Sebentar lagi, umat Islam akan merayakan hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Salah satu momen yang paling dinanti adalah malam takbiran, ketika gema takbir berkumandang dari masjid hingga jalanan, menghadirkan suasana haru sekaligus penuh kemenangan.
Meski sudah menjadi tradisi setiap tahun, masih banyak yang bertanya sebenarnya kapan waktu takbiran dimulai dan sampai kapan berakhir? Takbiran merupakan amalan sunah yang dianjurkan untuk mengagungkan nama Allah sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadhan.
Amalan ini biasanya dilakukan dengan melantunkan kalimat Allahu Akbar secara bersama-sama, baik di masjid, musala, maupun di rumah. Dilansir dari laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) Online, anjuran takbiran ini sesuai dengan firman Allah SWT berikut.
وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Artinya: Dan, hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah [2]: 185)
Di Indonesia, takbiran juga kerap diramaikan dengan pawai keliling yang menambah semarak suasana malam Lebaran. Meski telah menjadi tradisi turun-temurun, penting untuk memahami waktu pelaksanaan takbiran agar tetap sesuai anjuran dalam syariat Islam.
Kapan Takbiran Dimulai?
Anjuran membaca takbir Idul Fitri dimulai sejak masuk malam 1 Syawal, yakni setelah terbenamnya Matahari di akhir bulan Ramadhan. Takbiran tersebut berlangsung hingga imam memulai sholat Id dengan takbiratul ihram bagi yang melaksanakan secara berjemaah.
Sementara bagi yang tidak berjemaah, takbiran berakhir saat seseorang memulai sholat Id. Meski demikian, terdapat pendapat lain yang menyebutkan bahwa batas akhir membaca takbir adalah hingga waktu pelaksanaan sholat Id dianjurkan.
Lafal Takbir Idul Fitri
Masih dilansir dari laman yang sama, bacaan takbir Idul Fitri dibagi menjadi dua, yaitu takbir muqayyad dan takbir mursal. Takbir muqayyad adalah takbir yang dianjurkan dibaca setiap setelah sholat, baik sholat fardu maupun sunah. Sementara takbir mursal adalah takbir yang dibaca kapan dan di mana saja.
Berikut ini lafal takbir yang dianjurkan untuk dibaca pada malam dan hari raya Idul Fitri. Takbir dilafalkan sebanyak tiga kali sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu', Syarhul Muhadzdzab berikut.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Arab Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Imam An-Nawawi menjelaskan sifat takbir pada malam dan hari raya. Imam An-Nawawi menyebut tiga takbir berturut-turut yang dikutip dari Imam As-Syafi'i dan ulama syafiiyah adalah sebagai berikut.
صفة التكبير المستحبة الله اكبر الله اكبر الله اكبر هذا هو المشهور من نصوص الشافعي في الام والمختصر وغيرهما وبه قطع الاصحاب
Artinya: Sifat takbir yang dianjurkan, 'Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.' Ini (takbir 3 kali) yang masyhur dari nash Imam As-Syafi'i dalam Kitab Al-Umm, Al-Mukhtashar, dan selain keduanya. Sifat ini yang dipegang ulama ashab. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz V, halaman 42)
Selain tiga takbir tersebut, umat Islam biasanya menambahkannya dengan zikir sebagai berikut sebagaimana zikir dan takbir Rasulullah SAW di bukit Shafa yang diriwayatkan Imam Muslim:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Arab Latin: Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na'budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.
Adapun lafal takbir yang sering dibaca masyarakat sebagai berikut tidak masalah. Lafal takbir itu cukup baik untuk dibaca.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Arab Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Lataf tersebut ada pada penjelasan Imam An-Nawawi terkait lafal takbir yang lazim dibaca oleh masyarakat.
قال صاحب الشامل والذي يقوله الناس لا بأس به أيضا وهو الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد
Artinya: Penulis Kitab As-Syamil mengatakan, lafal takbir yang dibaca masyarakat selama ini tidak masalah, yaitu 'Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu,'. (Lihat Imam An-Nawawi, 2010 M: V/42-43)
Sebagian ulama mazhab As-Syafi'i menambahkan lafal takbir berdasarkan pandangan Imam As-Syafi'i pada qaul qadim.
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا اللهُ اَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا وَالحَمْدُ للهِ عَلَى مَا أَوْلَانَا وَأَبْلَانَا
Arab Latin: Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, Allāhu akbar 'alā mā hadānā, wal hamdu lilāhi 'alā mā awlānā wa ablānā.
Artinya: Allah Maha Besar, segala puji yang banyak bagi Allah. Allah Maha Besar atas hidayah-Nya kepada kita. Segala puji bagi Allah atas nikmat dan ujian-Nya untuk kita.
Mengetahui waktu dimulai hingga berakhirnya takbiran dapat membantu menjalankan ibadah lebih tepat. Takbiran juga menjadi pengingat untuk mensyukuri kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan momen takbiran dapat dijalani dengan lebih khusyuk dan penuh makna.
(hil/irb)











































