Viral Iklan 'Aku Harus Mati', Psikolog Ingatkan Bahaya di Ruang Publik

Viral Iklan 'Aku Harus Mati', Psikolog Ingatkan Bahaya di Ruang Publik

Jihan Navira - detikJatim
Selasa, 07 Apr 2026 09:00 WIB
Videotron β€˜aku harus mati’ sempat muncul di Surabaya.
Videotron 'aku harus mati' sempat muncul di Surabaya. (Foto: Istimewa/tangkapan layar)
Surabaya -

Iklan 'Aku Harus Mati' ramai diperbincangkan di media sosial. Visualnya yang menampilkan sosok makhluk berwarna biru bermata merah dengan tulisan mencolok disebut dapat membahayakan pengendara hingga diminta untuk dicopot, salah satunya yang ada di Surabaya.

Psikolog Atikah Dian Ariana menyebut respons masyarakat, petugas berwenang, hingga para pegiat seni terhadap kampanye tersebut merupakan hal yang alamiah.

Ia menilai secara instingtif, manusia memiliki dorongan untuk mempertahankan hidup, sehingga wajar jika muncul reaksi kritis terhadap pesan yang dianggap berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tahu tujuannya sebenarnya komersil, agar masyarakat yang melihat kemudian tergerak menonton film itu tapi tidak betul-betul mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkan dari promosi tersebut," kata Atikah.

Secara psikologis, ia menjelaskan bahwa penggunaan kata 'aku' pada kalimat 'aku harus mati' dapat bekerja layaknya afirmasi atau instruksi kepada diri sendiri. Hal ini lah yang berpotensi membuat pembaca seolah-olah menginternalisasi pesan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Ketika pesan seperti ini muncul di ruang publik yang bisa diakses siapa saja, termasuk anak-anak remaja, atau individu yang dalam kondisi mental rentan risikonya menjadi sangat besar," jelas Atikah.

Ia menambahkan, pesan semacam itu dapat menjadi pemicu (trigger) terutama bagi individu yang sedang mengalami tekanan psikologis atau memiliki kecenderungan bunuh diri.

Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Werther Effect, yaitu kecenderungan seseorang meniru tindakan bunuh diri setelah terpapar informasi serupa, terutama jika dikaitkan dengan figur publik.

"Bukan hanya penggemar ekstrem, masyarakat umum yang merasa memiliki persoalan serupa jika bisa mengimitasi perilaku tersebut. Seolah ada 'solusi' dari masalah yang dihadapi," katanya.

Dari sisi neuropsikologis, ia menjelaskan bahwa otak manusia memang lebih cepat merespons informasi yang mengejutkan, unik, dan tidak biasa. Hal ini kerap dimanfaatkan dalam strategi komunikasi, termasuk kesehatan publik.

"Masalahnya, strategi ini justru digunakan dengan pesan negatif. Padahal pendekatan serupa bisa diarahkan untuk mendorong perilaku positif, seperti saat kampanye kesehatan di masa pandemi," ujar Atikah.

Ia mengakui bahwa secara strategi komunikasi, penggunaan kalimat provokatif seperti 'aku harus mati' dengan tampilan yang cukup kontras memang efektif untuk tampak mencolok hingga menarik perhatian. Namun efektivitas tersebut dinilai tidak sebanding dengan potensi risiko yang ditimbulkan.

"Bayangkan seseorang yang sedang merasa tidak berharga atau putus asa, apalagi yang sedang naik kendaraan lalu melihat pesan itu. Apakah tidak kemudian itu menjerumuskan mereka untuk mengambil tindakan mengakhiri hidup? Pertanyaannya kan itu," tegas Atikah.

Terkait aspek etika, Atikah menekankan pertimbangan untuk memperhatikan keseimbangan antara manfaat dan risiko sehingga penting untuk kembali pada norma sosial yang berlaku.

"Kalau batas etis kan sebenarnya tidak ada hukum benar dan salah. Tapi perlu diperhatikan kembali ke hati nurani. Apakah yang kita lakukan itu untuk kesejahteraan bagi banyak orang atau justru berisiko lebih tinggi," katanya.

Di akhir, Atikah mengajak baik para pembuat kampanye, termasuk pihak film, perlu mengevaluasi ulang strategi promosi yang digunakan.

"Perlu dipertimbangkan kembali, apakah keuntungan yang diperoleh sepadan dengan risiko untuk membuat orang lain sengsara atau bahkan menghilangkan nyawa," pungkasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads