Begini Cara Kerja Benwit Bensin Sawit yang Dikembangkan ITS

Begini Cara Kerja Benwit Bensin Sawit yang Dikembangkan ITS

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 08 Apr 2026 12:00 WIB
Bahan bakar Biogasoline berbahan baku kepala sawit atau Benwit inovasi olahan ITS.
Bahan bakar Biogasoline berbahan baku kepala sawit atau 'Benwit' inovasi olahan ITS/Foto: Esti Widiyana/detikJatim
Surabaya -

Di tengah ancaman krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit. Produk bernama biogasoline atau 'Benwit' ini digadang-gadang menjadi solusi kemandirian energi nasional sekaligus ramah lingkungan.

"Jadi ini momentum yang kita bisa sampaikan dan semoga saja bisa membantu dalam menyelesaikan krisis energi. Salah satunya adalah dengan adanya bahan bakar Benwit, bensin dari sawit," kata Rektor ITS Prof Bambang Pramujati kepada wartawan, Rabu (8/4/2026).

Pengembangan Benwit dilatarbelakangi tingginya emisi dari penggunaan bahan bakar fosil yang menjadi sumber utama gas rumah kaca seperti CO2, NO, dan SO2.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai negara penghasil minyak sawit terbesar, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi alternatif berbasis sawit. Produksi minyak sawit nasional mencapai 56 juta ton dengan ekspor sekitar 26,33 juta ton.

ADVERTISEMENT

Dalam prosesnya, tandan buah segar kelapa sawit diolah menjadi crude palm oil (CPO) dan refined bleached deodorized palm oil (RBDPO). Kedua bahan tersebut kemudian dimodifikasi melalui metode catalytic cracking untuk menghasilkan biogasoline.

Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS Hosta Ardhyananta menjelaskan, teknik catalytic cracking berfungsi memecah molekul besar menjadi lebih kecil menggunakan katalis.

Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (Ξ³-Alβ‚‚O₃) yang berperan sebagai 'gunting molekuler' untuk memecah trigliserida dalam CPO menjadi hidrokarbon ringan. Namun metode tersebut masih membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius dengan tingkat konversi sekitar 60 persen.

Pengembangan berikutnya menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) yang bekerja lebih efisien. Kombinasi ini mampu menurunkan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta meningkatkan rendemen biogasoline hingga 83 persen.

Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11 yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, hasil samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor.

"Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah. Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor," kata Hosta.

Tak hanya itu, riset ini juga memperhitungkan aspek keberlanjutan melalui life cycle assessment (LCA). Hasilnya menunjukkan jejak karbon produksi biogasoline dari CPO tergolong sangat rendah.

Pengembangan ini juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau serta poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Teknologi Benwit saat ini telah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang dinilai lebih fleksibel untuk penggunaan bahan bakar alternatif.

"Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif," ujarnya.

Ke depan, ITS menargetkan inovasi ini dapat diperluas dengan kapasitas produksi lebih besar agar mampu menjawab ancaman krisis energi nasional sekaligus mendukung penanganan perubahan iklim.

"Diharapkan dapat menjawab ancaman krisis energi di Indonesia. Hal tersebut juga turut menjawab SDGs poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim," harapnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads