Pasukan Perdamaian TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon

Pasukan Perdamaian TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon

Jabbar Ramdhani, Gibran Maulana Ibrahim - detikJatim
Senin, 30 Mar 2026 11:19 WIB
Members of the United Nations peacekeepers (UNIFIL) look at the Lebanese-Israeli border, as they stand on the roof of a watch tower ‏in the town of Marwahin, in southern Lebanon, October 12, 2023. (Reuters)
Pasukan penjaga perdamaian PBB bertugas di menara pengawas di Lebanon bagian selatan. (Foto: dok. Reuters)
Surabaya -

Seorang anggota TNI bagian dari pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) yang bertugas di Lebanon tewas akibat serangan Israel. Selain itu ada anggota TNI lain yang terluka akibat serangan yang sama.

"Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian Indonesia dari @UNIFIL_ di tengah permusuhan antara Israel & Hizbullah. Seorang penjaga perdamaian Indonesia lainnya mengalami luka serius dalam insiden yang sama," demikian keterangan Sekjen PBB António Guterres lewat akun X-nya, Senin (30/3/2026).

Dia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga, teman, dan kolega penjaga perdamaian yang meninggal. Termasuk kepada Indonesia. Guterres juga berharap penjaga perdamaian yang terluka segera pulih sepenuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini hanyalah salah satu dari sejumlah insiden baru-baru ini yang telah membahayakan keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian," ujarnya.

Dia menyerukan kepada semua pihak untuk menjunjung tinggi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional dan untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB.

ADVERTISEMENT

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI juga menyampaikan belasungkawa terdalam atas meninggalnya penjaga perdamaian Indonesia dan tiga orang lainnya cedera. Para anggota TNI mengalami serangan pada Minggu (29/3) kemarin.

"Setelah tembakan artileri tidak langsung di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026, di tengah laporan permusuhan antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan," kata Kemlu di akun @Kemlu_RI.

Indonesia Kutuk Keras Serangan Israel

Indonesia mengutuk keras insiden itu dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan. Kemlu menyampaikan penghormatan tertinggi kami kepada penjaga perdamaian yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya untuk perdamaian dan keamanan internasional.

"Indonesia mengutuk keras insiden tersebut dan menyerukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan," kata Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui akun X @Kemlu_RI, Senin (30/3/2026).

Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan belasungkawa terdalam atas meninggalnya anggota TNI yang tergabung dalam UNIFIL. Kecaman atas serangan Israel ke Lebanon tersebut kembali ditegaskan oleh Kemlu.

"Indonesia menegaskan kembali kecamannya terhadap serangan Israel di Lebanon selatan dan menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon, menghentikan serangan terhadap penduduk sipil dan infrastruktur, serta kembali ke dialog dan diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan memajukan perdamaian," tegas Kemlu.

Kemlu melaporkan ada 3 anggota TNI lain yang cedera setelah tembakan artileri tidak langsung di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3) di tengah laporan permusuhan antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan.

"Kami sangat berduka atas kehilangan ini. Kami menyampaikan penghormatan tertinggi kami kepada penjaga perdamaian yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya untuk perdamaian dan keamanan internasional. Doa dan simpati kami bersama keluarga yang berduka, dan kami berharap agar personel yang terluka segera pulih sepenuhnya," katanya.

Indonesia bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan pemulangan segera para korban yang gugur dan perawatan medis terbaik bagi yang terluka. Kemlu menyatakan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian PBB harus dihormati sepenuhnya setiap saat, sesuai dengan hukum internasional.

"Segala bentuk ancaman terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima dan merusak upaya kolektif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas," katanya.

Baca selengkapnya di sini dan di sini.



(irb/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads