Ekor kemacetan di wilayah Bali menuju pelabuhan Gilimanuk tersisa 9 kilometer dari sebelumnya mencapai 31 kilometer. PT ASDP Indonesia Ferry mengerahkan 34 kapal dengan 6 kapal sapujagat untuk mengangkut seluruh pemudik yang masih menumpuk di Pelabuhan Gilimanuk.
General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah mengungkapkan, ASDP telah mengeroahkan 40 kapal untuk melayani penyeberangan dari Ketapang - Gilimanuk dan sebaliknya. Dari 40 kapal tersebut, pada siang hari sebanyak 22 kapal diberlakuka skenario Tiba Bongkar Balik (TBB).
Namun, pasca penutupan pada pukul 17.00 WIB, dari jumlah 40 kapal sebanyak 34 kapal dioptimalkan untuk beroperasi dengan skenario TBB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada 40 kapal mudah mudahan bisa dioptimalkan dan dari 22 itu skenarionya TBB, yang sisanya normal. Tapi sekarang sudah 34 skenario TBB dan 6 standby," kata Arief, Rabu (18/3/2026).
Dari 34 kapal yang beroperasi menggunakan skema TBB tersebut, 6 diantaranya merupakan kapal sapu jagat yang telah beroperasi sejak hari pertama arus mudik. Ditambah lagi ada 1 unit kapal dari lembar dengan kapasitas angkut ratusan kendaraan turut dioperasikan.
Arief mengaku pihaknya berupaya seoptimal mungkin untuk bisa mengangkut seluruh penumpang, meski saat ini ekor kemacetan telah berada diangka 9 kilometer, ia meyakini jumlah tersebut bisa kembali bertambah seiring bertambahnya jumlah pemudik yang harus meninggalkan Bali saat nyepi.
"Kita upayakan semaksimal mungkin karena dari 9 kilo itu masih bisa nambah karena masih ada pemudik yang datang pastinya tapi intinya semaksimal mungkin kita akan angkut," terangnya lebih lanjut.
Menurut Arief, untuk bisa mengoptimalkan pengangkutan maka pemberlakuan skema TBB harus tertip. Jika sebelumya hanya 4 dermaga yang dioperasikan TBB, saat ini seluruh dermaga dengan skema TBB secara masif menyeberangkan pemudik dari Gilimanuk menuju Ketapang.
"Pada prinsipnya skema TBB itu harus tertip maka itu bisa divoptimalkan pengangkutannya," tegas Arief.
Arief menyebut, kondisi kemacetan parah yang berimplikasi pada penumpukan jumlah penumpang di pelabuhan Gilimanuk dipicu oleh hari raya nyepi yang berdekatan dengan hari raya idul fitri serta cuti yang berdekatan.
"Sementara ini karena memang ada 2 hari raya yang berdekatan yaitu hari raya nyepi dan idul fitri, kemudian ada cuti bersama berdekatan, sementara itu yang bisa kami lihat tapi ya memang kejadian seperti ini ekstrem. Intinya kami memang harus menyeberangkan mereka," pungkas Arief.
(auh/abq)
