- Tradisi Tahun Baru yang Dipercaya Banyak Orang 1. Meramal Nasib dengan Timah di Jerman 2. Makan 12 Anggur di Spanyol dan Meksiko 3. Menggunakan Pakaian Dalam Berwarna dan Membuat Perahu Kecil di Brazil d. Menyajikan 12 Buah Bundar di Filipina
- Asal-usul Perayaan Tahun Baru Masehi
- Sejarah 1 Januari Jadi Awal Tahun
Perayaan Tahun Baru Masehi bukan hanya soal pesta kembang api dan hiburan semata. Momen ini menjadi penanda berakhirnya satu tahun, dan dimulainya tahun berikutnya, yang selalu dinantikan di berbagai belahan dunia.
Sejak awal, perayaan tahun baru terkait erat dengan sistem kalender kuno dan kepercayaan masyarakat terhadap alam. Seiring waktu, tradisi ini diwariskan dan disesuaikan dengan nilai budaya masing-masing negara, menghasilkan beragam cara merayakannya yang mencerminkan identitas sosial dan sejarah bangsa.
Tradisi Tahun Baru yang Dipercaya Banyak Orang
Perayaan Tahun Baru Masehi identik dengan berkumpul bersama keluarga, pesta meriah, dan kembang api yang memeriahkan langit malam. Namun, di balik kemeriahan itu, ada sejumlah tradisi unik yang masih dipercaya banyak orang dari berbagai negara, namun jarang diketahui, s ebagai berikut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Meramal Nasib dengan Timah di Jerman
Salah satu keunikan perayaan tahun baru di Jerman adalah melelehkan sepotong timah di atas lilin. Setelah meleleh, timah lalu dituangkan ke wadah berisi air dingin.
Timah yang mengeras akan membentuk berbagai macam bentuk. Konon, bentuk timah yang dihasilkan dipercaya mampu membaca nasib seseorang di tahun depan.
2. Makan 12 Anggur di Spanyol dan Meksiko
Masyarakat Spanyol merayakan tahun baru dengan memakan 12 buah anggur. Buah itu melambangkan setiap detak jam sebelum tahun baru dimulai.
Sedangkan di Meksiko, memakan 12 buah anggur pada perayaan tahun baru diyakini membawa keberuntungan dan kemakmuran di tahun baru.
3. Menggunakan Pakaian Dalam Berwarna dan Membuat Perahu Kecil di Brazil
Brazil memiliki tradisi yang tak kalah unik. Pada perayaan malam tahun baru, masyarakat Brazil akan membeli pakaian baru dan mengenakannya. Warna pakaian dalam tersebut juga disesuaikan dengan keinginan mereka di tahun mendatang.
Warna-warna tersebut di antaranya kuning melambangkan emas yang membawa uang, merah atau pink melambangkan cinta, dan hijau melambangkan harapan. Terakhir, biru sebagai simbol kesehatan.
Selain menggunakan pakaian dalam berwarna, masyarakat Brazil juga membuat perahu kecil yang diisi hadiah untuk merayakan tahun baru. Perahu tersebut dipersembahkan kepada Dewi Lautan bernama Yemanja, yang dilepaskan ke pantai dengan mengucapkan permintaan.
Apabila perahu berlayar dan tidak kembali ke pantai, konon, permintaan orang tersebut akan dikabulkan. Selain itu, orang-orang akan mengenakan pakaian berwarna putih yang diyakini membawa kedamaian dan getaran positif.
d. Menyajikan 12 Buah Bundar di Filipina
Apabila di Spanyol dan Meksiko menggunakan 12 buah anggur, di Filipina lain halnya. Pada perayaan tahun baru, masyarakat Filipina menyediakan 12 buah berbentuk lingkaran di atas meja makan. Buah itu melambangkan doa agar semua orang mendapat kemakmuran di tahun yang akan datang.
Sebab, buah berbentuk bundar menurut masyarakat Filipina melambangkan kekayaan seperti koin. Sedangkan, jumlahnya 12 mewakili setiap bulan dalam satu tahun. Tetapi, buah ini tidak bisa langsung dimakan, harus menunggu beberapa hari setelah perayaan tahun baru.
Asal-usul Perayaan Tahun Baru Masehi
Perayaan awal tahun baru tercatat sejak 4.000 tahun lalu atau sejak 2.000 tahun sebelum masehi (SM). Perayaan ini bertujuan menghormati kedatangan tahun baru yang dilakukan bangsa Babilonia (1696-1654 SM).
Tradisi perayaan tahun baru bangsa Babel dilakukan dengan mengikuti penanggalan bulan pertama vernal equinox (perpotongan lingkaran ekuator dan ekliptikal). Dari penanggalan itu, tahun baru dirayakan pada pertengahan Maret, karena pada masa itu terjadi pergantian musim.
Tradisi perayaan itu diselenggarakan dengan berbagai macam ritual. Mereka menggelar perayaan dengan festival keagamaan besar yang sering disebut Akitu, melibatkan berbagai ritual berbeda selama 11 hari.
Menurut keyakinan bangsa Babilonia, perayaan tahun baru dianggap sebagai kemenangan Dewa Langit Marduk melawan Dewi Laut yang jahat, Tiamat. Selama perayaan itu, Raja Babilonia selalu menerima mahkota baru sebagai simbol pembaharuan mandat dari sang ilahi.
Sejarah 1 Januari Jadi Awal Tahun
Ditetapkannya tahun baru pada 1 Januari, tidak lepas dari keterkaitannya dengan pengembangan penanggalan bangsa Romawi Kuno. Ada tokoh lain yang turut berperan dalam penetapan ini, yakni Julius Caesar.
Pada waktu itu, Romulus, pendiri Roma, masih menerapkan penanggalan Masehi terdiri dari 10 bulan dan 304 hari. Kemudian, pada abad ke-8, Numa Pompilius menambahkan dua bulan dalam penanggalan kalender Romawi, yaitu Januarius dan Februarius.
Dari penambahan dua bulan itu, Julius lantas berunding dengan ahli astronomi dan matematika untuk menyempurnakan penanggalan Masehi tersebut. Lalu, ia menetapkan bulan pertama kalender Romawi dengan nama Janus, yang berasal dari nama dewa Romawi yang bermuka dua, memandang ke depan dan belakang.
Penetapan 1 Januari sebagai hari pertama tahun baru dilakukan bukan tanpa alasan. Tetapi bentuk penghormatan kepada Dewa Janus, dewa permulaan Romawi. Waktu itu, bangsa Romawi memperingati tahun baru dengan berbagai pengorbanan kepada Janus, bertukar hadiah, mendekorasi rumah, serta mengunjungi pesta.
Di abad pertengahan, kekuasaan Kekristenan di Eropa memberikan makna religius di sekitar pergantian tahun, seperti pada tanggal 25 Desember sebagai Hari Natal, dan di antara 22 dan 25 Maret sebagai Hari Paskah.
Sementara, penetapan 1 Januari sebagai tahun baru pertama kali dilakukan Paus Gregorius XIII pada tahun 1582-an. Sampai hari ini, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai awal tahun baru oleh masyarakat dunia.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(hil/irb)











































