Paskah merupakan perayaan penting umat Kristen. Sebab, hari raya ini memperingati Kebangkitan Yesus Kristus pada hari ketiga setelah penyaliban. Namun, berbeda dengan Natal yang selalu diperingati setiap 25 Desember, tanggal perayaan Paskah selalu berubah setiap tahun.
Pada tahun ini, Paskah jatuh pada 5 April 2026. Tahun lalu, Paskah diperingati pada 20 April 2026. Sedangkan, dua tahun lalu, Paskah dirayakan pada 31 Maret 2024. Lantas, mengapa tanggalnya tidak pernah tetap?
Bagaimana Penetapan Tanggal Paskah?
Melansir buku "The Reckoning of Time", penetapan tanggal Paskah tidak menggunakan sistem kalender biasa seperti hari raya yang memiliki tanggal tetap. Sejak abad ke-4, Gereja menetapkan aturan khusus yang menggabungkan perhitungan matahari dan bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan penting ini dirumuskan dalam Konsili Nicea Pertama pada tahun 325 M. Dalam konsili tersebut disepakati bahwa seluruh umat Kristen merayakan Paskah pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama yang jatuh pada atau setelah 21 Maret.
Tanggal 21 Maret ditetapkan sebagai patokan tetap titik awal musim semi (vernal equinox) dalam kalender gerejawi. Meski secara astronomi tanggal ekuinoks bisa bergeser (20 atau 21 Maret), dalam perhitungan gereja angka 21 Maret digunakan sebagai standar tetap agar rumusnya konsisten.
Musim semi dipilih karena peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus terjadi sekitar masa Paskah Yahudi, yang juga dihitung berdasarkan kalender bulan di musim semi.
Paskah Yahudi ditentukan berdasarkan kalender lunar (bulan). Karena peristiwa kebangkitan Yesus berkaitan erat dengan Paskah Yahudi, maka Gereja mempertahankan unsur bulan dalam perhitungannya.
Namun, bulan purnama yang dimaksud bukan selalu bulan purnama astronomi modern, melainkan bulan purnama gerejawi yang dihitung berdasarkan tabel siklus bulan. Sistem perhitungan ini dikenal dengan istilah computus (bahasa Latin yang berarti "perhitungan").
Artinya, tanggal perayaan Paskah tidak ditentukan dengan melihat langsung fase bulan di langit, melainkan berdasarkan sistem matematis yang sudah ditetapkan berabad-abad lalu.
Mengapa Selalu Jatuh pada Hari Minggu?
Hari Minggu dipilih karena menurut tradisi Kristen, kebangkitan Yesus terjadi pada hari pertama Minggu. Maka, sekalipun bulan purnama jatuh pada hari apapun, Paskah tetap harus dirayakan pada hari Minggu setelahnya.
Jika bulan purnama jatuh pada hari Minggu, maka Paskah dirayakan pada Minggu berikutnya, bukan hari itu juga.
Sebagai contoh, hari Minggu pertama setelah tanggal 21 Maret tahun ini adalah 29 Maret. Berarti Paskah jatuh pada minggu berikutnya, yakni 5 April 2026.
Dengan rumus tersebut, Paskah bisa jatuh dalam rentang tanggal berikut.
- Paling cepat: 22 Maret
- Paling lambat: 25 April
Perbedaan fase bulan setiap tahun menyebabkan tanggal Paskah terus berubah dalam rentang itu.
Rangkaian Pekan Suci Paskah
Karena Paskah 2026 jatuh pada Minggu 5 April 2026, maka rangkaian peringatan yang mendahuluinya dapat dihitung mundur dari tanggal tersebut. Berikut urutannya dalam kalender liturgi Kristen.
- Rabu Abu - 18 Februari 2026: Awal Masa Prapaskah (40 hari masa pertobatan). Umat menerima tanda abu sebagai simbol tobat dan pembaruan diri.
- Minggu Palma - 29 Maret 2026: Memperingati Yesus masuk ke Yerusalem. Menjadi pembuka Pekan Suci.
- Kamis Putih - 2 April 2026: Mengenang Perjamuan Terakhir dan penetapan Perjamuan Kudus. Awal Tri Hari Suci.
- Jumat Agung - 3 April 2026: Peringatan sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. Ibadah berlangsung dalam suasana hening dan reflektif.
- Sabtu Suci - 4 April 2026: Hari penantian sebelum kebangkitan. Malamnya digelar Vigili Paskah.
- Minggu Paskah - 5 April 2026: Puncak perayaan kebangkitan Yesus Kristus, dirayakan dengan sukacita.
Demikian informasi mengenai asal usul penanggalan Paskah yang selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya.
(dpe/irb)
