Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Senin Kamis?

Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dan Senin Kamis?

Irma Budiarti - detikJatim
Senin, 23 Mar 2026 03:00 WIB
Ilustrasi Puasa Ayyamul Bidh
Ilustrasi puasa Syawal dan Senin Kamis. Foto: Gemini AI
Jakarta -

Puasa Syawal merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan setelah umat Islam menunaikan puasa Ramadhan. Keutamaan puasa ini bahkan ditegaskan langsung Nabi Muhammad SAW, di mana menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal diganjar pahala setara dengan puasa setahun penuh.

Selain itu, puasa Senin dan Kamis juga termasuk amalan yang dianjurkan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa pada dua hari tersebut amal manusia diangkat dan pintu surga dibuka, sehingga ia ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Lantas, bolehkah menggabungkan puasa Syawal dengan Senin Kamis?

Perbedaan Pendapat Ulama

Dilansir NU Online, Ustaz Muhamad Hanif Rahman menjelaskan terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait penggabungan dua niat ibadah sunah. Menurut Imam al-Qaffal, sebagaimana dikutip Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan Nadhair, dua niat sunah dalam satu ibadah tidak dianggap sah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, ada pula pendapat lain yang memperbolehkannya. Pendapat ini menganalogikan dengan beberapa ibadah lain yang dapat digabungkan, seperti mandi sunah Jumat dan Id, atau pelaksanaan khotbah sholat Id dan sholat gerhana dalam waktu yang bersamaan.

"Dan, seyogyanya dapat disamakan juga, seseorang yang berniat puasa hari Arafah dan Senin misalnya, maka puasa tersebut sah," kata Ustadz Hanif Rahman menukil as-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wan Nadhair.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Ustaz Hanif Rahman mengutip pendapat Imam Bujairami yang menyebut penggabungan dua niat puasa sunah adalah sah, baik diniatkan sekaligus maupun salah satunya saja. Bahkan, dalam kondisi tertentu, hal ini justru menambah nilai keutamaan ibadah tersebut.

"Terkadang ditemukan puasa memiliki dua sebab, seperti hari Arafah atau Asyura yang jatuh pada Senin atau Kamis, atau kedua hari tersebut jatuh dalam enam Syawal. Dalam kondisi seperti ini, puasa tersebut menjadi lebih ditekankan karena mengandung dua sebab, dengan memperhatikan keutamaan masing-masing," kata Ustaz Hanif mengutip Imam Bujairami dalam kitab Tuhfatul Habib 'ala Syarhil Khatib al-Bujairami 'ala Syarhil Minhaj.

"Jika seseorang berniat puasa untuk keduanya sekaligus, maka pahala dari kedua puasa tersebut dapat diperoleh, sebagaimana sedekah kepada kerabat yang sekaligus menjadi bentuk sedekah dan silaturahmi," lanjut Dosen Ma'had Aly Al-Iman Bulus itu.

Penjelasan lain disampaikan mengutip Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra. Dalam hal ini, niat menjadi faktor utama dalam menentukan pahala yang diperoleh.

"Jika ia berniat untuk keduanya sekaligus, maka kedua ibadah itu dianggap telah dilaksanakan. Namun, jika ia hanya berniat salah satunya, maka tuntutan untuk yang lain gugur, tetapi ia tidak mendapatkan pahala," jelasnya.

Hukum Menggabung Puasa Syawal dan Senin Kamis

Berdasarkan penjelasan dalam laman Kementerian Agama RI Kota Denpasar, menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin Kamis diperbolehkan dalam Islam. Para ulama membolehkan dan menganggap sah pelaksanaan dua puasa sunah tersebut dalam satu waktu dengan satu niat.

Pendapat ini juga sejalan dengan penjelasan Syaikh Abu Bakar dalam kitab "I'anatut Thalibin", yang menerangkan kebolehan menggabungkan dua amalan sunah dalam satu ibadah.

"Ketahuilah terkadang ditemukan dua sebab dalam puasa, seperti puasa Arafah atau Asyura bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, atau hari Senin atau Kamis bertepatan dengan puasa enam hari Syawal. Dalam keadaan ini, sangat dianjurkan berpuasa untuk menjaga dua sebab tersebut. Jika seseorang berniat melakukan keduanya, maka dia mendapatkan keduanya. Ini seperti bersedekah kepada famili yang niat sedekah dan silaturahmi."

Seseorang yang melaksanakan puasa sunah seperti Senin dan Kamis di bulan Syawal tetap berpeluang memperoleh keutamaan puasa Syawal. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani berikut.

ومما يتكرر بتكرر السنة (ستة من شوال) وإن لم يعلم بها أو نفاها أو صامها عن نذر أو نفل آخر أو قضاء عن رمضان أو غيره. نعم لو صام شوالا قضاء عن رمضان وقصد تأخيرها عنه لم يحصل معه فيصومها من القعدة

Artinya: Salah satu puasa tahunan adalah (puasa enam hari di bulan Syawal) sekalipun orang itu tidak mengetahuinya, menapikannya, atau melakukan puasa nadzar, puasa sunah lainnya, puasa qadha Ramadhan atau lainnya (di bulan Syawal). Tetapi, kalau ia melakukan puasa Ramadhan di bulan Syawal dan ia sengaja menunda enam hari puasa hingga Syawal berlalu, maka ia tidak mendapat keutamaan sunah Syawal sehingga ia berpuasa sunah Syawal pada Dzul Qa'dah. (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Qutul Habibil Gharib, Tausyih alâ Ibni Qasim, Darul Fikr, Beirut, 1996 M/1417 H, Halaman 117).

Niat Puasa Syawal dan Senin Kamis

Menjalankan puasa sunnah di bulan Syawal kerap menjadi momen untuk memperbanyak ibadah, termasuk mengamalkan puasa enam hari Syawal maupun puasa Senin Kamis. Meski sama-sama bernilai ibadah sunnah, keduanya memiliki tujuan dan keutamaan yang berbeda sehingga lafal niatnya pun tidak sama.

1. Niat Puasa Syawal

Niat Puasa Syawal di Malam Hari

Niat puasa Syawal dibaca pada malam hari sebelum melaksanakan puasa keesokan harinya. Berikut rincian bacaannya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatis Syawwâli lillâhi ta'âlâ

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta'ala.

Niat Puasa Syawal di Siang Hari

Apabila lupa membaca di malam hari, umat muslim boleh melafalkannya pada siang hari sebab puasa Syawal termasuk puasa sunah. Berikut bacaannya:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta'âlâ

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta'ala.

2. Niat Puasa Senin-Kamis

Niat Puasa Senin

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillâhi ta'âlâ.

Artinya: Aku berniat puasa sunah hari Senin karena Allah ta'âlâ.

Niat Puasa Kamis

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma yaumil khamîsi lillâhi ta'âlâ.

Artinya: Aku berniat puasa sunah hari Kamis karena Allah ta'âlâ.



(irb/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads