Bacaan Sela Takbir 7 dan 5 Kali Rakaat Pertama-Kedua Sholat Idul Fitri

Bacaan Sela Takbir 7 dan 5 Kali Rakaat Pertama-Kedua Sholat Idul Fitri

Jihan Navira - detikJatim
Sabtu, 21 Mar 2026 02:00 WIB
Ilustrasi sholat Idul Fitri.
Ilustrasi sholat Idul Fitri. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Sholat Id adalah ibadah yang dikerjakan saat dua momen besar umat Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam praktiknya, jemaah dianjurkan memperbanyak bacaan takbir, tasbih, dan tahmid.

Secara umum, tata cara dan bacaan sholat Id memang tidak jauh berbeda dengan sholat pada umumnya. Namun, ada beberapa amalan tambahan yang menjadi pembeda, seperti adanya takbir berulang di tiap rakaat serta anjuran membaca zikir tertentu dan surat-surat pilihan dalam Al-Qur'an.

Meski begitu, masih banyak jemaah yang belum mengetahui secara pasti bacaan apa yang dianjurkan di sela-sela takbir 7 kali pada rakaat pertama dan 5 kali pada rakaat kedua. Berikut penjelasan mengenai bacaan yang bisa dilafalkan beserta tata cara pelaksanaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Tasbih Sholat Idul Fitri⁠

Dilansir dari detikHikmah, setelah membaca niat sholat Id, selanjutnya adalah takbiratul ihram dan disunahkan untuk lanjut membaca doa iftitah.

ADVERTISEMENT

Setelah membaca doa iftitah, umat Islam diwajibkan untuk melakukan takbir sebanyak 7 kali. Di sela-sela takbir tersebut dianjurkan untuk membaca bacaan tasbih yang berbunyi.

سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar.

Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar."

Dilansir dari buku "Fiqih Sunnah", disebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat terkait apa yang perlu dibaca antara sela-sela sejumlah takbir sholat Idul Fitri. Seperti ada yang berpandangan bahwa Rasul SAW hanya berdiam diri di antara takbir dengan takbir berikutnya, sehingga tak ada satu bacaan yang diucapkan pada waktu berdiam tersebut.

Lain halnya dengan Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan dengan sanada yang kuad dari Ibnu Mas'ud, yaitu sesuai dengan ucapan dan perbuatannya bahwa antara takbir sholat Idul Fitri, ia membaca hamdalah dan shalawat kepada Nabi SAW. Demikian pula yang diriwayatkan dari Abu Hudzaifah dan Abu Musa.

Meski demikian, Imam Ahmad dan Syafi'I berpemahaman ada yang dilafalkan di antara takbir itu, yaitu bacaan tasbih.

Ketentuan dan Tata Cara Sholat Idul Fitri

Dilansir dari detikHikmah yang menukil buku "Fiqih Sunnah" dan buku "Fiqh Al-'Ibadat, Ilmiyyan 'Ala Madzhabi Al-Imam Asy-Syafi'i" oleh Syaikh Alauddin Za'tari, berikut sejumlah ketentuan dalam sholat Id.

1. Utama dilaksanakan di lapangan

Sholat Idul Fitri maupun Idul Adha lebih utama dilangsungkan di tanah lapang daripada di masjid selama tidak ada halangan. Demikian pula yang disebutkan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin.

Hal ini disandarkan pada kebiasaan Nabi SAW, para sahabatnya serta kalangan tabi'in. Juga berdasarkan riwayat Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata, "Rasul SAW keluar ke tanah lapang pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, maka pertama kali yang dilakukannya adalah sholat." (HR Bukhari).

Diketahui, Nabi SAW pernah sekali mengerjakan sholat Id di dalam masjid, yang disebabkan hujan turun pada hari itu. Abu Hurairah meriwayatkan, "Pada hari raya, mereka (orang-orang Madinah) kehujanan, maka Rasulullah SAW sholat di masjid bersama mereka." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah & Hakim)

2. Anjuran dilakukan berjamaah

Sholat Id dianjurkan agar dilakukan secara berjamaah, tetapi sah bisa dilaksanakan sendiri (munfarid).

3. Tidak didahului azan dan iqomah

Pada sholat Idul Fitri maupun Idul Adha tidak didahului adzan dan iqomah. Hal ini sebagaimana hadits riwayat Jabir bin Abdullah, ia berkata: "Beberapa kali aku sholat Idul Fitri dan Idul Adha bersama Nabi SAW tanpa azan dan tanpa iqomah." (HR Muslim)

4. Terdiri dari 2 rakaat dan jumlah takbirnya berbeda

Sholat Id dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan jumlah takbir sebagai pembeda sholat pada umumnya. Takbir pada sholat ini sebanyak tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua. Sebagaimana sabda Nabi SAW dalam riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash:

التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعُ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

Artinya: "Takbir dalam sholat Idul Fitri tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua, serta membaca surat setelah masing-masing dari keduanya." (HR Abu Dawud).

5. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah

Setelah takbir sholat Id pada rakaat pertama, lalu membaca Surat Al-Fatihah. Kemudian dianjurkan membaca Surat Qaf, atau Surat Al-A'la, atau Surat Al-Kafirun dengan suara dikeraskan. Sedangkan pada rakaat kedua, dianjurkan membaca Surat Al-Qamar, atau Surat Al-Ghasyiyyah, atau Surat Al-Ikhlas.

6. Khotbah setelah sholat Id

Setelah melaksanakan sholat Id dua rakaat, dilanjutkan dengan berkhutbah dua kali yang diselingi dengan duduk, seperti dua khutbah pada sholat Jumat. Rukun-rukun khutbah sholat Id di hari raya pun sama dengan rukun sholat Jumat.

Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri, ia berkata: "Pada hari raya Fitri dan Adha, Nabi SAW berangkat ke mushola (tempat sholat). Yang pertama beliau lakukan ialah sholat. Selesai sholat, beliau berdiri menghadap ke arah orang-orang. Mereka duduk pada shaf mereka, lalu beliau memberikan nasihat serta pesan kepada mereka." (HR Bukhari)

Begitu pula menurut Nahdlatul Ulama (NU) Online dalam laman resminya, setelah sholat selesai dengan diakhiri gerakan salam, jamaah tidak disarankan buru-buru pulang tetapi perlu mendengarkan khutbah Idul Fitri sampai selesai. Kecuali apabila sholat Id ditunaikan tidak secara berjamaah.




(abq/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads