Kota Malang Darurat Bunuh Diri?

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 26 Mar 2026 15:30 WIB
Ilustrasi. (Gemini AI)
Kota Malang -

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Kasus bunuh diri di Kota Malang melibatkan kalangan mahasiswa belakangan ini semakin marak. Akademisi di bidang psikologi menyatakan fenomena ini tergambarkan juga dari hasil riset yang telah dilakukan.

Fenomena maraknya bunuh diri melibatkan mahasiswa di Kota Malang terakhir kali menghebohkan warga pada Rabu (25/3). Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi diduga menjatuhkan diri dari lantai 11 Apartemen Soekarno Hatta (Soehat), Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang dan ditemukan tak bernyawa pukul 00.15 WIB.

Maraknya kasus bunuh diri melibatkan mahasiswa ini memicu pertanyaan, apakah Kota Malang sudah berada dalam status darurat kesehatan mental? Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Fuji Puji Astutik memandang situasi ini dengan keprihatinan mendalam.

Melalui riset yang pernah ia lakukan bersama para mahasiswa, dengan mengambil sampel sekitar 300 hingga 400 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) di Malang. Ia menemukan fakta bahwa kecenderungan ide bunuh diri di kalangan mahasiswa ada di level yang mengkhawatirkan.

"Mayoritas di atas rata-rata 50 persen berada di kategori sedang dan tinggi. Dengan case seperti itu, saya rasa situasinya sudah tidak bagus," ujar Fuji kepada wartawan, Kamis (26/3/2026).

Menariknya, Fuji meluruskan pandangan umum yang sering kali menyalahkan tekanan akademik sebagai penyebab tunggal aksi nekat mahasiswa. Baginya, pemberitaan yang menonjolkan masalah skripsi misalnya, hanyalah melihat permukaan dari sebuah masalah yang jauh lebih kompleks dan telah mengakar lama.

Masalah itu sering kali bermula dari pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan, pola pengasuhan yang tidak tepat, hingga luka lama akibat menjadi korban perundungan atau kekerasan dalam rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa faktor utama yang membuat mahasiswa rentan adalah ketidaksiapan mental dalam menghadapi persoalan hidup.

Seperti tidak memiliki ketrampilan untuk menyelesaikan masalah. Tidak diberikan bekal menghadapi problem itu. Dengan begitu, menurut Fuji mereka akan merasa seorang diri, dengan beban hiduo yang terlalu berat.

"Belum lagi perbedaan cara pandang antar generasi; jika dulu mahasiswa dapat nilai C mungkin hanya merasa perlu mengulang, sekarang bagi Gen Z, mendapatkan nilai B saja sudah dianggap sebagai kegagalan besar karena standar sosial yang terlalu tinggi," bebernya.

Tekanan ini semakin diperparah oleh pengaruh media sosial yang menciptakan ruang kompetisi yang tidak sehat. Di jagat maya, setiap orang cenderung menampilkan sisi kehidupan yang sempurna, yang kemudian menjadi standar pembanding bagi mahasiswa lainnya. Dampaknya, mereka merasa harus selalu terlihat sempurna dan tidak memiliki ruang untuk mengakui kegagalan atau kerentanan diri sendiri.

Melihat urgensi ini, Fuji mendorong agar institusi pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga mulai serius melakukan screening kesehatan mental sejak dini.

Menurutnya, pemetaan kondisi psikologis mahasiswa baru jauh lebih penting daripada sekadar tes kemampuan bahasa. Dengan adanya data awal yang akurat, kampus dapat merancang program pendampingan akademik dan pola bimbingan yang lebih sensitif terhadap kondisi mental mahasiswa, bukan sekadar menuntut capaian angka di kartu hasil studi.

Selain peran kampus, intervensi pemerintah daerah juga dianggap menjadi kunci vital. Fuji menilai langkah fisik seperti menutup akses jembatan dengan pagar pengaman hanyalah upaya penanganan keamanan luar, bukan menyentuh akar permasalahan manusia atau sumber daya manusianya.

Ia menyarankan agar Pemerintah Kota Malang menginisiasi Peraturan Daerah (Perda) yang menjamin akses layanan psikolog gratis atau terjangkau. Mengingat biaya konsultasi profesional saat ini masih sulit dijangkau oleh kantong mahasiswa.

Di sisi lain, masyarakat umum dan lingkungan sekitar juga memiliki peran preventif yang sederhana namun krusial. Dalam hal ini, empati menjadi fondasi utama untuk mencegah seseorang merasa terisolasi dalam depresinya.

"Sering kali mereka yang memiliki tingkat depresi tinggi justru tidak tampak, bahkan mereka yang biasanya menjadi pemecah masalah bagi orang lain pun bisa memiliki keinginan itu karena merasa tidak ada yang benar-benar mengerti mereka," pungkas Fuji.



Simak Video "Video: Ada 4 Kasus Anak Bunuh Diri di Awal 2026, Ini Kata Menkes"

(auh/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork