Wisata baru Mikutopia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, terus memicu polemik. Kini, pakar pariwisata turut angkat bicara soal kawasan agroindustri dan resapan air yang dibangun tempat wisata buatan.
Akademisi Universitas Negeri Malang (UM), Elya Kurniawati menilai, pengembangan wisata seharusnya tak menabrak aturan tata ruang. Ia menegaskan, wilayah utara Kota Batu, khususnya Bumiaji, sejak awal diproyeksikan sebagai kawasan agroindustri dan resapan air.
"Sebaiknya kita mengharap ada pengkajian ulang. Jangan sampai kita hanya berfokus pada pengembangan, tetapi lupa dampaknya ke depan. Apalagi kawasan utara itu memiliki kemiringan tanah yang tajam dan sangat sensitif terhadap bencana," kata Elya, Selasa (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Elya, seharusnya pembangunan theme park atau hotel berskala besar itu berfokus di wilayah selatan Kota Batu. Sementara untuk wilayah utara dipertahankan sebagai wilayah resapan air dan konservasi.
Soal Taman Rekreasi Selecta yang ada di utara, Elya menyampaikan bahwa ini tidak bisa menjadi pembenaran untuk didirikannya wisata baru. Pasalnya, Selecta sudah ada jauh sebelum perumusan tata ruang modern dan merupakan peninggalan bersejarah.
Selain persoalan lingkungan, Elya juga menyoroti konsep Mikutopia yang banyak diperbincangkan mirip dengan destinasi di Jepang. Ia menilai, konsep wisata Mikutopia justru mencederai otentisitas pariwisata lokal di Kota Batu.
"Kalau saya orang Jepang datang ke Kota Batu, saya ingin lihat keaslian Batu, bukan Jepang-jepangan yang di negara saya jauh lebih otentik. Identitas kawasan itulah daya tarik yang luar biasa," tegasnya.
Ia khawatir, tren wisata buatan yang hanya mengejar sisi visual (colorful) tanpa identitas kuat akan menggerus daya tarik asli Kota Batu, seperti wisata petik apel dan stroberi.
"Ini isu penting bagi pengembang. Jangan sampai pembangunan malah merusak lingkungan dan menghilangkan identitas budaya demi mengejar tren sesaat," tandasnya.
Sebagai informasi, Mikutopia menjadi sorotan setelah adanya dua insiden yang cukup menggemparkan. Mulai adanya pengunjung yang dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan saat mengantre tiket pada 23 Maret 2026 hingga wahana permainan Tiram patah saat dinaiki pengunjung pada 3 April 2026.
Tak hanya itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur juga turut angkat bicara. Mereka menyoroti Mikutopia yang belum mengantongi kelengkapan izin lingkungan hingga membawa potensi terjadinya bencana.
(auh/hil)
