Kebijakan WFH Dinilai Mampu Hemat BBM

Kebijakan WFH Dinilai Mampu Hemat BBM

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 02 Apr 2026 22:30 WIB
Developing programmer Development Website design and coding technologies working at home
Ilustrasi WFH (Foto: Getty Images/iStockphoto/SARINYAPINNGAM)
Surabaya -

Pemerintah pusat telah menetapkan WFO dan WFH hari Jumat, seluruh pemda pun mengikuti, termasuk Pemkot Surabaya. Tujuannya pun untuk menghemat energi BBM di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, setiap hari Jumat ada kerja bakti terlebih dahulu. Kemudian pada antara hari Rabu atau Kamis pekan depan, seluruh pegawai dan ASN diminta ke kantor gowes atau naik transportasi umum.

"Kalau WFH hari Jumat ya kita pindah hari Rabu apa Kamis. Jadi nanti hari Rabu atau hari Kamis tidak menggunakan kendaraan dinas, tidak menggunakan kendaraan pribadi, tapi menggunakan transportasi umum," kata Eri kepada wartawan, Kamis (2/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan tersebut pun dinilai baik oleh sejumlah akademisi sebagai bentuk manajemen permintaan energi yang cukup efektif. Di mana pemerintah memilih pendekatan yang lebih aman secara ekonomi dan politik dibandingkan opsi menaikkan harga BBM yang berisiko memicu inflasi.

ADVERTISEMENT

"Kebijakan WFH Nasional setiap Jumat yang dimulai 1 April 2026 merupakan langkah strategis yang menarik untuk dibedah. Di tengah gejolak harga minyak mentah dunia yang tidak menentu, pemerintah terlihat memilih jalur 'manajemen permintaan' (demand management) daripada menaikkan harga subsidi yang berisiko memicu inflasi dan gejolak politik," kata Pengamat kebijakan publik Bonti Wiradinata.

Menurutnya, penurunan beban listrik di gedung-gedung pemerintahan dan swasta di Jakarta, Surabaya, dan Medan dapat mencapai 15-20 persen imbas WFH pada hari Jumat. Hal ini mengurangi beban puncak PLN.

Selain itu, mengacu pada data historis mobilitas di 5 kota besar; Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, Bonti menyebut sektor transportasi menyumbang sekitar 46 persen dari total konsumsi energi final. Dengan asumsi 20-30% tenaga kerja melakukan WFH, Bonti mengatakan terdapat potensi penurunan konsumsi listrik perkantoran yang signifikan.

"Dari sisi kebijakan publik, langkah ini merupakan bentuk kebijakan konservasi energi sektoral. Penghematan energi terjadi pada dua titik utama, yaitu operasional gedung perkantoran dan konsumsi bahan bakar kendaraan," jelasnya.

Pakar kebijakan publik, Kristian Widya Wicaksono juga menilai kebijakan WFH merupakan langkah rasional dalam merespons krisis energi global. Baginya, pendekatan ini memungkinkan pemerintah mengendalikan konsumsi energi tanpa membebani fiskal negara.

"Kebijakan pemerintah yang memberlakukan WFH setiap hari Jumat bagi ASN dan sebagian sektor swasta dapat dipandang sebagai langkah yang rasional dan relatif positif dalam konteks krisis energi global. Dari perspektif kebijakan publik, ini merupakan bentuk intervensi di sisi permintaan (demand-side management), yaitu upaya menekan konsumsi energi tanpa harus menambah beban fiskal melalui subsidi atau menaikkan harga BBM," urai Kristian.

Ia menilai pengurangan mobilitas harian, khususnya perjalanan rumah ke kantor, akan berdampak langsung terhadap penurunan konsumsi BBM di sektor transportasi. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa efek penghematan tidak sepenuhnya linier karena adanya potensi perubahan pola konsumsi energi di rumah tangga.

"Tantangan memang masih ada, terutama terkait kesiapan digital dan mekanisme pengawasan kinerja. Namun, karena kebijakan ini hanya diterapkan satu hari dalam seminggu, maka potensi gangguan terhadap koordinasi dan pelayanan publik relatif dapat diminimalkan, apalagi jika sektor-sektor layanan esensial tetap dikecualikan," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads