Imbas Perang Israel Vs Iran, Mahasiwa Timur Tengah di Surabaya Gagal Mudik

Imbas Perang Israel Vs Iran, Mahasiwa Timur Tengah di Surabaya Gagal Mudik

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 16 Mar 2026 20:40 WIB
Mahasiswa UMSURA asal Timur Tengah gagal mudik imbas perang Israel vs Iran
Mahasiswa UMSURA asal Timur Tengah gagal mudik imbas perang Israel vs Iran (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Konflik AS-Israel dengan Iran masih memanas hingga mendekati Idulfitri. Beberapa mahasiswa asal Timur Tengah yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) pun gagal mudik akibat penerbangan terganggu.

Salah satunya, mahasiswa Teknis Informatika UMSURA, Khusay asal Yaman tidak bisa mudik ke negara asalnya. Sebab kondisi keamanan tidak menentu dan ditambah harga tiket pesawat yang mahal.

"Selama waktu ini perang pecah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Jadi kami tidak bisa kembali ke Yaman, karena tiket pesawat, harganya sangat tinggi, dan tidak ada penerbangan terdekat untuk kembali ke Yaman," kata Khusay di Surabaya Timur, Senin (16/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khusay menceritakan, sebenarnya dia bisa pulang ke Mesir karena keluarga besarnya di sana. Tetapi ibunya meminta untuk tetap di Indonesia demi keamanan.

ADVERTISEMENT

"Tentang keluarga saya, mereka tidak tinggal di Yaman, tapi tinggal di Mesir. Tapi ibu saya sedang di Yaman sekarang. Beliau bahkan sedang di Yaman saat perang dimulai. Jadi situasinya memang sulit," ceritanya.

Berbagai kendala mulai keamanan, penerbangan tak pasti, dan harga tiket pesawat mahal, Khusay pun memutuskan tidak tidak Lebaran Idulfitri. Bahkan keluarganya mendukung dia untuk tetap tinggal di Indonesia.

"Orang tua saya bilang tetap di Indonesia. Saya ke sini untuk satu tujuan, yaitu belajar. Jadi apa pun situasinya harus tetap fokus melanjutkan studi," ujarnya.

Batal mudik juga dirasakan Mahasiswa asal Yaman lainnya, yakni Abdurrahman Khalid. Ia gagal mudik ke negaranya ketika libur Lebaran.

Khalid mengatakan, negaranya tidak terlibat konflik. Namun situasi Timur Tengah dirasa sangat berimbas pada stabilitas keamanan di negaranya.

"Selama masa perang ini, tiket untuk kembali ke negara saya naik sekitar tiga atau empat kali lipat. (Tak hanya negara Yaman) semua bandara mungkin bandara utama seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar, semuanya tutup karena perang melawan Iran dan tentu saja ada perang melawan negara-negara Teluk," katanya.

Khalid mengaku, bila sebenarnya dia bisa pulang ke keluarga besarnya di Jeddah, Arab Saudi. Tapi dia memilih tetap tinggal di Indonesia mengingat situasi yang belum stabil.

"Saat ini saya masih ada banyak kelas, saya tidak bisa pulang. Intinya ada banyak alasan yang melatarbelakanginya tak pulang, ada perang, harga tiket mahal dan durasi libur tidak panjang," pungkas mahasiswa jurusan Teknik Mesin di UMSURA itu.

Abdurrahman bersama Khusay dan beberapa mahasiswa asal Yaman serta negara Timur Tengah lainnya yang tinggal di asrama mahasiswa, akhirnya memilih untuk merayakan Idulfitri di Indonesia.




(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads