Hadapi Krisis Energi, Kemenkes Ajak Masyarakat Bike to Work

Hadapi Krisis Energi, Kemenkes Ajak Masyarakat Bike to Work

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Senin, 06 Apr 2026 14:00 WIB
Ilustrasi bike to work.
Ilustrasi bike to work. Foto: Pradita Utama
Surabaya -

Di tengah isu krisis energi global yang berdampak pada kenaikan konsumsi BBM, pemerintah mulai mendorong berbagai langkah efisiensi, termasuk penerapan work from home (WFH) bagi ASN. Namun, upaya penghematan energi ternyata tidak berhenti di situ.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) justru melihat situasi ini sebagai momentum untuk mendorong perubahan gaya hidup masyarakat. Salah satu yang disoroti adalah kebiasaan bertransportasi, termasuk ajakan untuk mulai membiasakan bike to work atau bersepeda ke tempat kerja.

Kemenkes: Bike to Work Jadi Solusi

Di tengah situasi krisis energi yang dipicu dinamika global, termasuk konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah efisiensi. Salah satunya melalui kebijakan WFH satu hari dalam seminggu bagi ASN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, menurut Kepala Biro Komunikasi Kemenkes RI Aji Muhawarman, upaya penghematan energi tidak hanya bisa dilakukan melalui kebijakan kerja, tetapi juga dari perubahan kebiasaan sehari-hari, terutama dalam hal mobilitas.

"Mungkin ini bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk menyalurkan ke arah perilaku hidup sehat," ujar Aji, dikutip dari detikHealth, Kamis (2/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia juga menilai peralihan ke moda transportasi yang lebih aktif seperti berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, atau bersepeda bisa memberikan dampak baik untuk kesehatan maupun lingkungan.

Kenapa Bike to Work Jadi Sorotan?

Kemenkes melihat bike to work sebagai solusi yang mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar, sekaligus menekan masalah polusi udara di perkotaan. Aktivitas ini juga menyehatkan tubuh.

Tanpa harus meluangkan waktu khusus untuk olahraga, masyarakat tetap bisa menjaga kebugaran tubuh lewat cara ini. Aji juga menjelaskan kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki atau bersepeda dapat membantu mencapai target aktivitas fisik harian.

"Penggunaan transportasi umum selain mengurangi kemacetan dan polusi, juga membuat kita lebih banyak bergerak. Berjalan kaki, naik tangga, bisa dengan target juga minimal 7.500 langkah per hari," jelasnya.

Kemenkes Ajak Masyarakat Lebih Banyak Bergerak

Selain mendorong bike to work, Kemenkes juga mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan lift untuk jarak dekat dan beralih menggunakan tangga. Menurut Aji, selain membantu menghemat energi, kebiasaan ini bisa menjadi bagian dari aktivitas fisik yang bermanfaat bagi tubuh.

"Di kantor juga jika hanya 2-3 lantai bisa gunakan tangga saja ketimbang pakai lift," tambahnya.

Kemenkes juga menekankan bahwa lebih rutin melakukan aktivitas fisik risiko penyakit seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan jantung dapat ditekan. Bahkan, berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor juga berpotensi menurunkan tingkat polusi udara.

"Jadi, bukan hanya terhindar dari penyakit kronis, tapi untuk jangka panjang juga bisa lebih sehat dengan lebih rajin aktivitas fisik dan udara yang kurang polusinya," pungkas Aji.

Alih-alih hanya menjadi tantangan, krisis energi justru dipandang sebagai peluang untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih baik. Kemenkes berharap masyarakat tidak hanya melihat kebijakan ini sebagai respons jangka pendek, tetapi bagian dari transformasi gaya hidup yang bisa terus diterapkan ke depan.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads