Polemik penutupan jalan alternatif di Perumahan Sidokare Asri, Kecamatan Sidoarjo, yang viral dengan julukan 'Selat Hormuz Sidokare' akhirnya berujung damai. Setelah sempat memicu perdebatan dan rencana menempuh jalur hukum, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan melalui mediasi.
Mediasi yang digelar di balai desa mempertemukan kedua belah pihak dan menghasilkan kesepakatan untuk tidak melanjutkan konflik ke jalur hukum.
Warga yang memviralkan kejadian tersebut, YG mengatakan, mediasi berlangsung pada Senin (6/4/2026) sore. Dalam pertemuan itu, suasana yang sempat memanas akhirnya mencair.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah dimediasi dan disepakati damai. Sekarang sudah tidak ada lagi 'Selat Hormuz' di Sidokare," ujar YG saat dihubungi detikJatim melalui telepon selulernya, Selasa (7/4/2026).
Usai mediasi, kedua pihak sepakat mengakhiri persoalan secara baik-baik. YG mengaku telah berjabat tangan dengan MH sebagai simbol perdamaian.
"Kami saling bersalaman dan saya pribadi sudah memaafkan. Harapannya ke depan bisa lebih baik," tambahnya.
YG juga meluruskan bahwa unggahannya di media sosial bukan bertujuan memperkeruh suasana. Ia menyebut hal itu sebagai bentuk edukasi agar tidak ada tindakan sewenang-wenang di lingkungan warga.
"Saya tidak ada niat memviralkan, hanya ingin mengedukasi agar di lingkungan itu tidak ada tindakan arogan atau semena-mena," jelasnya.
Ia pun menekankan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, terutama yang berkaitan dengan fasilitas umum.
"Kalau ada masalah, seharusnya dimusyawarahkan dengan warga dan pemangku wilayah. Itu baru namanya musyawarah," tegasnya.
Meski demikian, YG mengakui bahwa dalam mediasi tersebut MH tidak secara eksplisit mengakui kesalahan. Namun ia memilih memaafkan demi kebaikan bersama.
"Ya sudah, salah benar biar masyarakat yang menilai. Saya memaafkan saja, yang penting ke depan lebih baik," ujarnya.
Di sisi lain, MH yang sempat menjadi sorotan karena menutup akses jalan, juga menyatakan menerima hasil mediasi. Ia memastikan tidak akan melanjutkan persoalan ke jalur hukum meski sebelumnya sempat mempertimbangkannya.
"Sudah selesai sampai di sini saja. Jalur hukum dibatalkan, kembali ke masyarakat demi kebaikan bersama," kata MH ditemui detikJatim di rumahnya.
MH sebelumnya diketahui sempat mendatangi Mapolresta Sidoarjo untuk berkonsultasi terkait kemungkinan langkah hukum, lantaran merasa nama baiknya tercemar akibat viralnya peristiwa tersebut.
Namun keputusan itu akhirnya dibatalkan. Ia memilih menyelesaikan masalah secara kekeluargaan demi menjaga keharmonisan lingkungan.
"Sempat terpikir untuk menempuh jalur hukum, tapi saya batalkan. Saya ingin hidup bermasyarakat dengan baik," ujar MH.
Ia juga menyadari bahwa penyebaran konten di media sosial dapat berdampak hukum, namun memilih mengalah demi kepentingan bersama.
"Mengalah bukan berarti kalah. Saya mengalah demi kebaikan bersama," tambahnya.
MH yang mengaku sebagai purnawirawan Polri menegaskan pentingnya penyelesaian secara damai.
"Sebagai insan Bhayangkara, kita diajarkan untuk tetap mengedepankan penyelesaian yang baik. Saling memaafkan itu wajib," ujarnya.
Ia pun menjelaskan bahwa tindakan penutupan jalan yang dilakukannya bukan tanpa alasan. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menjaga keselamatan warga, khususnya anak-anak.
"Tujuannya untuk keselamatan, terutama anak-anak, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelasnya.
Kasus ini sebelumnya sempat memicu perdebatan di kalangan warga dan pengguna media sosial. Sebagian menilai penutupan jalan merugikan kepentingan umum, sementara yang lain memahami alasan keselamatan yang disampaikan MH.
Kini, dengan berakhirnya polemik dan dibatalkannya rencana jalur hukum, warga berharap tidak ada lagi kejadian serupa. Kesepakatan damai ini menjadi langkah awal untuk kembali menjaga kerukunan di lingkungan Perumahan Sidokare Asri.
(irb/hil)











































