Pakar ITS Beberkan Alasan Lebaran 2026 Tak Krisis BBM

Pakar ITS Beberkan Alasan Lebaran 2026 Tak Krisis BBM

Esti Widiyana - detikJatim
Sabtu, 28 Mar 2026 23:30 WIB
Ilustrasi isi BBM
Ilustrasi BBM (Foto: dok. Pertamina Patra Niaga)
Surabaya -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pernah menyampaikan BBM bisa bertahan selama 20 hari pada awal Maret lalu. Namun, hingga kini BBM cukup, bahkan saat momen libur Lebaran.

Peneliti dari Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra mengapresiasi pemerintah telah menjaga pasokan BBM saat hari raya. Baginya, kondisi itu tak lepas dari pengalaman Bahlil mengelola kebutuhan energi saat periode mudik Lebaran tiap tahun.

"Ya memang karena sudah event tahunan. Artinya secara pasokan mungkin pemerintah sudah punya jam terbang untuk menjamin keterisian dan harga dari BBM," kata Ary kepada wartawan, Sabtu (28/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, pola konsumsi BBM saat Lebaran sudah cukup terprediksi karena berlangsung dalam waktu terbatas, umumnya hanya sekitar satu pekan selama arus mudik dan balik. Hal ini membuat pemerintah lebih mudah mengantisipasi lonjakan permintaan.

ADVERTISEMENT

"Kalau Lebaran kan memang penambahan karena mudik ya, itu juga dalam kategori mungkin semingguan, artinya dari berangkat sampai pulang," ujarnya.

Ary menilai, perilaku masyarakat juga lebih bijak pada penggunaan BBM, sehingga pasokan stabil. Kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan membuat masyarakat cenderung menahan konsumsi yang tidak perlu.

"Kalau masyarakat sudah mulai mengendalikan diri untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan, manfaatnya terasa. Saya lihat di beberapa daerah, kondisi sudah tidak terlalu antre BBM," jelasnya.

Di sisi lain, Ary mengingatkan secara fundamental ketahanan energi Indonesia masih memiliki tantangan, terutama terkait kapasitas cadangan BBM yang relatif terbatas dibandingkan negara lain di kawasan. Di mana cadangan energi nasional saat ini masih berada di kisaran 20 hingga 28 hari, jauh di bawah negara seperti Jepang dan Singapura yang mampu menyimpan cadangan hingga berbulan-bulan.

Menurutnya, langkah pemerintah untuk menambah kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari merupakan kebijakan strategis yang perlu segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kalau bisa 90 hari sudah luar biasa. Artinya kalau harga pasar naik turun, kita masih punya waktu dan cadangan dari pengadaan sebelumnya," ujarnya.

Dia juga menyoroti peran program biodiesel seperti B50 yang dinilai telah membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meskipun untuk bensin Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.

"Dengan kombinasi pengalaman pemerintah, pola konsumsi yang terprediksi, serta dukungan kebijakan energi yang berjalan, itu keberhasilan menjaga pasokan BBM selama Lebaran tahun ini menjadi indikator positif dalam pengelolaan energi nasional," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads