Tim Layanan Konseling UB: Menunda Tugas Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Tim Layanan Konseling UB: Menunda Tugas Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 13 Apr 2026 19:15 WIB
Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya (UB) Dian Sudiono
Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya (UB) Dian Sudiono/Foto: Istimewa
Malang -

Kebiasaan menunda-nunda tugas atau prokrastinasi bukan lagi sekadar masalah manajemen waktu. Melainkan ancaman serius bagi kesehatan mental mahasiswa.

Hal ini ditegaskan oleh dalam pelatihan Peer Counselor yang digelar di Lantai 8 Gedung Rektorat UB pada Sabtu (11/4/2026). Dian menjelaskan, pengerjaan tugas yang selalu mepet dengan tenggat waktu akan menciptakan tekanan besar yang berujung pada kecemasan.

"Prokrastinasi adalah penundaan. Jika tugas selalu dikerjakan mendekati tenggat, tekanan yang muncul dapat memicu gangguan kesehatan mental," ujar Tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya (UB) Dian Sudiono kepada wartawan, Senin (13/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, selain prokrastinasi, terdapat berbagai faktor kompleks yang membebani mental mahasiswa saat ini, seperti beban akademik, burnout, persoalan keluarga, hingga masalah adaptasi sosial dan tekanan ekonomi.

ADVERTISEMENT

Menurut Dian, kesehatan mental adalah fondasi utama dari emosi, pikiran, komunikasi, hingga ketahanan diri seseorang.

Dian menguraikan tiga aspek utama untuk mendeteksi kondisi mental seseorang, yakni kemampuan membangun hubungan yang sehat, produktivitas dalam beraktivitas, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

"Jika tiga aspek ini terganggu, maka perlu diwaspadai sebagai indikasi awal dan dapat menjadi bahan eksplorasi dalam sesi konseling," tegas Dian

Dian juga menyoroti tanda-tanda krusial kapan seseorang harus segera menghubungi profesional, seperti ketika keluhan menetap lebih dari dua minggu, hilangnya minat pada hobi, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Jika masalah dirasa sudah terlalu berat untuk ditangani dalam lingkup pertemanan, ia menyarankan agar mahasiswa segera memanfaatkan Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) yang tersedia secara gratis di UB.

UB sendiri telah membuka pelatihan layanan konselor kesehatan mental bagi mahasiswa.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa diajari bagaimana mendeteksi tanda-tanda awal krisis kesehatan mental, baik dari pada diri mereka sendiri maupun teman-teman di lingkungannya.

Salah satu peserta pelatihan, Cahyaningtiyas Putri Adventina menyambut baik edukasi ini karena memberikan pemahaman baru mengenai cara merespons permasalahan mental di lingkungan kampus.

Tias berharap kegiatan semacam ini terus dilakukan secara konsisten.

"Melalui kegiatan ini, kami belajar memahami kondisi seseorang dan bagaimana merespons mereka dengan tepat," pungkasnya.



(mua/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads