Mengenal Bendungan Semantok Nganjuk, Terpanjang di Asia Tenggara

Mengenal Bendungan Semantok Nganjuk, Terpanjang di Asia Tenggara

Bakrie - detikJatim
Jumat, 03 Apr 2026 10:30 WIB
Bendungan Semantok Nganjuk
Bendungan Semantok Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Bendungan Semantok di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, diresmikan Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) pada 20 Desember 2022.

Impounding atau pengisian awal air bendungan dilaksanakan pada 13 Juli 2022, ditandai dengan pemecahan kendi secara simbolis oleh Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi (saat itu masih Plt Bupati Nganjuk).

Bendungan Semantok diklaim sebagai bendungan terpanjang se-Asia Tenggara, dengan panjang puncak mencapai 3.100 meter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 32,67 juta meter kubik air dan mampu mengairi sekitar 1.900 hektare lahan pertanian.

"Bendungan Semantok adalah proyek strategis nasional yang manfaat utamanya untuk menopang irigasi pertanian, pengendali banjir, sumber air baku, dan sebagai potensi destinasi wisata baru di Kabupaten Nganjuk," ujar Marhaen, Selasa (31/3/2026).

ADVERTISEMENT

Proses pembangunan Bendungan Semantok dimulai sejak 2017, oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Kementerian PUPR dengan biaya mencapai Rp 2,5 triliun.

Bendungan ini dibangun di atas lahan hutan yang dikelola Perhutani. Lalu, sebagian lagi di lahan permukiman dua dusun, yakni Dusun Kedungnoyo, Desa Tritik dan Dusun Kedungpingit, Desa Sambikerep. Puluhan kepala keluarga penghuni kedua dusun tersebut kini direlokasi di lahan baru, yang berjarak sekitar 500 meter dari Bendungan Semantok.

Ide awal pembangunan bendungan ini berasal dari aspirasi atau usulan para petani di wilayah Nganjuk utara, yang bertahun-tahun selalu kesulitan air irigasi untuk sawah mereka.

Kuswodiyono, seorang pensiunan pegawai Kantor PU Pengairan Kecamatan Gondang, adalah salah satu sosok yang berperan dalam menghimpun aspirasi petani.

"Karena kondisi petani di wilayah Nganjuk utara, seperti di Kecamatan Rejoso dan Gondang memang kekurangan pasokan air untuk sawah. Sementara pasokan dari Waduk Kalibening di Saradan Madiun tidak mencukupi," ujar Kuswodiyono, Jumat (3/4/2026).

Karena itulah, dalam kurun 2010 sampai 2014, Kuswodiyono bersama beberapa rekannya mengumpulkan 7.000 tanda tangan petani Nganjuk utara untuk meminta pemerintah membangun bendungan baru di wilayah mereka.

"Tanda tangan waktu itu kami serahkan ke Pemkab Nganjuk dan ditindaklanjuti sampai ke pemerintah pusat," ungkapnya.

Adapun terkait asal-usul nama Bendungan Semantok, disebut Kuswodiyono berasal dari nama sungai alami yang ada di lokasi setempat yang bernama Semantok.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads