Khotbah Idul Fitri yang Menyentuh Hati Jemaah Sholat Id

Khotbah Idul Fitri yang Menyentuh Hati Jemaah Sholat Id

Irma Budiarti - detikJatim
Jumat, 20 Mar 2026 17:00 WIB
Ilustrasi mendengarkan khotbah saat salat Jumat.
Ilustrasi mendengarkan khotbah saat salat Idul Fitri. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Hari raya Idul Fitri menjadi momen istimewa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Selain salat Id, khotbah Idul Fitri juga menjadi bagian penting yang sarat makna dan berisi pesan-pesan keimanan, refleksi diri, serta ajakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Khotbah yang singkat namun menyentuh hati sering kali lebih mudah dipahami dan membekas di ingatan jemaah. Pesan yang disampaikan secara sederhana, tetapi penuh makna, mampu menggugah kesadaran untuk terus menjaga nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan berlalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teks Khotbah Idul Fitri 2026

Berikut ini contoh teks khotbah Idul Fitri 2026 yang singkat, padat, dan menyentuh, sehingga dapat dijadikan referensi bagi khatib dalam menyampaikan pesan kepada jemaah.

1. Khutbah Idul Fitri 1447 H: Meraih Kemenangan di Hari yang Fitri

Khutbah I

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ

لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ واللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُولله الحمد

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الناس، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan nikmat dan karunia dengan jumlah yang tidak terbatas. Di antara nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan Islam. Semoga kedua nikmat ini tidak akan pernah hilang setelah Allah tanamkan di dalam hati kita.

Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta para sahabat dan pengikutnya. Semoga kita dapat mengamalkan ibadah sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sesuai dengan kadar kemampuan kita.

Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak kepada diri khatib secara khusus dan semua jamaah untuk terus istikamah dalam menjalankan ibadah dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, serta menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Sebab, tidak ada bekal yang paling baik untuk kita bawa menuju akhirat selain ketakwaan.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam sebagai puncak kemenangan. Semua umat Islam merasakan kegembiraan dan suka cita atas ikhtiarnya menjalankan berbagai ibadah mahdhah dan gahiru mahdhah selama satu bulan penuh di Ramadhan.

Di antaranya berpuasa di siang hari, menjalankan ibadah shalat lima waktu dan Tarawih di malam hari, membayar zakat fitrah di penghujung bulan suci Ramadhan, melakukan taharau atau berburu lailatul qadar dengan beriktikaf di malam hari di masjid-masjid, qimaul lail, berdzikir dan membaca Al-Qur'an dan ibadah lainnya.

Semua ibadah tersebut dilakukan di dalam rangka mencari rida Allah agar batin dan spiritual diri kita kembali kepada fitrah. Pada saat manusia kembali ke fitrah di hari yang fitri, maka Allah menjanjikan berbagai macam reward yang hadiahnya merupakan incaran bagi setiap mahluk. Di antaranya adalah maghfirah atau ampunan dosa. Rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barangsiapa berpuasa di Bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Dalam hadits yang lain dengan menggunakan redaksi yang hampir sama:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Artinya: Barangsiapa menjalankan qiymaul lail di Bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Dikisahkan oleh imam Al Ghazali di dalam bukunya Durratul Fakhiroh fi Kasyfi Ulumil Akhirah bahwa pada saat jiwa manusia dihadapkan dengan sakaratul maut, maka Ruhul Amin atau Malaikat Jibril akan menyampaikan berita gembira yaitu Allah telah memberikan ampunan.

Pada saat itu, roh akan merasakan ketenangan dan kesenangan. Bahkan rasa sakitnya sakaratul maut terlupakan karena busyrah atau kabar gembira dari Allah. Nabi bersabda:

المَوْتُ تُحْفَةُ الْمُؤْمِنِ

Artinya: Kematian adalah hadiah berharga bagi orang mukmin." Kedua, reward pahala dari Allah dengan jumlah tak terbatas kecuali hanya Allah yang mengetahui. Malaikat pun tidak ada yang tahu berapa kadaran pahala bagi orang yang menjalankan ketaatan di bulan suci ramadhan. Informasi ini disampaikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah melalui hadits qudsi yaitu wahyu dari Allah yang redaksinya dirangkai oleh Rasulullah dan bukan termasuk kategori ayat Al-Qur'an.

قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Artinya: Setiap amal anak Adam adalah teruntuk baginya, kecuali puasa, karena ia adalah bagi-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.

Lagi-lagi reward pahala juga merupakan incaran setiap Muslim yang menjalankan sebuah ibadah. Bahkan banyak di antara kita beramal suatu ibadah karena terobsesi dengan limpahan pahala-Nya. Karena pahala menjadi modal utama dalam rangka menghadapi mizan di akhirat kelak.

Semakin banyak pahala, maka semakin besar peluang meraih surga. Di antara mega bonus lainnya, Allah menawarkan lailatul qadar sebagai malam penuh keberkahan. Kedahsyatannya dapat melebihi ibadah lebih dari 1000 bulan atau 83 tahun lamanya. Allah berfirman dalam Surat Al Qadr: 3:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ۝٣

Artinya: Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

Cukup dengan beramal satu malam walaupun sebentar maka akan mendapatkan derajat spektakuler melebihi dari ekspektasi nalar. Hanya, umat Islam wajib mencarinya karena Allah tidak pernah menentukan kapan terjadinya malam tersebut kecuali dengan ungkapan malam ganjil 10 terakhir saja. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

Artinya: Carilah malam lailatul qodar itu pada malam ganjil sepuluh terakhir di Bulan Ramadhan.

Begitu berharganya lailatul qadar, Rasulullah justru meningkatkan kualitas ibadahnya. Bahkan mengajak keluarganya untuk bersama-sama meraih kenikmatan lailatul qadar.

Betapa Maha Rahman dan Rahim-Nya Allah di dalam membagikan rahmat-Nya secara khusus kepada umat Nabi Muhammad dengan menghadirkan lailatul qadar yang hanya ada di bulan suci Ramadhan setiap tahunnya. Mengingat usia Rasulullah dan umatnya lebih pendek jika dibandingkan dengan para Nabi sebelumnya.

Rasulullah diwafatkan dalam usia 63 tahun hitungan kalender Hijriah atau sekitar 61 tahun 2 bulan hitungan kalender Masehi. Sedangkan umat terdahulu memiliki usia yang begitu panjang. Misalnya Usia Nabi Nuh diperkirakan lebih dari 1000 tahun sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ankabut: 14:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًاۗ

Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.

Abu Hurairah meriwayatkan hadits tentang usia Nabi Ibrahim saat dikhitan pada usia 80 tahun:

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ النبيُّ عليه السَّلَامُ، وَهو ابنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بالقَدُومِ.

Artinya: Nabi Ibrahim 'alaihissalam khitan pada usia 80 tahun di suatu tempat yang bernama Al-Qadum.

Bahkan di dalam catatan buku klasik Al-Mustakhraj min Kutub An-Nas li At-Tadzakkurati wa Al-Mustatharrifi min Ahwal Ar-Rijal lil Al-Ma'rifah, karangan Abdurrahman bin Muhammad Al-Ashbahani mencatatkan bahwa usia Nabi Ibrahim mencapai 200 tahunan.

Jika usia Nabi Muhammad dan umatnya lebih pendek dibandingkan dengan umat Nabi terdahulu, maka kesempatan menuai pahala dan menghapus kesalahan tidak sebanding dengan umat terdahulu. Hadirnya Ramadhan merupakan sebuah anugrah Allah sebagai jawaban atas doa dan permohonan Rasulullah.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika Bulan Ramadhan tidak pernah ada. Boleh jadi kita mengalami kesulitan untuk mencari tambahan modal pahala dan maghfirah dalam rangka menghadapi kehidupan akhirat kelak. Semoga kita dipertemukan kembali oleh Allah dengan Ramadhan mubarak di tahun depan.

Jamaah sidang Shalat Idul Fitri rahimakumullah Makna kemenangan di hari yang fitri bukan hanya keberhasilan hamba menggapai kesucian batiniah di hadapan Allah semata. Akan tetapi, sebuah kemenangan itu akan sempurna jika diikuti dengan permintaan maaf kepada sesama manusia.

Di Indonesia, ucapan permohonan maaf juga sangat identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Setiap Muslim yang bertemu hampir pasti mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Bahkan sekarang dengan menggunakan teknologi modern ucapan dan ungkapan maaf dapat dilakukan lebih mudah.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, permintaan maaf kepada sesama manusia merupakan penyempurna tobat jika dosa tersebut menyangkut hak orang lain (perzhaliman). Allah pun memuji kepada setiap insan yang saling memaafkan dengan mengapresiasi dengan pahala sebagai tanda keridaannya. Allah berfirman di dalam Surat Asy Syuara: 40:

فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ

Artinya: Siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah.

Ungkapan maaf di hari yang fitri bukan hanya sekadar slogan atau budaya tetapi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh manusia sesuai dengan perintah hukum syariat. Imam Nawawi menjelaskan bahwa hukum meminta maaf adalah wajib jika seseorang tersebut melakukan ghibah, fitnah, membentak, menyakiti dengan kata-kata, atau mengambil hak orang lain.

Tidak cukup hanya beristighfar kepada Allah, tetapi harus meminta maaf kepada orang yang dizalimi. Beberapa contoh yang disebutkan oleh Imam Nawawi besar peluangnya menimpa diri kita terhadap keluarga, tetangga, teman sejawat sehingga mereka tersinggung dan tersakiti hatinya.

Mungkin tanpa sengaja kita melontarkan ucapan atau candaan kepada seseorang, memarkir kendaraan di depan rumah tetangga kita, membangun pagar rumah melebihi batas wilayah teritorial tanah pribadi kita, tanpa sengaja jarang bertegur sapa dengan orang terdekat kita dan lainnya. Maka, Rasulullah menganjurkan agar memohon maaf atas kesalahan-kesalahan tersebut. Sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Artinya: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Siapa yang pernah berbuat aniaya (dzalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kedzalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang didzaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.

Dari hadis ini, kita dapat mengambil sebuah i'tibar betapa besar mudaratnya jika urusan khilaf dan salah dengan sesama manusia masih tersisa di dunia. Ada beban yang harus ditanggung hingga di hari akhir kelak.

Beban ini dapat menghambat kesuksesan hamba menuju ridha Allah. Orang-orang yang pernah didzalimi akan menunutut keadilan. Mereka memohon kepada Allah agar kedzaliman yang pernah dialami di dunia agar diselesaikan di dalam mahkamah mizan.

Akibatnya banyak amal saleh yang sudah dituai di dunia harus dikurangi dan diberikan kepada orang yang didzalimi. Bahkan berkurangnya amal saleh tersebut mengantarkan pelakunya sebagai golongan al khasirin atau orang yang rugi. Hingga tidak ada lagi amal baik yang harus diserahkan tetapi dosa orang yang didzalimi diserahkan. Naudzubillahi min dzalik.

Di dalam hadits tersebut Rasulullah menyebutkan kata "Falyatahlalhu" yang berarti meminta kehalalannya atau meminta maaf. Ungkapan ini menjadi inspirasi KH Abdul Wahab Hasbullah untuk membuat agenda yang dikenal dengan istilah halalbihalal.

Sebuah acara saling memaafkan pada momentum Hari Raya Idul Fitri yang digagas dalam rangka menyatukan elit politik yang sedang bersih tegang dan berbeda pandangan di awal kemerdekaan. Wal hasil acara ini berhasil menyatukan para pendiri bangsa dari perpecahan.

Agenda dan istilah halalbihalal tetap digunakan hingga saat ini di Indonesia. Dan acara tersebut hanya ada di Indonesia. Hampir di setiap tempat pasti diadakan acara halal bi halal pada saat momentum Hari Raya Idul Fitri.

Istilah halalbihalal tidak akan ditemukan di negara lain meskipun di negara tetangga. Halalbihalal bukan sekedar acara biasa tetapi sebuah momentum yang sangat langka yang dihadiri oleh sanak saudara dan handai tolan yang sudah lama tidak berjumpa.

Suasana yang sederhana tetapi meriah. Acara ini dapat mendekatkan tali ikatan silaturahmi dengan sanak saudara. Serta tidak lupa biasanya akan digunakan untuk saling bermaafan. Sebenarnya inilah inti dari halalbihalal. Semua pulang ke rumah dengan tanpa beban dan salah. Kita semua kembali ke fitrah.

Sidang Shalat Idul Fitri rahimakumullah Betapa ruginya, jika momentum idul fitri tidak digunakan untuk berburu maaf. Ada sebuah cerita yang dapat menginspirasi kita tentang bahayanya orang yang enggan meminta dan menerima maaf.

Termaktub di dalam sebuah kitab Al Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Mishri al-Qalyubi asy-Syafi'i bahwa suatu kali Iblis mendatangi Fir'aun dan berkata: Apakah kau mengenaliku?" "Ya," sahut Fir'aun. "Kau telah mengalahkanku dalam satu hal." "Apa itu?" tanya Fir'aun penasaran. "Kelancanganmu mengaku sebagai Tuhan. Sungguh, aku lebih tua darimu, juga lebih berpengetahuan dan lebih kuat ketimbang dirimu. Tapi aku tidak berani melakukannya." "Kau benar. Tapi aku akan bertobat," kata Fira'un. "Jangan buru-buru begitu," bujuk Iblis la'natullah 'alaih: Penduduk Mesir sudah menerimamu sebagai tuhan. Jika kau bertobat, mereka akan meninggalkanmu, merangkul musuh-musuhmu, dan menghancurkan kekuasaanmu, hingga kau tesungkur dalam kehinaan." "Kau benar," jawab Fir'aun: Tapi, apakah kau tahu siapa penghuni muka bumi ini yang lebih buruk dari kita berdua?" Kata Iblis: Ya. Orang yang tidak mau menerima permintaan maaf orang lain. Ia lebih buruk dariku dan darimu."

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa menolak memohon dan menerima maaf termasuk perbuatan sombong. Sebuah sifat yang sangat melekat dengan Iblis dan Fir'aun. keduanya mengakui bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah tindakan tercela melebihi kemaksiatan keduanya.

Sifat sombong termasuk perusak amal kelas wahid menurut imam Nawawi Al Bantani sebagaimana disebutkan di dalam Maraqil Ubudiyah. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari penyakit mematikan ini. Sebagai pamungkas, Imam Syafi'i menasehatkan kepada kita bahwa jasad yang berharga itu ketika memiliki roh.

Ruh yang berharga ketika memiliki ilmu. Ilmu yang berharga ketika diamalkan. Amal itu berharga ketika dilakukan secara ikhlas. Maka Permintaan maaf kepada Allah dan mahluk akan berharga dan bermanfaat ketika dilakukan oleh hati secara ikhlas. Mudah-mudahan Idul Fitri tahun ini merupakan gerbang kesuksesan yang kita capai di tahun ini dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ (3x(، اَللهُ أَكْبَرُ (3x( اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ. اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

2. Khutbah Idul Fitri: Menjadi Mukmin yang Muttaqin Menuju Fitrah

Khutbah I

اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ شَهْرَ الْعِبَادَةِ وَالْبَرَكَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالْعِتْقِ مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah. Alhamdulillah, pada hari yang mulia ini kita merayakan Idul Fitri, hari kembali kepada fitrah, yaitu kesucian jiwa setelah menjalani ibadah Ramadan. Sebulan penuh kita ditempa untuk meningkatkan keimanan, menahan hawa nafsu, serta memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Baca Juga Tata Cara Khutbah Idul Fitri Lengkap Rasulullah SAW bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Artinya: Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Tuhannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebahagiaan Idul Fitri bukan sekadar karena berakhirnya puasa, tetapi karena harapan bahwa Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Namun jamaah sekalian, Ramadhan bukan akhir ibadah, melainkan awal perjalanan baru untuk menjaga nilai-nilai yang telah kita latih selama sebulan.

Keberhasilan Ramadhan akan terlihat setelah bulan itu berlalu: apakah kita tetap menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta menjauhi dosa. Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai derajat takwa. Takwa berarti menjalankan ketaatan kepada Allah dengan penuh kesadaran serta meninggalkan maksiat karena takut kepada-Nya. Thalq bin Habib menjelaskan:

اَلْعَمَلُ بِطَاعَةِ اللّٰهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللّٰهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللّٰهِ، وَتَرْكُ مَعَاصِي اللّٰهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللّٰهِ مَخَافَةَ عَذَابِ اللّٰهِ

Artinya: Takwa adalah menjalankan ketaatan kepada Allah dengan petunjuk dari-Nya karena mengharap pahala-Nya, serta meninggalkan maksiat dengan petunjuk dari-Nya karena takut akan azab-Nya.

Orang yang bertakwa adalah orang yang menjadikan Ramadhan sebagai madrasah kehidupan. Ia terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah.

Makna Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian. Puasa, shalat, zakat, sedekah, dan berbagai ibadah di bulan Ramadan menjadi sarana pengampunan dosa dan penyucian hati. Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Al-Bukhari)

Karena itu, pada hari yang fitri ini kita juga saling memaafkan. Jika dosa kepada Allah dapat kita mohonkan ampun kepada-Nya, maka kesalahan kepada sesama manusia harus diselesaikan dengan saling memaafkan dan memperbaiki hubungan.

Kembali kepada fitrah berarti kembali kepada akhlak yang mulia: dari sombong menjadi rendah hati, dari kikir menjadi dermawan, dari permusuhan menjadi persaudaraan, dan dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.

Marilah kita terus menjaga ketakwaan kepada Allah setelah Ramadan berlalu. Jadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari: memperbanyak sedekah, mempererat silaturahmi, serta menjaga ibadah kepada Allah.

اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَتَجَاوَزْ عَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ، وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَحُبَّ نَبِيِّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ وَأَحَبَّ نَبِيَّكَ، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مُتَابَعَةَ نَبِيِّكَ وَالتَّمَسُّكَ بِكِتَابِكَ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الجَنَّةَ هِيَ دَارُنَا وَقَرَارُنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيْرُنَا عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ

3. Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu

Khutbah I

اَللَّهُ أَكْبَرُ ٣×. اَللَّهُ أَكْبَرُ ٣×. اللهُ أَكْبَرُ٣×. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِیْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Hadirin jamaah Idulfitri rahimakumullah, Alhamdulillah, tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu begitu cepat meninggalkan kita. Rasanya baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh suka cita, dan hari ini kita telah berada di bulan Syawal.

Semoga seluruh amal ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT, dan semoga segala dosa kita diampuni oleh-Nya. Dalam suasana kemenangan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita senantiasa istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Yaitu dengan terus menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab ketakwaan itulah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap Allah Ta'ala kelak di hari kiamat. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat. (QS. Al-Baqarah: 197)

Hadirin jamaah Idulfitri rahimakumullah, Idulfitri bukanlah sekadar seremonial belaka dan bukan pula hanya momen berkumpul dengan berbagai rangkaian acara. Lebih dari itu, Idulfitri adalah simbol penyucian jiwa.

Sebuah keadaan di mana hati kembali bersih, perasaan menjadi tenang, dan kita meraih kemenangan setelah melalui perjuangan yang nyata dan berat, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu. Karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam menyadari makna kemenangan sejati di hari raya ini.

Kemenangan tersebut bukan hanya tampak secara lahiriah, tetapi juga kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan karena dosa-dosa diampuni, serta kemenangan dalam mengendalikan emosi dan sifat-sifat negatif dalam diri kita.

Dengan demikian, kemenangan sejati pada hari Idulfitri bukanlah sekadar perayaan, melainkan perubahan diri seorang muslim menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bersih hatinya, dan lebih dekat kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad bin 'Aly bin Abdil Qadir al-Qudsi al-Makki asy-Syafi'i dalam kitab Kanzun Najah was Surur halaman 263 cetakan Darus Sanabil Damaskus:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

Artinya: Bukanlah disebut id (hari raya) bagi orang yang mengenakan (pakaian) baru, sesungguhnya id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan setiap hari yang tiada maksiat di dalamnya itulah id.

Hadirin jamaah Idulfitri rahimakumullah, Hari raya memang patut kita rayakan. Namun, jangan sampai perayaan ini membuat kita terlena, hingga lalai dari kewajiban utama kita, yaitu tetap istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah Ta'ala.

Mari kita jaga konsistensi ketakwaan di hari kemenangan ini. Ketakwaan yang telah kita bangun selama bulan Ramadhan harus terus kita pelihara. Amal saleh yang telah kita lakukan hendaknya kita lanjutkan, dan hati yang telah dibersihkan perlu kita jaga sebaik-baiknya.

Inilah momentum bagi kita untuk semakin menguatkan hubungan kita dengan Allah Ta'ala, sekaligus mempererat hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai kita justru terjerumus dalam kehinaan dengan memulai hari kemenangan ini dengan maksiat kepada Allah Ta'ala.

Jangan sampai kita menyakiti sesama, apalagi menjadikan hari raya yang seharusnya penuh dengan suasana kekeluargaan, berubah menjadi ajang saling mencibir, bahkan memutus tali silaturahim. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنْ النَّاسِ

Artinya: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali hubungan kepada Allah dan tali hubungan dengan manusia. (QS. Ali Imran: 112).

Hadirin jamaah Idulfitri rahimakumullah, Oleh karena itu, hari ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk menjaga komitmen sebagai hamba yang saleh, hamba yang tidak berubah hanya karena pergantian waktu dan suasana.

Ketakwaan kita tidak berhenti di bulan Ramadhan, tetapi terus berlanjut dalam setiap langkah kehidupan kita. Mari kita isi hari kemenangan ini dengan menebar kebaikan dan kasih sayang. Kita saling memaafkan, saling berkunjung untuk menjaga silaturahim, serta saling berbagi kebahagiaan dengan saudara, tetangga, dan sesama. Mari kita tebarkan kebaikan, meskipun tampak sederhana dan sepele.

Dalam pandangan Allah, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai yang besar. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu 'anhu sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ." أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Artinya: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. (HR Muslim)

Hadits tersebut menekankan agar seluruh umat muslim tidak meremehkan kebaikan walaupun terlihat sepele. Sebaliknya kita juga tidak boleh meremehkan kemaksiatan walaupun terlihat sepele. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW:

يَا ابْنَ آدَمَ لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ وَلَكِنْ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ

Artinya: Wahai anak Adam, janganlah kamu melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah siapa yang kamu langgar perintahnya (yaitu Allah). (HR Imam Malik)

Bahkan amal yang terlihat kecil atau bahkan sepele bisa menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala. Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit. (HR Muslim)

Hadirin jamaah Idulfitri rahimakumullah, Marilah kita hiasi suasana hari raya Idulfitri ini dengan menebar kebaikan kepada sesama. Jangan sampai hari kemenangan yang suci ini justru kita nodai dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, apalagi perbuatan tercela yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Jangan pula suasana sakral penuh kekeluargaan di hari yang fitrah ini berubah menjadi ajang yang menimbulkan kesenjangan sosial-seperti gaya hidup berlebihan, pamer kemewahan, sikap saling menjatuhkan, atau keinginan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia.

Mari kita jadikan hari ini sebagai kemenangan yang sejati: kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu, dengan terus menebar kebaikan dan menahan segala emosi negatif dalam diri kita.

Demikian khutbah Idulfitri pada hari ini. Semoga apa yang disampaikan membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta menjadi sebab diterimanya seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadhan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

أَللهُ أَكْبَرُ (3x)، أَللهُ أَكْبَرُ (3x)، أَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ. أَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ عَلىَ نِعَمِهِ الَّتِى لاَتُحْصَى وَلاَ تُحْصَرُ، وَنَشْكُرُهُ عَلىَ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَحَقٌّ لَهُ أَنْ يُشْكَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوْا اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ، وَعَظِّمُوْا أَمْرَهُ وَاجْتَنِبُوْا نَهْيَهُ، ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْن وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. اَللّهُمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الْإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ. وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ




(abq/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads