Lebaran 2026 NU dan Muhammadiyah Bisa Bareng? Ini Prediksi dan Penjelasannya

Lebaran 2026 NU dan Muhammadiyah Bisa Bareng? Ini Prediksi dan Penjelasannya

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Rabu, 18 Mar 2026 09:30 WIB
Petugas melakukan pemantauan hilal untuk menentukan 1 Syawal.
Petugas melakukan pemantauan hilal untuk menentukan 1 Syawal.Foto: Antara Foto/Str
Surabaya -

Menjelang Idul Fitri 2026, pertanyaan soal apakah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan merayakan Lebaran di hari yang sama kembali jadi perhatian. Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah sering membuat tanggal Lebaran tidak selalu seragam setiap tahunnya.

Untuk Lebaran 2026, ada indikasi potensi perbedaan, meski keputusan final tetap menunggu sidang isbat pemerintah. Lalu, apakah ada peluang Lebaran tahun ini bisa dirayakan bersama? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Penetapan Lebaran 2026 Verai Pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah melalui sidang isbat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Tanggal sidang isbat: 19 Maret 2026 (29 Ramadan 1447 H)
  • Lokasi: Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta

Berdasarkan kalender resmi (SKB 3 Menteri), Lebaran 2026 diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. Namun, tanggal ini masih bersifat prediksi dan bisa berubah tergantung hasil rukyatul hilal.

Prediksi Astronomi dari BRIN

Menurut peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin, secara astronomi posisi hilal pada 19 Maret 2026 belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari detikNews, Thomas menjelaskan secara astronomi pada saat Kamis (19/3/2026), waktu Magrib di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Hal itu, terlihat pada peta perhitungan yang masih melintasi wilayah Asia Tengah.

Sejak 2021/2022, kriteria MABIMS bulan awal hijriah ditetapkan apabila posisi tinggi hilal berada di minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan demikian, menurut Thomas, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026. Namun, keputusan akhirnya tetap harus menunggu hasil sidang isbat.

Untuk diketahui, kriteria MABIMS sejak 2021/2022, bulan awal hijriah ditetapkan jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Meski begitu, jika menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), posisi bulan sudah memenuhi syarat. Menurut kriteria KHGT 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026.

Lebaran 2026 Versi Muhammadiyah

Sementara pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah.

Dikutip dari detikHikmah, merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada 20 Maret 2026.

Ketetapan tersebut diambil berdasarkan perhitungan hisab Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah berdasarkan prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Apakah Lebaran NU dan Muhammadiyah Bareng?

Mengutip dari situs Kementerian Agama (Kemenag) RI, merespons kabar bahwa awal Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah pada Kementerian Agama, Arsad Hidayat mengatakan bahwa perbedaan pendekatan dalam menentukan awal bulan Hijriah merupakan bagian dari dinamika yang telah lama dikenal dalam praktik keilmuan Islam.

Jadi, beda atau tidaknya Lebaran 2026 pemerintah dan Muhammadiyah, tergantung pada hasil sidang isbat tanggal 19 Maret 2026 nanti. Pastikan jangan melewatkan sidang isbat penetapan 1 Syawal untuk mengetahui hasilny ya.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads