Heboh Mi Rp 15 Ribu tapi Nggak Pakai Telur di Terminal Purabaya Surabaya

Round-Up

Heboh Mi Rp 15 Ribu tapi Nggak Pakai Telur di Terminal Purabaya Surabaya

Denza Perdana - detikJatim
Minggu, 05 Apr 2026 07:40 WIB
Video pelanggan protes mi Rp 15 ribu di Terminal Purabaya Surabaya ternyata tidak pakai telur.
Video pelanggan protes mi Rp 15 ribu di Terminal Purabaya Surabaya ternyata tidak pakai telur. (Foto: tangkapan layar)
Surabaya -

Jagat maya kembali riuh dengan aksi protes seorang pelancong di Terminal Purabaya Surabaya. Perkaranya sepele, sepiring mi goreng seharga Rp 15 ribu yang dianggap 'menjebak' karena disajikan tanpa pendamping setia yakni telur.

Peristiwa yang terjadi di Depot Ilham di kawasan Terminal Purabaya ini menjadi sorotan setelah sebuah video amatir merekam kemarahan sang pelanggan. Tak tanggung-tanggung, ia membandingkan standar harga di Surabaya dengan daerah lain.

"Sesuai harga mi kau yang mana, gak bisa baca. Itu namanya kau ngejebak orang, mi goreng itu rata-rata pakai telur," semprot perempuan dalam video tersebut sebagaimana dilihat detikJatim, Sabtu (4/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi tudingan 'menjebak' itu, Masud (38), penjaga Depot Ilham yang telah melakoni profesinya selama 5 tahun angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pihak warung tidak menyembunyikan informasi harga. Di daftar menu, mi goreng atau kuah memang tertulis Rp 15 ribu tanpa embel-embel telur.

"Ini sampeyan lihat dulu ya. Itu kan udah jelas harganya," kata Masud sembari menunjukkan daftar menu kepada detikJatim.

ADVERTISEMENT

Menurut Masud, pelanggan yang datang bersama suaminya pada Jumat (3/4) sore itu sebenarnya sudah melihat daftar harga sebelum memesan. Namun, bara emosi tersulut saat pesanan mendarat di mejanya.

Tangkapan layar video pelanggan protes. Lokasi Depot Ilham di Terminal Purabaya.Lokasi Depot Ilham di Terminal Purabaya. (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)

"Dia minta mi goreng, ya saya bikinin. Lalu pas datang dia protes 'ini nggak ada telurnya? Masa mi Rp15 ribu nggak ada telurnya?'" ujar Masud menirukan ucapan sang pelanggan.

Masud menjelaskan, biasanya pelanggan lain yang menginginkan telur akan bertanya di awal. Namun, di warungnya memang tidak tersedia opsi tambahan telur.

"Kalau di sini orang pesan itu kalau saya jawab, 'Mas, kasih telur ya.' Maaf telurnya enggak ada. Enggak ada, enggak apa-apa. Kebanyakan begitu. Dia cuma bilang, 'Saya bikinin goreng yang pedas.' Ya udah saya bikinin," bebernya.

Ancam Viralkan tapi Tetap Bayar

Meski suasana sempat memanas dengan ancaman akan memviralkan warung tersebut, sang pelanggan yang diduga bukan warga lokal itu tetap menyelesaikan kewajibannya. Selain mi goreng yang dipermasalahkan, ia juga memesan dua porsi rawon dan minuman.

"Dia marah-marah mau diviralin, ya silakan. Tapi akhirnya tetap bayar," tambah Masud.

Bagi Masud, insiden ini adalah "pecah telur" selama dirinya bekerja di kawasan Terminal Purabaya. Ia merasa tidak melakukan kesalahan karena sudah memasang tarif secara terbuka sesuai aturan depot.

"Pertama kali itu kejadian kayak begitu. Soalnya kan juga sudah tertulis, sudah jelas. Makanya saya berani suruh viralin, silakan. Kan posisi saya itu benar," pungkasnya mantap.



(irb/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads