Festival balon udara tanpa awak di Ponorogo disambut antusias oleh masyarakat. Total sebanyak 44 peserta dipastikan ikut ambil bagian dalam kegiatan Reog Balon Carnival yang digelar di Sirkuit Motocross, Jenangan.
Kabag Ops Polres Ponorogo, Kompol Edi Suyono mengatakan peserta terdiri dari perwakilan lokal dan luar daerah. Untuk kategori lokal, menurutnya, jumlahnya melebihi rencana awal.
"Peserta balon udara yang lokal awalnya direncanakan 21 peserta, masing-masing kecamatan satu perwakilan. Tapi akhirnya kita tutup di 24 peserta lokal," ujar Edi, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, lanjut Edi, peserta dari luar daerah juga cukup banyak. Dari Wonosobo tercatat ada 20 peserta yang ikut meramaikan festival tersebut.
"Dari Wonosobo ada 20 peserta, jadi total keseluruhan ada 44 peserta. Namun yang dinilai dalam lomba ini adalah peserta lokal," jelasnya.
Dalam penilaian lomba panitia menetapkan sejumlah kriteria, salah satunya keindahan balon, kemudian kekompakan tim, serta tema yang diusung masing-masing peserta.
"Penilaiannya meliputi keindahan, kekompakan, tema, dan lain sebagainya," imbuhnya.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sejak dini hari. Peserta sudah mulai berkumpul sejak pukul 04.00 WIB, dan penerbangan balon dimulai sekitar pukul 05.00 WIB.
"Jam 4 subuh sudah ada di lokasi, 4.30 peserta mulai datang, dan jam 5 sudah mulai naik," terang Edi.
Menariknya, dewan juri dalam festival ini didatangkan langsung dari Wonosobo, daerah yang dikenal memiliki tradisi balon udara serupa.
Kabag Ops Polres Ponorogo, Kompol Edi Suyono. Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim) |
Melihat tingginya minat masyarakat, Edi menyebut masih banyak pendaftar yang belum terakomodasi. Dia pun mengusulkan kegiatan serupa ke depan bisa digelar lebih besar.
"Antusiasme peserta sangat tinggi, masih banyak yang ingin daftar lewat aplikasi. Ke depan kami usulkan bisa dibuat dua hari, satu hari khusus lokal, hari kedua bisa skala nasional," katanya.
Edi menjelaskan, festival ini berawal dari tradisi masyarakat Ponorogo yang kerap menerbangkan balon udara saat Lebaran. Namun, kegiatan tersebut kerap dilakukan secara liar dan berpotensi membahayakan.
"Ini berawal dari kebiasaan masyarakat saat Lebaran menerbangkan balon udara tanpa awak. Kemudian Kapolres berinisiatif berkomunikasi dengan dinas terkait untuk mewadahi hobi ini," jelasnya.
Dengan adanya wadah resmi, diharapkan penerbangan balon liar dapat ditekan karena berisiko mengganggu keselamatan penerbangan hingga memicu kebakaran.
"Kalau balon liar ini bisa membahayakan penerbangan, jaringan listrik PLN, bahkan bisa menyebabkan kebakaran jika jatuh ke rumah, seperti yang pernah terjadi sebelumnya," tegasnya.
Ia menambahkan, konsep festival ini serupa dengan program penertiban balap liar yang sebelumnya dilakukan kepolisian.
"Hampir sama dengan konsep KPDP, setelah kita wadahi harapannya balapan liar bisa berkurang. Dengan festival ini, balon udara liar juga bisa diminimalisir," pungkasnya.
Ke depan, pihaknya berharap festival balon udara ini bisa menjadi agenda rutin setiap perayaan Idul Fitri di Ponorogo.
(irb/dpe)

