser musik.
11. Penyakit atau Cedera
Asfiksia juga dapat terjadi akibat cedera pada saluran pernapasan maupun struktur yang berperan dalam proses bernapas, seperti otot dan tulang. Misalnya, patah tulang leher atau tulang rusuk dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk bernapas dengan normal.
Kondisi ini bisa menyebabkan jalan napas terhambat atau menimbulkan nyeri hebat saat bernapas, sehingga tarikan napas menjadi terbatas dan pasokan oksigen ke tubuh berkurang.
Gejala Asfiksia
Seseorang yang mengalami asfiksia dapat menunjukkan berbagai gejala, terutama yang berkaitan dengan gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen dalam tubuh. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
- Kesulitan berbicara
- Kesulitan menelan (biasanya akibat tersedak makanan)
- Batuk
- Sesak napas (dyspnea)
- Napas dengan sangat cepat (hiperventilasi)
- Suara serak
- Pusing
- Sakit kepala
- Wajah atau bibir menjadi merah, ungu, biru, atau abu-abu
- Pingsan atau penurunan kesadaran
Diagnosis Asfiksia
Diagnosis asfiksia umumnya dilakukan berdasarkan tanda dan gejala yang ditunjukkan pasien. Dokter juga akan menanyakan kemungkinan penyebabnya, misalnya apakah pasien tersedak benda asing atau makanan, karena penanganannya bisa berbeda.
Pada umumnya, orang yang mengalami asfiksia menunjukkan tanda seperti memegang atau mencengkeram tenggorokan, batuk lemah, mengi, kesulitan berbicara, hingga kehilangan kesadaran. Sementara pada bayi, gejalanya dapat berupa kesulitan bernapas, tangisan lemah, atau batuk kecil yang tidak efektif.
Cara Mencegah Asfiksia
Untuk mengurangi risiko terjadinya asfiksia, penting bagi setiap orang untuk memahami dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah asfiksia.
- Mengunyah makanan secara perlahan
- Berbicara hanya setelah makanan tertelan
- Awasi anak ketika sedang makan
- Jauhkan anak di bawah usia 5 tahun dari benda kecil yang bisa menyebabkan tersedak kecuali jika dalam pengawasan
- Jika makanan sulit dikunyah, potong menjadi ukuran kecil
- Jika memiliki alergi terhadap makanan atau menderita asma, usahakan untuk selalu membawa obat
- Selalu periksa komposisi makanan yang dibeli di luar, terutama jika memiliki alergi
- Awasi anak-anak yang sedang berenang, gunakan pelampung jika tidak bisa berenang
- Pasang detektor gas karbon monoksida di dalam rumah
- Hindari tempat kerumunan yang parah
- Jika sedang mengonsumsi opioid sebagai antinyeri, jangan mengubah dosis tanpa konsultasi dokter
Cara Mengatasi Asfiksia
Jika anda atau orang di sekitar mengalami gejala asfiksia, terutama hingga penurunan kesadaran, segera hubungi ambulans atau layanan medis darurat untuk mendapatkan penanganan secepatnya.
Penting untuk diingat, jangan memberikan minuman kepada orang yang kesulitan bernapas atau pingsan, karena hal ini justru dapat memperparah kondisi dengan meningkatkan risiko tersedak dan menyumbat saluran napas. Beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.
- Memastikan jalan napas tidak tersumbat, misalnya dengan mengeluarkan benda asing jika terlihat
- Jika tersedak, lakukan pertolongan seperti teknik heimlich (pada orang dewasa)
- Posisikan korban dalam posisi yang nyaman untuk bernapas, seperti setengah duduk
- Jika tidak bernapas, segera lakukan bantuan napas atau CPR jika terlatih
- Hindari panik dan segera cari bantuan medis profesional
Beragam penyebab asfiksia menunjukkan bahwa kondisi ini dapat terjadi dalam situasi sehari-hari, mulai dari tersedak hingga paparan zat berbahaya. Karena itu, mengenali gejala sejak dini serta memahami langkah penanganan dan pencegahannya menjadi kunci untuk meminimalkan risiko yang lebih fatal.
(irb/hil)











































