Sebuah pohon beringin raksasa di tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Sidorukun, Desa Clumprit, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang roboh. Sejumlah makam sampai ikut menyembul dari permukaan tanah, bahkan jenazah turut terangkat keluar dari tanah.
Video robohnya pohon ini viral di media sosial. Warganet heboh dengan video ini karena terlihat di video kain putih yang menempel di akar pohon diduga kain kafan jenazah yang turut terangkat bersama akar pohon.
Dalam video tampak warga yang datang berziarah saat momen Lebaran mendapati kondisi sejumlah makam ikut terangkat bersama robohnya batang pohon. Hujan deras disertai angin kencang pada malam hari menjadi pemicu ambruknya pohon tua tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikJatim di lokasi, Selasa (31/3/2026), siang, sisa batang pohon beringin beserta akarnya masih berada di lokasi. Begitu juga dengan beberapa makam yang ikut terangkat ke atas permukaan tanah.
Namun, tidak terlihat lagi jenazah yang terlihat ikut terangkat sebagaimana terlihat dalam video yang viral. Sejumlah makam yang rusak karena tumbangnya pohon beringin masih terlihat di lokasi.
Menurut keterangan yang dihimpun detikJatim, robohnya beringin raksasa itu sudah berusia sekitar 1 abad. Sedangkan peristiwa robohnya terjadi pada pertengahan bulan suci Ramadan atau sekitar Februari 2026.
"Kejadiannya sudah lama, 2 minggu sebelum lebaran. Pohon beringin yang roboh usianya sudah ratusan tahun," ujar modin atau penghulu setempat saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (1/4/2026).
Kepala Desa Clumprit, Subur mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan ahli waris dari makam-makam yang terdampak sudah dilakukan secara kekeluargaan. Selama satu minggu terakhir, bersama juru kunci makam telah memanggil tukang potong pohon untuk mulai membersihkan material kayu yang menghalangi jalan.
"Sudah satu minggu memanggil tukang potong pohon untuk membersihkan batang yang roboh," tuturnya.
Rencananya, pihak desa akan mengerahkan alat derek untuk mengembalikan batang utama pohon ke posisi semula karena tidak memungkinkan jika hanya mengandalkan pemangkasan manual pada bagian akar.
"Rencananya kami akan menderek batang pohon untuk mengembalikan ke tempat asalnya," ungkap Subur.
Setelah usaha itu berhasil, Subur mengaku perbaikan makam yang terdampak akan kembali dilanjutkan. Pihak desa sendiri berharap adanya bantuan dari BPBD Kabupaten Malang agar proses evakuasi batang pohon raksasa tersebut bisa berjalan lebih cepat.
"Harapan kami, ada dukungan dari BPBD untuk pengembalian batang pohon yang roboh. Kalau tidak kita lakukan secara swadaya," pungkasnya.
(auh/abq)
